Disclaimer : part ini pendek banget. Maaf ya mengecewakan. Aku lagi buntu banget tapi mau tetep update. Butuh liburan biar fresh tapi lagi lockdown wkwkwk. Kalian juga dirumah aja ya sambil baca funny couple biar gak bosen. Bantu kasih masukan ya di funny couple itu cerita genre komedi.
Dimas terus menatap istrinya yang terus terlihat uring-uringan. Raut wajahnya tampak kesal namun tetap cantik.
Dilihatnya Ayana tak menyentuh apapun yang berada diatas meja. "Kamu kenapa sih?" Tanya Dimas.
Ayana diam.
"Katanya laper." Ucap Dimas.
Ayana menatapnya tajam, "Kamu punya kewenangan PHK karyawan gak sih?"
Ditekuknya dahi Dimas, "Kenapa?"
"Aku gak suka sama yang tadi." Cetusnya.
Dengan tampang tak bersalah, "Yang tadi apa?" Tanya Dimas.
Ayana mendengus kesal, " Tau ah. Gak paham-paham, heran."
Dilihatnya Ayana dengan wajah cemberut, Dimas menyunggingkan senyum, "Aku gak bakal tergoda."
"Kucing mana yang gak akan tergoda disuguhi ikan di depan mata." Ujar Ayana.
"Sekarang aku makan whiskas, ikan teri bukan lagi seleraku." Tutur Dimas. "Aku punya komitmen, aku ini laki-laki. Bukan laki-laki namanya kalau aku gak bisa jaga kamu sebagai komitmen aku."
Ayana Diam, diteguknya air yang ada dihadapannya. Raut wajahnya masih sedikit kesal tapi sikapnya tampak sedikit lebih tenang.
"Udah, makan dulu." Ucap Dimas.
Ayana menatap nya hendak menjawab ucapan Dimas, "Jangan bilang gak laper. Marah itu menguras energi." Ucap Dimas sebelum Ayana membuka mulut.
"Iya-iya."
*****
Sekitar pukul 7 malam Ayana keluar apartemen. Ia berjalan jalan sendirian sembari menunggu suaminya. Pulang.
"Aya!" Sapa seorang lelaki yang suaranya sangat ia kenal.
Mata Ayana tertuju pada pemilik suara itu. Jantungnya berdegup lebih cepat. Melihatnya membuat perasaan Ayana mencelos tak karuan. Seperti ingin berteriak tapi tertahan.
"Kamu sedang apa di sini?" Tanya lelaki itu.
Ayana masih mematung menatap lekat lelaki yang ada di hadapannya.
Apakah perasaan itu masih ada?
"Aya?" Lelaki itu memincingkan matanya, memastikan lawan bicaranya baik-baik saja.
"Ah, iya." Ucap Ayana sedikit gelagapan.
Lelaki itu tersenyum "Kamu ngapain di sini?" Ulangnya.
Ayana membuang wajah, mengalihkan pandangan pada objek lain. " A aku di sini" katanya terbata.
"Iya kamu di sini, kamu sedang apa? Kamu sehat kan?"
Ayana menghela napas, berusaha mengendalikan dirinya. "Aku baik-baik aja. Aku menunggu Dimas." Katanya sesekali melirik wajah itu.
"Ryaaannnnn!" Seseorang memanggil lelaki yang sedang berbincang dengan Ayana.
Tania. Dia mendekat dengan senyum sumringah. "Sudah lama?" Tanya Tania.
"Gak terlalu lama." Jawab Ryan.
Tania memegang lengan Ryan sembari sedikit bergelayut. Matanya melirik Ayana sinis.
"Tas aku mana? Ambilin dong." Ucap Tania.
"Oke, sebentar."
Ryan berlalu meninggalkan Ayana dan Tania berdua.
"Kamu ngapain?" Tanya Tania ketus.
"Aku lagi berdiri. Kamu gak liat?"
Tania tampak tak senang dengan jawaban Ayana, "Hei! Kamu ini sudah bersuami masih saja menggoda lelaki orang."
Perasaan Ayana sangat kacau saat ini. Ia marah sekaligus sakit. "Yang sopan ya kalau ngomong."
Tania menyunggingkan senyum sinis, " Kau ini jalang, tau?! Bisa-bisanya wanita jalang ini menjadi saudaraku."
"Tania, jaga ucapanmu!"
Ayana merasa sangat kesal.
"Kamu memang jalang," Tania menunjuk lurus Ayana dengan telunjuknya tepat di depan wajah Ayana. "Harusnya Manda bukan kamu yang jadi istri Dimas. Bisa bisanya kamu merayu Dimas."
Ayana menepis tangan Tania dari hadapannya dengan penuh tenaga.
"Aww..." Keluh Tania sedikit berteriak.
"Ada apa?!" Ryan menghampiri mereka. Ia melihat Ayana menepis tangan Tania.
"Sakit." Ucap Tania. "Mantan kamu kasar banget, padahal aku cuman bilang dia beruntung dapetin Dimas." Ucap Tania bohong.
Ayana berdecak kesal, "Shit!" Umpatnya meninggalkan mereka berdua.
Ayana kesal sangat kesal, ia marah sekaligus kecewa. Keadaan tak lagi sama. Ryan bukan lagi ada pada pihaknya.
Ayana kembali ke apartemen dengan sangat kesal. Ia duduk di depan meja rias dengan wajah datar.
Apa aku masih memiliki perasaan padanya? Pertanyaan itu terus terngiang di benaknya. Ia tidak tau kenapa rasanya sangat sesak begitu melihat Ryan. Ia tidak mengerti bagaimana bisa hatinya tak karuan hanya karena pertemuan singkat itu. Hidupnya selama berbulan-bulan tampanya baik-baik saja bahkan terasa lebih baik akhir - akhir ini tapi bagaimana bisa hatinya tetap sakit hanya karena melihatnya?
Dan lagi yang sekarang berada dipikiran Ayana, Kenapa ia harus menjadi saudara Tania? Kenapa Tania harus menjadi sepupu Dimas sekaligus kekasih Ryan.
Bad day ever!
*****
Komen dan vote dari kalian yang bikin aku semangat lanjutin cerita ini. Terimakasih teman-teman.
Kalau mau ngasih kritik dan saran aku sangat amat memepersilahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNFORGETTABLE WEDDING (DIPAKSA MENIKAH ganti Judul)
Romance#21+ (Wajar) Bagaimana jika aku mencintai kekasihku tapi aku harus menikah dengan kekasih orang lain? Bagaimana jika aku tak menyukai pernikahan ini? Menikah muda dan bahagia adalah dua kata berbeda. Pernikahanku justru merenggut segalanya, ia me...
