*Author's POV*
Debby dan Justin sampai di taman komplek yang notabene juga tempat bersejarah dimana mereka akhirnya menjadi satu, ya ditempat inilah Justin menyatakan cintanya pada Debby yang sebenarnya saat-saat itu berjalan sama sekali tak ada romantis-romantisnya (ingat saat Justin nembak Debby? Go check MAB part 1)
Taman kala itu disulap begitu semarak dengan lampu-lampu berwarna cerah serta berbagai stand-stand menarik, dan yang tak kalah bianglala kecil ditengah taman yang menambah meriah night market itu, Debby dan Justin semakin memperat gengaman mereka di tengah keramain agar tak terpisah satu sama lain, diam-diam Debby tersenyum ketika Justin melingkarkan tangannya dipinggang Debby menghalau kerumunan yang saling dorong mendorong, Debby menikmati benar saat-saat di dekat Justin, bagaimana hangat genggamannya, bagaimana harum tubuhnya, Debby suka sekali dipeluk, apalagi oleh Justin
"Lihat ada stand permainan."
Justin pasrah saja ketika Debby menyeretnya ke salah satu stand yang menurut Justin tidak penting.
"Aku mau main."
seru Debby antusias, seorang penjaga stand wanita muda dengan mata biru cerahnya menganguk dan menyerahkan beberapa bola untuk Debby gunakan, melempar kaleng sasaran yang jika ia berhasil melakukannya gadis itu akan mendapat sebuah boneka beruang berukuran jumbo,
"Ini sangat mudah, aku pasti bisa."
"Mana mungkin bisa."
lirih Justin yang sayangnya terdengar oleh Debby, gadis itu langsung cemberut.
"Lihat saja aku pasti bisa, Mr.Know It All."
Debby mengambil ancang-ancang dan mulai melempar, bola pertamanya meleset terlalu jauh, bola kedua terlalu lemah lemparannya, dan sampai bola kelimapun lemparannya gagal, Debby mendesah kecewa sementara itu Justin menahan tawanya yang hampir meledak.
"Ayo Justin kita pergi."
"Bukannya kau sangat menginginkan boneka itu?"
"Sudahlah, tidak usah."
Debby berjalan mendahului sambil menunduk, Justin menghela nafas sebentar dan mulai menyusul Debby.
"Aaaa lihatlah itu lucu sekali."
Debby dengan semangat menarik Justin pada salah satu stand yang menjual berbagai bandana unik, Justin memutar mata hadzelnya jenuh, gadis ini baru sedetik lalu sedih sedetik kemudiannya sudah memekik senang, Debby Debby...
"Lihatlah Justin, apa ini terlihat cocok?"
Debby menunjukan bandana dengan telinga kucing yang ada di kepalanya, Justin memandangnya aneh dan bergumam malas-malasan
"Yayaya cocok sekali, kau memang seperti kucing, pemalas dan manja."
"Justin!"
hardik Debby merajuk, pria itu hanya berguman tak peduli dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling stand.
*Justin's POV*
Apa-apaan stand bodoh ini isinya berbagai barang-barang tak berguna, seperti bandana berbentuk telinga hewan, tanduk devil, dan berbagai barang childish lain. Kalau aku sampai matahari warna birupun tak sudi memakainya
"Hey Justin, lihat ini sangat cocok untukmu."
Debby dengan gerakan cepat memakaikan sebuah bandana tanduk devil padaku, hey apa-apaan gadis ini.
"Kalian sepasang kekasih ya? Wah kalian sangat cocok mengenakannya, mau berfoto? di sudut sana ada photobox."
seorang wanita berusia 30tahunan tahu-tahu sudah muncul di depan kami dengan cengiran anehnya, dan yang aku rutuki adalah kenapa ia harus menawarkan hal bodoh semacam itu? pada Debby pula
"Tidak terimakasih."
aku melepas tanduk devil itu dan menyerahkan paksa pada Debby, tapi coba tebak, argh...... dia memasang wajah memelas anehnya
"Justin aku mau berfoto denganmu mengenakan ini, please..."
