"Milikku ya milikku. Milikmu ya milikmu. Milikku bukan milikmu, milikmu juga bukan milikku."
-Alfian Mahendra
***
Pertengahan bulan Maret ini, LIMA atau Liga Mahasiswa akan diadakan. Semua persiapan sudah dilakukan. Liga bergengsi itu akan menjadi ajang adu bakat dan kemampuan. Bagi mahasiswa yang berbakat, ajang ini merupakan momen yang pas untuk unjuk kemampuan basketnya.
Tim kampus Karina juga sudah mempersiapkan segalanya. Mereka sudah menyiapkan tim terbaik hasil seleksi. Mereka yang sudah digembleng habis-habisan selama beberapa bulan ini akan mempertanggungjawabkan semuanya, menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Pendaftaran yang sudah dilakukan beberapa minggu lalu sudah ditutup. Technical meeting juga sudah dilakukan.
Hari Minggu ini adalah hari terakhir mereka latihan. Karina dan yang lainnya sudah berkumpul di GOR kampus. Begitu pula Alfian. Sedari tadi dia duduk di dekat Karina, seperti lem yang menempel kuat. Beberapa orang tampak risih melihatnya. Karina sendiri pun sedari tadi terus memasang muka masam. Alfian tidak mau beranjak dari duduknya. Senyum khasnya menghiasi GOR pagi itu.
Rencananya, hari ini mereka hanya akan melakukan latihan ringan atau conditioning. Sekadar latihan men-drible, shutting, atau memantapkan formasi dan posisi. Sang pelatih baru saja tiba.
"Kevin!" Alfian berteriak memanggil Kevin. Merasa ada yang memanggil, Kevin mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Kenapa?"
Alfian berjalan ke arahnya. Lalu mengajaknya berbicara sebentar, kemudian pergi ke belakang GOR.
"Bagaimana dengan rencana kita?" tanya Alfian.
"Beres. Lo tenang aja, gue udah siapin segalanya."
"Syukurlah. Semoga berhasil."
"Lo tenang aja. Kita fokus ke LIMA aja dulu. Menangin dulu pertandingan."
Alfian menghela napas. Sedikit tenang memang karena rencananya sudah berjalan dan sudah siap dilakukan. Tinggal menunggu saat yang tepat. Alfian berharap rencana ini akan membuat Karina bahagia. Semoga dengan rencana ini, janjinya pada orang yang berjasa dalam hidupnya bisa tertunaikan.
Setelah berbincang, ia kembali ke GOR. Pelatih sudah berada di lapangan dikerumuni para pemain. Seperti biasa, Alfian juga meleburkan diri bersama mereka.
"Persiapannya sudah berapa persen Karin?" tanya Viona. Dia baru saja datang dan langsung mengunjungi sahabatnya sekaligus menunggui kekasihnya.
"Ya sekitar 99% lah. Kita sudah berusaha selama ini, semoga di pertandingan nanti kita bisa menampilkan yang terbaik." ujar Karina penuh harap. Dia memang sangat berharap banyak pada ajang ini. Apalagi ini adalah pertandingan perdananya di jenjang perkuliahan. Terakhir kali dia bertanding adalah saat SMA kelas sebelas. Itu pun karena dia dipaksa bergabung oleh tim sekolahnya.
"Semoga aja. Gue juga berharap banyak sama pertandingan ini, karena ini juga pertandingan Kak Kevin."
"Pertandingan terakhir Kak Fian juga."
Memang Alfian keras kepala. Karina sudah menyuruhnya berhenti, tapi tetap ingin ikut. Apalah daya, Karina tidak bisa menentang lagi ketika Alfian memberi alasan bahwa ini momen terakhir dia di kampus.
📖📖📖
Minggu kedua bulan Maret, LIMA dimulai. Setelah opening, acara dilanjutkan dengan pertandingan perdana antara Universitas Indonesia dengan Universitas Parahyangan. Karina anteng menonton mereka. Di kuarter pertama, Universitas Indonesia memimpin pertandingan dengan skor 43-25.

KAMU SEDANG MEMBACA
THE AFFORDABLE HEART (SERI 1) (TAMAT✔✅)
Ficción GeneralHadirmu adalah anugerah terindah bagiku. Kau seolah-olah terlahir sebagai pengganti atas bagian dari jiwaku yang telah lama hilang. Aku selalu berpikir, mungkinkah kau adalah malaikat tanpa sayap yang dikirimkan Allah untuk menjagaku? "Kau mau menun...