Seventeen [LET GO]

2.9K 196 16
                                        

Yoongi menatap kertas ditangannya dengan pandangan kosong. Setumpuk pekerjaan ditambah pikirannya yang tengah berkecamuk dengan beberapa masalah membuat fokusnya hilang. Pemandangan dari balik jendela kaca itu jauh lebih menarik daripada duduk didepan komputer yang mampu menguras isi otaknya.

"Ada apa dengan wajahmu?"

Yoongi berbalik menatap pria yang selalu membuat emosinya naik akhir-akhir ini. Siapa lagi yang akan masuk keruangannya tanpa meminta izin bahkan suara pijakan kakinya saja tidak terdengar jika bukan Seokjin. Persis seperti hantu.

"Sejak kapan kau disini? Sudah seperti hantu saja datang tanpa diminta."

Seokjin berdecak kesal seraya menarik salah satu kursi diruangan itu.

"Sebentar. Mungkin sepuluh menit yang lalu dan mana ada hantu setampan diriku."

Niatnya hanya ingin menyapa sahabatnya itu yang terakhir kali ia lihat dalam keadaan mabuk. Namun melihat wajah kacau Yoongi membuatnya bertahan disana.

"Ada perlu apa kau kesini?"

"Kau masih kesal padaku? Ayolah, kita berteman sudah cukup lama dan kau pasti tahu bagaimana diriku sebenarnya."

Tatapan penuh kekesalan serta nada bicara Yoongi yang sedikit bercampur amarah menyadarkan Seokjin jika Yoongi masih menyimpan amarah padanya.

"Bukankah kau terlalu ikut campur masalah pribadiku? Apa kau pikir aku masih mempercayaimu?"

Seokjin sangat tahu akar permasalahan yang sedang dialami Yoongi bahkan ia sadar sepenuhnya bahwa dirinya juga turut andil dalam penyebab masalah itu.

"Aku tidak memintamu untuk percaya padaku. Aku hanya menunjukkan pada temanku apa yang harus dilakukan sebagai seorang pria."

Jika ditanya apakah Seokjin menyesal tentu saja ia akan mengatakan tidak karena ia yakin cepat atau lambat akan ada hati yang akan tersakiti.

Yoongi menatap deretan gedung dari balik jendela diruangannya. Rasanya ruangan itu begitu sesak karena arah pembicaraan Seokjin yang terlalu jauh.

Permintaan Sora untuk mengakhiri hubungan mereka dan perjanjian gila yang bahkan ia pun tidak menyangka akan mengatakannya malam itu. Perasaan dan situasi seperti apa yang sedang menjebaknya saat ini Yoongi pun tidak tahu.

"Kau selalu mengatakan bahwa diriku pengecut. Ya aku mengakuinya."

"Baguslah jika kau menyadarinya."

Yoongi berbalik menatap Seokjin dengan senyuman yang tentu saja disadari oleh Seokjin arti senyuman itu.

"Tapi, aku tidak lebih pengecut dari seseorang yang meninggalkan orang yang dicintainya demi sesuatu yang bahkan tidak bisa kuraba apa yang akan terjadi dimasa depan."

Seokjin ikut tertawa, satu yang ia tahu dari Yoongi. Pria itu yang selalu mengingatkannya pada masa lalu.

"Ah kau benar-benar membawa masa lalu lagi. Ya kuakui diriku juga seorang pengecut. Tapi setidaknya aku menyadarkanmu dari perasaan menyesal dan bagaimana buruknya seorang pengecut itu."

Seokjin merasa udara disekitar mereka sedikit memanas bahkan hatinya ikut memanas. Sebelum emosi mulai menguasai dirinya Seokjin menghampiri Yoongi dan tersenyum seraya menepuk pundaknya yang dibalas tatapan tidak suka.

"Sepertinya topik pembicaraan ini semakin jauh. Bagaimana jika kita keluar sebentar, es americano bisa menyegarkan pikiran."

"Kau orang yang paling hebat mengalihkan pembicaraan. Baiklah, lagipula aku tidak ingin menambah amarahku padamu. Sekarang saja tanganku rasanya gatal ingin memukulmu."

Let Go//MinYoongiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang