*Author's POV*
Debby melangkah riang menuju kelas fisikanya, sepanjang perjalanan gadis berambut coklat begelombang itu tak hentinya bersenandung ria menyuarakan hatinya yang berbunga bagai ditumbuhi ribuan cherry blossom disudut-sudutnya.
"Hey gadis manja."
sapaan itu membuat Debby menoleh dan menemukan sosok Zayn yang tengah bersandar di salah satu pilar tengah tersenyum padanya.
"Hey juga Zayn."
Debby membalas senyum Zayn, tak kalah manis dan mulai mendekati pria yang sudah di anggapnya kakak itu
"Aku punya hadiah untukmu."
"Woah benarkah?"
Debby memekik senang sambil melompat-lompat membuat Zayn tertawa geli
"Dan ini hadiahnya."
Zayn mengulurkan sebuah boneka teddy bear pink berukuran besar yang sedari tadi ia sembunyikan di balik punggung, Debby menatap berbinar benda besar berwarna pink itu
"Aww ini manis sekali, terimakasih Zayn."
Sadar atau tidak Debby berjinjit dan memeluk erat Zayn, pria berwajah timur itu awalnya kaget diperlakukan begini namun pelukan hangat Debby mengingatkannya pada Callie, perlahan tangan Zayn terulur membalas pelukan Debby erat
"Sama-sama Callie...."
lirih Zayn yang mungkin tak terdengar oleh Debby sendiri.
-
Justin tersenyum senang sambil memandang boneka teddy bear berwarna putih ditangannya, Debby pasti senang Justin memberinya hadiah boneka tedy bear putih lucu dengan seragam cheers merah yang melekat di tubuhnya, seperti Debby.
"Aww ini manis sekali terima kasih Zayn."
langkah Justin terhenti di depan lab sains, mata hazelnya membulat melihat pemandangan yang menyisakan nyeri dihatinya, ia tak bisa percaya ini. Justin tak ingin percaya pemandangan Debby memeluk pria lain! Justin merasa hatinya sakit, sangat sakit.... lebih sakit ketika nilainya turun, lebih perih ketika ia kalah bertanding basket.
Justin tersenyum nanar memandang boneka teddy bear jumbo ditangannya, pria itu melirik teddy bear mungilnya dan mendesah pelan, jelas sekali pemberian Zayn lebih berharga ketimbangnya
That should be me holding your hand
That should be me making you laugh
That should be me this is so sad
That should be me
That should be me
That should be me feeling your kiss
That should be me buying you gifts
This is so wrong
I can't go on
Till you believe
That that should be me
That should be me
Justin mendesah berat dan mulai melangkah menjauhi lab computer dimana di depan ruang itu ia harus menyaksikan pemandangan pilu yang menggoreskan luka dalam di hatinya. Namun langkah Justin terhenti saat cengkraman lembut menahan pergelangannya
"Justin?"
Debby tersenyum penuh pada Justin tapi pria itu malah memalingkan wajahnya dan pura-pura tak menyadari kehadiran Debby bahkan disentakannya cengkarman Debby dari tangannya.
"Justin kau kenapa?"
lirih Debby menatap nanar pada pacar pertamanya itu, bukannya menjawab, Justin malah mengedarkan pandangannya kemana saja asal tak menatap mata kecoklatkan Debby
"Aku? Kau tanya aku kenapa? Harusnya kau tanya dirimu sendiri! Kau yang kenapa bisa-bisanya berpelukan dengan pria lain."
Debby tersentak mendengar bentakan Justin, air mata mulai merebak di pelupuk matanya
KAMU SEDANG MEMBACA
My Arrogant Boyfriend
Teen Fictioncinta itu tidak memandang seberapa buruk pasangan kita, bukankah kekurangan dan kelebihan akan menjadi sempurna? WARNING!! THIS STORY IS BY NINDYA KARTIKA NOT BY ME
