Via membersihkan pakaiannya yang basah karena ulah soya, untung saja ada baju olahraga di lokernya. Via mendesah pelan, perasaannya lelah menghadapi masalah dihadapannya.sekarang via berada di atap sekolah tempat biasanya via bolos. Ingin rasanya berlari meninggalkan semua . Perlahan air mata via menetes, tangis nya pecah. Seseorang mendengarnya, tapi tidak berniat mengusik cewek itu, Ali. Ali hanya memandangnya dari jauh, Ali menyadari perubahan sikap via yang drastis semenjak statusnya diketahui semua orang. perasaan gengsi masih merasukinya. ali berjalan menuruni anak tangga sampai langkahnya terhenti saat melihat andrew yang sudah menunggunya turun, ali hanya cuek dan berusaha tidak peduli.
"mau sampai kapan rasa gengsi loe, loe pertahanin??"
"bukan urusan loe."
"sekalipun itu cewek yang loe suka?"
"jangan sok tahu."
"ternyata gengsi lebih besar daripada perasaan cinta."
"gue sama sekali gak ada perasaan apa-apa sama tuh cewek."
"hanya sebatas rekan kerja?atau masih mengharapkan yang lama buat kembali sementara loe tahu pasti kalau yang loe harapin udah sama yang lain?"
"loe terlalu banyak ngomong."
"setidaknya gue berani jujur kalau gue salah, dan loe mau sampai kapan gak jujur?"
"jujur mana yang loe maksud?jujur kalau loe berusaha kembali dapetin gita karena via suka orang lain?"
"setidaknya hari ini gue tahu, loe masih ingat tuh nama cewek yang loe suka."
"jangan usik gue ndrew, gue gak suka permainan bocah loe."
"permainan bocah yang buat loe sadar kalau loe ada rasa sama via."
ali berusaha menahan emosinya, bertengkar dengan andrew gak akan ada habisnya. selalu ada jawaban untuk setiap pertanyaannya, gak salah kalau mereka memenangkan kontrak kerja sama itu. andrew hanya tersenyum dan menepuk pundak ali, andrew sadar kalau sebentar lagi ali akan meledak jika dia tidak menghentikan perdebatan mereka. andrew meninggalkan ali yang masih diam ditempatnya.
via meraih tas nya, bel pulang sudah berbunyi dari satu jam yang lalu.kelas mulai tampak sepi karena via baru turun dari atap setidaknya bolos kali ini bisa menenangkan fikirannya. mata via menangkap sosok ali yang berjalan kearahnya, wajah penuh emosi.
kenapa nih cowok belum pulang??terus kenapa natap gue kayak gitu?ada masalah apalagi sih??
ali langsung menarik tangan via dengan kasar menuju kelas kosong di sebelah kanan via.
"lepasin gak!" via berusaha melepas genggaman tangan ali, ali semakin menariknya kuat membuat via kesakitan.
"loe gila ya?tangan gue sakit!lepasin atau gue ter..."
kata-kata via menggantung begitu saja saat bibir ali menempel dibibirnya, hati dan fikiran via kacau, disatu sisi via menyukainya dan membalas ciuman itu disi lain hatinya memberontak untuk sadar dan kembali kekenyataan. saat sadar dengan perlakuan ali, via berusaha melepas tangannya tapi ali semakin menariknya kepelukannya memisahkan jarak diantara mereka, membuat via sulit melepaskan diri. ali melepas ciumannya dan menarik via kepelukannya, memeluknya erat seakan-akan ali tidak mau melepaskannya.
"gue anterin loe pulang ya." ali melepas jaketnya dan meletakkannya dipundak via.
"gue bisa pulang sendiri."
"gak usah bandel, gue anterin."
"stop memperlakukan gue seakan-akan gue milik loe." via melepaskan jaket ali membuat ali kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia
DragosteGimana rasanya ketika loe gak punya salah, tapi loe menjadi sasaran setiap kemarahan dan kekesalan mereka?!gimana rasanya loe yang gak tau apa-apa menjadi bahan tertawaan mereka?! Loe yang hanya ingin hidup tenang,nyaman tapi semua dirusak hanya kar...
