Bagian 25 : Darina?

25 3 0
                                    

Mengalah untuk orang lain bukan berarti sudah menyerah. Terkadang kita perlu melihat pada diri kita sendiri, apakah pantas atau tidak untuk berada di sampingnya.

-Karina Adiwinata

***

Karina sekarang berada di kediaman Alfian. Dia duduk di sofa putih panjang yang menghadap ke ruang makan. Alfian memintanya menunggu di sini. Dia pergi sebentar ke minimarket untuk membeli camilan. Ceu Endah tampak sibuk berkutat dengan peralatan dapur. Kasihan juga Karina melihatnya. Ceu Endah tampak kerepotan sekali. Wanita paruh baya itu sesekali bolak-balik dari kompor ke meja makan.

"Nuju ngadamel naon Ceu? (Sedang bikin apa teh/bi?)" tanya Karina dalam bahasa Sunda. Jangan salah, Karina lahir dan besar di kota ini. Bahkan saat SMA dulu ia pernah menjadi finalis Mojang Jajaka Jawa Barat dan masuk 5 besar. Maka tak heran, selain cantik, Karina juga punya banyak keterampilan. Salah satunya keterampilan berbahasa. Karina menguasai empat bahasa sekaligus, yakni Bahasa Sunda, Bahasa Indonesia, Jepang, dan Inggris.

"Ini neng Rina. Ceuceu teh ngadamel sayur capcai karesepna Jang Fian (ini Neng Rina. Saya sedang membuat sayur capcai kesukaannya Den Fian)."

Karina manggut-manggut.
Karina lalu membantu Ceu Endah menyiapkan makanan untuk makan siang Alfian. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang.

"Ceu, Kak Fian sejak kapan tinggal di sini?"

"Fian lahir dan besar di sini Neng. Orang tuanya juga kerja di sini. Dulu, ayahnya Fian itu kerja di Balai Penelitian Tanaman dan Hortikultura Lembang, ibunya kerja sebagai dosen Pendidikan Fisika di Universitas Pendidikan Indonesia. Jang Fian sendiri sekarang ngambil jurusan Kimia Organik di universitas. Benar-benar keluarga eksak menurut ceuceu mah,"

"Kalau ayahnya Alfian sekarang di mana Ceu? Kok Rina gak pernah lihat ya?"

Ceu Endah terdiam sesaat. Berat rasanya menceritakan semua ini.

"Yah begitulah. Ayahnya Jang Fian meninggal tujuh tahun lalu karena kecelakaan. Karena itulah Fian sama ibunya memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Rumah yang dulunya rame ini sekarang sepi banget Neng. Jarang banget mereka datang. Kecuali Fian, dia sering datang ke sini."

Karina kembali menganggukkan kepala. Dia ingat saat itu dia dan papanya juga pergi melayad ke sini. Hanya saja Alfian terlalu sibuk dengan perkabungan hingga dia tak melihat Karina.

"Oh iya Ceu. Rina mau nanya nih, Kak Fian beneran ya pernah ikutan seleksi timnas basket?"

"Iya Neng. Fian itu terobsesi banget sama basket. Fian bahkan ikut klub Garuda Bandung. Tapi ya gitu Neng, sejak kematian ayahnya, Fian jadi jarang gabung ke klub."

"Satu lagi Ceu. Itu foto perempuan yang ada di atas bupet depan sana siapa ya? Cantik banget. Adiknya Kak Fian?"

"Bukan Neng. Fian itu anak tunggal. Dan orang di foto itu namanya Darina Larasati. Dia itu sahabatnya Fian dari kecil. Dia itu adalah alasan kenapa Fian suka sama basket."

Karina mengernyitkan dahi. Darina? Alasan Fian suka basket? Kenapa?

"Maksudnya Ceu?"

"Jadi gini Neng. Darina itu adalah anak dari seorang mantan kapten timnas basket nasional. Dan Darina juga digembleng oleh ayahnya supaya menjadi pemain nasional juga. Mungkin karena memang punya bakat, sejak SMP Darina sudah bergabung dengan klub nasional. Fian waktu itu suka sama Darina."

Ceu Endah menjeda sejenak.

"Tapi ayahnya Darina ngelarang dia. Dia bilang yang boleh pacaran sama Darina cuma orang yang punya skill basket mumpuni. Sedangkan waktu itu Jang Fian gak bisa apa-apa. Alfian waktu itu terpuruk banget Neng."

"Sejak itulah Fian mati-matian belajar basket demi mengejar cintanya sama Darina. Dia rela pulang malam dan nguras tenaga supaya dia bisa punya skill basket mumpuni. Ke sana ke mari nyari guru dan pelatih. Tapi gak ada yang serius. Dan saat Alfian punya skill itu, Darina pindah ke Singapura dan ikut menjadi pemain di klub sana. Fian terpuruk lagi deh."

Miris memang. Berjuang mati-matian demi ngejar cinta, pada akhirnya hanya berujung kecewa. Mungkin Darina bukanlah takdirnya.

"Sampai suatu hari Jang Fian ketemu sama seseorang. Orang itu bilang sama dia, kalo basket itu bukan cuma sekadar permainan. Orang itu juga bilang kalo semua yang dilakuin Fian itu salah. Kalau basket hanya dijadikan sarana ngerjar cinta dan bukan cita-cita, itu gak akan berguna. Karena basket juga butuh cinta. Sejak itulah Fian bangkit hingga seperti sekarang ini Neng."

"Neng Rina sendiri katanya suka basket, bener Neng?"

"Hehe, iya Ceu. Papa Rina dulu juga mantan pemain basket."

"Wah, kalo gitu kenapa gak Neng aja ya yang ngisi posisinya Darina. Kan Neng mah baik, sopan, cantik lagi. Terus keluarga Neng juga gak sombong kayak keluarganya Darina."

"Ihhh ceuceu mah. Gak boleh gitu Ceu, dosa lho!"

"Hehe, iya Neng maaf maaf."

Jadi inikah alasan Alfian selama ini? Sebegitu berartinyakah Darina di hidupnya hingga ia rela mati-matian belajar dari nol sampai bisa seperti sekarang? Sungguh beruntung sekali perempuan itu.

Karina rasa tidak ada gunanya lagi dia di sini. Semuanya sudah jelas. Alfian tak perlu menjelaskan apapun lagi padanya. Alfian pantas bahagia. Dia harus mengejar cintanya Darina kembali. Harus. Karena setiap perjuangan yang ia lakukan harus dibalas dengan kadar yang sama. Meskipun rasanya tak rela, tapi Alfian sudah cukup menderita selama ini. Alfian harus bersama Darina. Meskipun Karina harus merasakan sakit dan kehilangan lagi, tak apa. Ia tak mau Alfian terikat apapun dengannya jika ikatan itu menyakiti Alfian dan menghalangi cintanya pada Darina.

"Emm.. Ceu, Rina pulang dulu ya."

"Euleuh-euleuh, kenapa atuh Neng? Kan Fiannya juga belum pulang, masak udah mau pergi aja?"

"Anu.. Lagi ada urusan, hehe. Bilangin aja ke Kak Fian kalo Karina ada urusan mendadak."

"Eh, yaudah atuh hati-hati. Padahal ceuceu masih pengen cerita ini teh,"

"Hehe, lain kali deh Ceu."

📖📖📖

Alfian mengernyitkan kening mendapatai Karina tak ada di sini. Padahal beberapa saat yang lalu dia sedang asyik duduk di sofa ini. Apa Alfian meninggalkannya terlalu lama hingga dia kesal dan pergi begitu saja? Ah, tidak mungkin. Karina bukan orang seperti itu.

"Karina ke mana Ceu? Kok gak ada di sini?"

"Oh  itu. Neng Rina tadi izin pulang duluan. Katanya ada urusan mendadak gitu,"

Alfian manggut-manggut. Tak biasanya dia pergi seperti ini. Bahkan Alfian belum menjelaskan apapun. Gadis itu memang aneh.

"Jang Fian kapan pulang ke Jakarta?"

"Hmm.. Mungkin besok lusa Ceu. Fian masih ingin liburan di sini."

***

Aduh itu Karina salah paham gitu gengs, gimana dong. Kak Fian gak peka banget deh ah😢

Ceu/ceuceu : Panggilan kepada wanita yang lebih tua di Sunda, biasanya dipakai sebagai pengganti "mbak" atau "teteh" atau "kakak"

Jang/ujang : Panggilan kepada seorang laki-laki yang lebih muda atau seumuran, bisa juga berarti pengganti kata Aden.

Jangan lupa tinggalkan jejak✌

THANKS😘

THE AFFORDABLE HEART (SERI 1) (TAMAT✔✅)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang