*Author's POV*
Jika mata dapat berbicara,
Ia akan berkata betapa indah sorot matamu yang tertangkap oleh retinaku
Jika kata hati dapat kuucapkan,
Kau tak akan pernah ragu, rasa yang tumbuh di hatiku.
Dan Jika waktu dapat kuulang maka biarkan aku memberi helain nafas untukmu Justin Bieber
-
Tangis kala itu menyeruak menggema di antara lorong bangunan bercat putih yang terlihat kelam dengan aura duka yang menyelimuti setiap sisinya, tangis Anne pecah di pelukan Frans suaminya, mata Austin memerah bibirnya tercekat ia terus menundukan kepala seolah tak ingin menatap dunia yang ia harap hanya bunga tidurnya.
Dibangku pojok, mata hazel itu menyorot perih, sinarnya menjadi kelam menggambarkan isi hatinya yang terongok luka. Jika bisa memilih, jika kuasa dunia ada di tangannya, Justin akan memutuskan menukar raganya dengan gadisnya, membiarkan ia yang merasa sakit membiarkan rohnya yang terombang-ambing di antara dua dunia dan membiarkan bayangan kematian di sekitar jiwanya, Tapi itu hanya jika... sebuah pengandaian palsu, sebatas angan-angan, nyatanya kuasa dunia bukan di tangannya, nyatanya gadisnya lah yang terbaring di ruang ICU dengan kematian yang membayangi jiwanya,
Justin tahu ia bodoh... ia yang salah, jika ia memperbaiki sikapnya, jika saja ia dapat menjelaskan terlebih dahulu pada Debby, gadis itu tak akan berlari... sampai sebuah mobil sedan terkutuk menghempaskan tubuh mungilnya ke jalanan aspal yang kini bersimpah darah. Seandainya hal buruk terjadi... Justin akan membunuh dirinya sendiri, ia yang salah... Ia yang menyebabkan semua ini, ia yang bodoh...
"Justin..."
Pattie menepuk pelan pundak anak semata wayangnya dan menemukan mata hazel itu sembab, Pattie ikut menangis membiarkan setiap tetes air mata turun dari mata hijau indahnya
"Semua salahku mom..."
lirih Justin nyaris tercekat, air mata kembali turun mengalir di pipinya, Pattie menatap putranya sendu, musibah ini bukan hanya memberi pukulan di jantung untuk keluarga Debby, Pattie juga terpukul.. Justin bahkan lebih lagi, ia yang menyaksikan semuanya, detik-detik ketika tubuh Debby terhempas, saat-saat terakhir mata itu menampilkan dua bola mata indahnya, Justinlah orang pertama yang melihatnya dan ia harap ia bukanlah yang terakhir... mata coklat itu harus kembali terbuka, mengerjap indah dengan sorot ceria yang bersinar, tubuh itu harus kembali bergerak menari dengan lincah, Suara itu harus kembali mengalun mendendangkan nada-nada indah penyejuk jiwa, Debby harus kembali! Atau luka hitam itu akan semakin dalam mengerogoti hati seorang Justin.
"Keluarga nona Ryan?"
Pintu ICU terbuka, diiringi sosok dokter berusia 35 tahunan dengan stetoskop di lehernya
"Ya dok."
Frans melepas pelukan istrinya, ditatapnya dokter itu cemas
"Silakhan ikut ke ruangan saya."
Dokter itu mengisyaratkan Frans mengikutinya ke sebuah ruangan kecil yang mana kantor pribadi dokter itu,
"Silakhan duduk."
Frans langsung duduk di kursi lipat di depan meja sang dokter dengan tatapan cemas yang kentara
"Bagaimana putri saya dok?"
tanya Frans tercekat, terdengar lelah.. bagiamana tidak? Baru satu jam lalu ia tiba di New York, Begitu mendengar putri sulungnya mengalami musibah Frans langsung meninggalkan pekerjaannya di Washington DC menempuh perjalanan panjang demi melihat putri kesayangannya.
"Benturannya cukup keras, itu tidak cukup baik."
Sang Dokter mengambil hasil rontgen yang tentu saja hanya bisa di baca orang-orang tertentu sepertinya, Walaupun tak bisa membaca hasil rontgennya Frans tahu betul hal tidak baik sedang berjalan, sorot mata sang dokter, penjelasannya cukup untuk menyimpulkan keadaan putrinya kini
KAMU SEDANG MEMBACA
My Arrogant Boyfriend
Teen Fictioncinta itu tidak memandang seberapa buruk pasangan kita, bukankah kekurangan dan kelebihan akan menjadi sempurna? WARNING!! THIS STORY IS BY NINDYA KARTIKA NOT BY ME
