*Debby's POV*
Aku membelalakan mataku begitu mendapati sosok yang benar-benar 'kuhindari' dua hari ini malah sekarang bediri tepat di depan mataku begitu dekat hingga aku bisa mencium jelas aroma maskulin tubuhnya yang sukses membuat tubuhku bergetar mati rasa, keringat bercucuran plus lidah terkunci tak bisa berkata
"Sejak kapan ruang kesehatan ada di bawah pohon akasia?"
aku hanya menunduk mendengar pertanyaan nan sarkatis itu, sebisa mungkin aku menghindari kontak mata dengan Justin dan tetap berdiam diri
"Hey aku bukan bicara pada pohon-pohon disini, aku tidak gila, aku bicara padamu."
Aku mati kutu seketika saat Justin menarik daguku menatap matanya
"Bicaralah..."
"Aku eng.... aku emm."
Sial! aku tergagap begini, aku tak tahu apa yang harus kubicarakan padanya lagipula aku masih marah padanya
"Maaf aku tak ingin bicara dulu denganmu."
aku berbalik dan melangkah menjauhi taman belakang Abraham mengabaikan tatapan tajam Justin yang serasa menembus punggung.
-
"Hei Yair."
Setelah bel pulang berdentang aku keluar dari ruang kesehatan yang secara harfiah sebenarnya aku numpang tidur disana, dan setelah bel berbunyi aku keluar dan mendapati Yair berdiri di depan ruang bercat putih ini.
"Do you feel better?"
"Yes, thanks."
"Siap untuk latihan drama?"
"Tentu."
aku dan Yair pun berjalan beriringan menuju ruang audiotorium untuk berlatih drama yang sebulan lagi akan kami pentaskan.
"Oh My..."
lirihku tercekat saat mataku menangkap siluet Justin di balik loker menatap tajam padaku dan Yair, kali ini tatapannya bukan hanya menembus punggung namun sukses menembus hati dan pikiran
"Kita belok Yair..."
"Lho tapi jalannya kan lurus.."
"Ahh.. berputar sedikit tidak apa kok."
aku terus menggandeng, ralat, menyeret tangan Yair membelok di pertigaan koridor menghindari orang itu, Justin Bieber.
-
Hoah.... hari ini latihan drama lumayan berat, entahlah aku sedang tak konsentrasi beberapa kali aku salah mengucap dialog tapi untungnya rekanku Yair, jadi dia dengan baik hati membimbingku untuk menjalani drama ini dengan baik,
"Aku duluan ya Debby, maaf tak bisa mengantarmu, mom meyuruhku segera pulang."
tahu-tahu Yair sudah muncul di depanku dengan menjinjing ransel hitamnya, aku tersenyum padanya dan menganguk
"Tak apa Yair, aku bisa sendiri."
Yair mengucap salam perpisahan dan dengan berat hati yang kentara di matanya berjalan mendahuluiku ke halaman depan.
Sekolah benar-benar sepi, tentu saja ini sudah pukul 05.00 PM dan tak ada ekskul lain kecuali drama di hari senin ini, pantas saja jika sekolah sudah sebelas dua belas dengan pemakaman, eh kenapa jadi memikirkan pemakaman? Huaaa aku takut
'kresek...kresek'
aku menajamkan telingaku begitu mendengar suara pergerakan ganjil di belakangku, apa itu? jangan-jangan?
KAMU SEDANG MEMBACA
My Arrogant Boyfriend
Teen Fictioncinta itu tidak memandang seberapa buruk pasangan kita, bukankah kekurangan dan kelebihan akan menjadi sempurna? WARNING!! THIS STORY IS BY NINDYA KARTIKA NOT BY ME
