*Debby's POV*
Oke ini memang menganggu, pagi-pagi baru sampai sekolah dan sedang berjalan di lorong menuju kelas matematikaku, aku sudah harus menghapalkan naskah drama Snow white yang akan di castingkan nanti siang, aku begitu semangat kali ini mengingat nanti Justin akan melihat casting dramaku, jika dilihat Justin begini tentu saja aku akan berusaha sebaik mungkin
"Aww..."
"Oh I'm sorry."
aku sukses terlempar ke lantai dengan bokong yang membentur keras keramik dingin ini, aku meringis sakit dan berdiri begitu seseorang menarikku bangun
"Oh Debby aku benar benar minta maaf, aku tak sengaja."
"Tak apa Yair."
aku tersenyum singkat dan mengernyitkan kening begitu mendapati Yair juga sama denganku, maksudku ia juga menggenggam naskah drama
"Kau juga sedang mengahafal?"
"Oh tentu, aku ingin peran utama, segala sesuatu yang kulakukan aku ingin yang terbaik dan kau tahu aku harap kau yang jadi peran utama wanitanya."
Yair tersenyum lebar dan sukses membuatku tersipu, ahh Yair selalu saja membuat wajahku rasanya memanas, Aku sudah siap membuka mulut saat mataku menangkap siluet Justin yang berjalan mendekat dari celah punggung Yair, aku buru-buru menjauh dari Yair dan menetralisir wajahku yang memerah
"Hei Just."
"Yair bukannya kau ada kelas Sejarah? Mr.Edward sudah datang sepuluh menit lalu"
sial! aku di abaikan, ia malah asyik bicara dengan Yair, Justin... Justin
"Benarkah Justin? Baiklah Debby sampai jumpa di casting nanti."
aku hanya menganguk dan tersenyum begitu Yair melambaikan tangan padaku.
"Dan kau cepet masuk kelas matematika."
perintah Justin menyebalkan, aku hanya bergumam panjang pendek memandang punggungnya yang berjalan di depanku. Pelajaran matematika hari ini sungguh membosankan, aku sendiri tak peduli dengan Mr.Harry yang menerangkan rumus induksi matematika di depan kelas, aku sendiri lebih tertarik mencuri pandang pada kertas naskah dramaku
"Jadi Nona Ryan silakhan kerjakan soal nomor tiga di depan."
"Hah?"
"Kerjakan soal nomor tiga Mrs.Ryan."
Mati aku! Tahu-tahu Mr.Harry sudah berdiri di depanku menyodorkan spidol, glek!
"Mmm....baiklah."
aku merutuki betapa bodohnya aku ini, huuu bagaimana nasibku ini! Mati aku mati!
"Eh?"
langkahku yang akan meuju depan kelas terhenti begitu sebuah buku bersampul coklat terlempar di dekat kakiku, aku menunduk dan membaca nama yang tertempal pada label di depan sampul, Justin Bieber, apa maksudnya?
"Silakhan Mrs.Ryan."
ugh! dasar guru sialan! Lain kali akan kukerjai dia dengan menaruh perman karet di bangkunya itu, aku maju ke whiteboard dan rasanya ingin pingsan ditempat
"Sst.."
Aku menoleh dan mendapati Justin yang duduk di deretan depan seperti memberi kode padaku, aku mengumankan apa dengan suara yang tercekat, Justin menunjuk bukunya yang kupegang dan pada saat itu juga aku teringat sesuatu, aku buka buku bersampul cokelat itu dan gotcha! Ada soal nomor tiga yang telah dikerjakan secara lengkap! Bagai diterangi lampu neon 1000 watt di atas kepalaku, dengan segera kusalin isi jawabannya di whiteboard dan tersenyum puas, Oh My God My Boyfriend save me! I will hug him later <3
KAMU SEDANG MEMBACA
My Arrogant Boyfriend
Novela Juvenilcinta itu tidak memandang seberapa buruk pasangan kita, bukankah kekurangan dan kelebihan akan menjadi sempurna? WARNING!! THIS STORY IS BY NINDYA KARTIKA NOT BY ME
