Nara merasa kepalanya pusing. Terlalu banyak menangis. Matanya perih. Apalagi ditambah tertiup angin dingin sehabis hujan.
"ra, jangan sedih lagi. Lo ganti baju, makan jangan lupa, langsung istirahat, tidur yang cukup. Jangan sampai sakit. Gue gak suka lo sakit, masalah tadi lupain aja, yang penting kesehatan lo. Habis ujan ujanan sambil nangis gak baik. Besok harus sekolah. Jangan sampai kesiangan-eh tapi bagus deh, biar kita dihukum berdua lagi kayak kemarin"
Nara mengangguk lemas. Bahkan tak kuat memikul tasnya di pundak. Dari lobby apartemen sampai di depan kamarnya, raya yang membawa tas berat miliknya. Bahkan seperti momable raya mebelikannya beberapa protein shake dan obat penurun panas serta kompres.
"yaudah ra, gue pulang. Met istirahat my future. Bayangin muka gue biar mimpi indah".
Nara tetap berdiri diam di depan pintu. Menatap ke arah raya yang sedang tersenyum.
"gue pergi dulu ya". pamit cowok itu, mengusap lembut kepala nara.
"eh? Apalagi?". Tanya raya bingung saat nara menarik tangannya.
Nara tersenyum tulus. Namun lagi lagi, setiap ia tersenyum air matanya kembali tergenang.
"makasih banyak ray, gue gak tau kalau lo gak datang tadi".
Raya menghela nafas pelan. Tersenyum kecil. Menggenggam tangan nara yang masih dingin.
"my pleasure. Masuk gih, ganti baju, makan".
Nara mengangguk. Ia masuk ke dalam kamarnya. Menghela nafas panjang. Tubuh nara merosot di lantai, bersandar pada pintu kayu jati hitamnya.
Cewek itu terisak. Air matanya jatuh terasa pedih. Ia meringis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dingin. Rasanya nara hampir gila. Kecewa, marah, takut, sakit, benci semuanya bercampur membuat nara bahkan gila sendiri membedakannya.
Nara menunduk meremas rambutnya frustasi. Ia fikir, andre benar benar lenyap. Ia fikir, andre tak lagi ingat padanya. Ia fikir, ia tak sepantasnya bertemu lagi dengan andre. Tapi semuanya terbalik. Andre justru datang, menerjang naya dengan kasar. Sama seperti andre yang dulu ia kenal.
Itu semua membuat nara merinding.
"ma-maaf kak".
Razita menundukkan kepalanya dalam dalam. Saat tak sengaja menumpahkan minuman di kertas pembahasan ulangan sekolah kakaknya. Sungguh, melihat wajah berang kakaknya dengan mata melotot dan rol besi di tangan membuat jantung razita berdegup 2x lebih cepat.
"kamu gimana sih?! Besok aku ulangan kertasnya basah semua gini gimana mau belajar?!" Bentak andre kalut. Ia benar benar emosian hari ini. Ulangan mendadak besok, orangtuanya yang marah karna ia belum belajar, ditambah pembantu yang baru ia tau adiknya ini berulah.
Satu tangan andre yang bebas menarik rambut kepang razita. Memukul kepala itu sekali dengan tangan kosong. Tapi tetap terasa amat sakit bagi razita. Ditambah luka dikepalanya masih basah terkena gasper sabuk tebal papanya kemarin.
Razita terisak. Tangannya terkepal menahan sakit dan ringisan agar tak terdengar kuat.
"nangis aja terus!! Kamu ganti rugi kertas aku sekarang!!"
Razita menatap polos ke arah kertas kakaknya yang basah diatas meja. Ia bingung, bagaimana caranya mengganti?
"Gak bisa kan? Makanya kalau tau gak bisa jangan di rusak!"
Plak
Plaaak
Razita terduduk di lantai. Saat andre memukul tubuh adiknya dengan rol besi kencang. Tak peduli dengan raungan minta ampun dari adiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ThirdLove [END]
Roman pour Adolescents-Resiko jatuh cinta ialah jatuh- Sama-sama dimulai dari masa lalu, Nara dan Raka bertemu. Mungkin bagi Raka, Nara memang seorang sahabatnya saja. Tapi bagi Nara, Raka berbeda. Laki-laki itu spesial. Kemudian saat mereka sama-sama beranjak dewasa...
![ThirdLove [END]](https://img.wattpad.com/cover/168549478-64-k419757.jpg)