"Percuma kau memasang wajah aneh itu, tak mempan untukku."
Debby membelalakan matanya dan memandangku begitu terluka, dan aku sekuat tenaga tak peduli hal itu
"Kau tega sekali padaku, aku akan menangis jika kau tak mau berfoto denganku."
"Lakukan saja."
ujarku menantang, Debby terlihat teramat terkejut dan kau tahu sedetik kemudian dia.....
"huaaaaa Justin jahat."
Dia menangis, bagus! Dan lebih hebatnya tangisannya itu membuat seluruh pengunjung stand melirik pada kami, great!
"Diamlah Debby, dewasalah sedikit, tak malu kau dilihat orang banyak?"
"Huaaa Justin jahat!"
Kenapa tangisannya bertambah keras? Dan para pengunjung bukan hanya melirik pada kami mereka mulai bergunjing
"Lihatlah malang sekali gadis itu..."
"Iya pacarnya kejam sekali.."
"Betul.."
sahut pengunjung lainnya, baiklah aku mulai risih di gunjingkan begini
"Oke aku menyerah nona Ryan, kau mau foto? Baiklah kita kesana."
Aku menarik Debby ke sudut photobox itu dan gadis ini memekik senang.
"Thanks Justin, kau yang terbaik."
Debby memelukku dari samping dan deg..... jantungku dua kali berdetak lebih kencang, sepertinya organ-organ di tubuhku mulai tak beres.
*Author's POV*
Justin pasrah saja ketika Debby menariknya kesana kemari, segala stand mereka kunjungi, stand permainan, baju, acessoris dan terakhir stand makanan yang menjual permen kapas.
"Sudah senang?"
tanya Justin yang di sambut anggukan semangat dari Debby, gadis itu terus tersenyum bahagia sambil mulai memakan permen kapas di tangannya.
"Ayo kita duduk dulu."
Justin menarik Debby duduk di rerumputan yang tak terlalu ramai, sedetik kemudian Debby sudah asyik mengoceh menceritakan berbagai hal dari mulai yang menarik sampai yang membosankan dan Justin mau tak mau harus mendengarkannya.
"Hei Justin lihatlah."
Debby mengarhakan telunjuknya pada langit-langit malam yang dihiasi warna -warni semarak kembang api, Justin dan Debby tertegun kagum melihatnya, Debby menyenderkan kepalanya di pundak Justin dan terus memandang semarak firework.
"Justin.."
"Hmm?"
"Terima kasih untuk hari ini."
ucap Debby malu-malu, saat wajah Justin yang menoleh sangat dekat dengan wajahnya, tiba-tiba saja gadis itu teringat pada pesan adiknya
"kalau Justin mulai mendekatkan wajahnya padamu kau hanya perlu menutup mata dan sedikit membuka bibirmu."
Debby mulai mengikuti saran Austin dengan memejamkan matanya dan membuka sedikit bibirnya, gadis itu menghela nafas panjang bersiap merasakan sensasi ciuman pertamanya, bukankah first kiss itu akan selalu terkenang seumur hidup?
"Sama-sama."
Justin tersenyum manis dan Debby mulai merasakan sesuatu yang lembut menyentuh.... dahinya, mungkin Justin tak mencium bibirnya seperti apa yang diharapkan gadis itu, namun Debby berani bertaruh malam indah ini tak akan pernah dilupakannya, seumur hidup.
I wanna save you
Wanna save your heart tonight
He'll only break ya
Leave you turn apart, oh
I can't be no superman,
But for you I'll be super human
I wanna save ya, save ya, save ya tonight
KAMU SEDANG MEMBACA
My Arrogant Boyfriend
Ficção Adolescentecinta itu tidak memandang seberapa buruk pasangan kita, bukankah kekurangan dan kelebihan akan menjadi sempurna? WARNING!! THIS STORY IS BY NINDYA KARTIKA NOT BY ME
