Kita yang baru 3

19.4K 395 2
                                        

Ayana menatap Dimas yang berada di sampingnya, ia teringat apa yang ia lakukan siang tadi.  Ayana hanya berjalan-jalan tanpa tau arah dan tujuan. Pikirannya dipenuhi banyak sekali pertanyaan dengan hati yang kecewa.  Ayana berjalan kaki menyusuri tiap inci dari bangunan apartemennya, ia bahkan menggunakan tangga saat turun dari tempatnya berada.

Setiap anak tangga ia pijak dengan perasaan mengambang. Ayana bahkan tak merasakan lelahnya kaki untuk melangkah lebih jauh lagi.

"Kamu baik-baik aja?" tanya Dimas dengan raut wajah khawatir.

Ayana memalingkan pandangan, "Ya" sahutnya singkat.

Dimas masih menatap Ayana, "Aku minta maaf" tutur Dimas.

Ayana bangkit dan duduk, "Buat apa?" tanya Ayana.

"Bikin kamu tertekan" jelasnya.

Ayana memalingkan wajah sembari memegangi bantal dipangkuannya. "Maaf,  tapi sayangnya bukan kamu yang ada dikepala aku sampe bikin aku kayak gini" tandas Ayana datar.

Ayana hanya kecewa pada sikap Dimas bukan karena dia mulai menyukainya lebih kepada sikap hangat yang sebelumnya Dimas berikan.

Dimas,  Ryan, dan pernikahan paksa ini semua berada dalam pikiran Ayana.  Hari-harinya dipenuhi dengan beban pikiran yang begitu berat.

Ponsel Dimas berdering,  ayana melirik ke arah ponsel yang diletakan tepat di sampingnya.  Manda.  Ayana bisa membaca nama itu dengan jelas.

Dimas mengambil ponselnya dan melirik ke arah Ayana.

"Angkat aja" kata Ayana sembari merebahkan tubuh lagi,  "Aku mau tidur" lanjutnya memalingkan badan dari Dimas.

Dimas menghela napas sedikit sebelum ia bangkit dan menjawab telepon dari Manda.

"Iya" kata Dimas.

Ayana diam-diam mendengarkan obrolan Dimas.

"Sekarang?.... Tapi....Oke-oke aku kesana" sahut Dimas kemudian bergegas meninggalkan Ayana.

Ayana menangis, ia tak tahu apalagi yang barus ia pertahankan dari pernikahannya ini. Ia benar-benar tak ingin menjalani kehidupan seperti ini.

*****

Seminggu berlalu, Dimas memaksa Ayana resign dari kantornya dan Ayana tak bisa menolak.  Dimas tak ingin istrinya bekerja terlalu keras hingga terkesan tidak ia nafkahi.

"Aku mau pulang" tutur Ayana saat mereka berada di ruang tv.

Dimas menoleh,"Ke..." Ayana belum sempat melanjutkan ucapannya namun Dimas lagi-lagi mengangkat ponselnya dan mengisyaratkan Ayana untuk menunggunya selesai bicara di ponsel.

"Jam 9 nanti?... Iya...  Oh,  enggak aku libur.....  Ya udah nanti aku jemput kamu jam 9" ucap Dimas sembari melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 8 pagi.

Ayana mendengus kesal, ia berdiri dari tempat duduknya dan segera menuju ke kamar untuk mengambil tas kecilnya.

Dimas mengikuti Ayana masuk ke kamar, "Ka.." tak sempat ia utarakan maksudnya,  Ayana pergi mengabaikan keberadaan Dimas.

"Tunggu" pinta Dimas namun Ayana terus berjalan.

Dimas mencegat tangan Ayana, "Kamu mau kemana?" tanya Dimas.

Ayana mengibaskan tangan Dimas sembari tertunduk, "Ke rumah Mama" sahutnya datar.

Dimas menatap raut wajah Ayana lekat, "Aku antar" usulnya.

Ayana balik menatap wajah Dimas, "Aku bisa sendiri!" tegas Ayana.

Dimas kembali menghalangi kepergian Ayana. "Aku antar" ungkap Dimas.

UNFORGETTABLE WEDDING (DIPAKSA MENIKAH ganti Judul) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang