Malam hari setelah acara, termasuk hiburan menemani para tamu selesai sekitar pukul 2 dini hari. Sudah tidak tidak bisa lagi disebut sebagai malam. Ayana sangat amat lelah di tambah wajahnya yang terasa berat di tumpuk berbagai make up dan segala perintilan di kepala yang membuatnya ingin tumbang. Berkali-kali Ayana menguap tanpa di sadari oleh Dimas. Sementara Dimas merasa entah bagaimana. Dingin dan datar tanpa ada pancaran aura kebahagiaan sedikitpun.
Dimas membereskan pakaiannya di ruang tamu kemudian mengambil kunci mobil hendak pulang kerumah. "Mau kemana kamu?" tanya Mamanya.
"Pulang, Ngantuk"
"Ngantuk ya tidur. Kamu kan sudah nikah. Tidurnya sama Aya di kamar sana" tukasnya.
Dimas beku tak menjawab. Papanya ikut masuk dan duduk di ruang tamu menghempaskan pantat di atas sofa cokelat muda yang empuk itu.
"Mau papa kasih resep ndak?" tanya papanya.
Dimas tersenyum kecut, "Ah papa"
"Ya kalo ndak mau, sudah sana masuk" tutur papanya.
Kedua orang tuanya duduk di ruang tamu sembari mengamati para pekerja membereskan segala peritilan termasuk menyiapkan kamar-kamar tamu untuk keluarga mempelai laki-laki. Dimas masih diam tak bergerak.
"Yowis sini, mama ketukin pintunya" Mama Dimas menyeret tangannya ke depan pintu kamar Ayana.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk.. " teriak Ayana dari dalam.
Klik. Mamanya membuka pintu.
"Ini lho suamimu mu. Masih malu" Mama Dimas membuka pintu dan menyuruh dimas masuk. "Gih sana"
Dimas hanya menuruti perintah mamanya dan kemudian masuk. "Mama tinggal yo. Jangan lupa. Kunci pintunya"
Dimas dan Ayana hanya mengiyakan sembari tersenyum kecut.
Ayana tampak selesai mandi dan membersihkan make up di depan cermin. Dimas mematung di depan pintu. "Masuk aja" kata Ayana berat.
Dimas melangkah dan duduk di atas ranjang mengamati istrinya yang belum ia kenali. Cantik, batin Dimas.
Ayana membalikkan badan ke arah Dimas. Posisi mereka berhadap-hadapan. Ia tidak tau harus bersikap bagaimana tapi kekakuan ini membuatnya tak nyaman.
"Aku sama sekali gak suka kamu" tutur Ayana tiba-tiba.
Dimas tersenyum tipis, "Aku tau" Dimas mengingat kejadian itu, saat Ayana menatap lekat seorang lelaki yang disebutnya sebagai Ryan dan ambruk di pelukannya sembari menangis yang hampir membuat bulu matanya lepas.
"Aku gak mau tidur seranjang" tegas Ayana.
Dimas sedikit kaget tapi dia tak begitu pusing akan hal ini. Dia memang tidak menginginkan "itu".
"Ya baik" Jawabnya.
"Sebaiknya pikirkan tentang membeli rumah atau apartemen jika kita harus tinggal bersama" ujar Ayana, ia melihat Dimas mengerutkan alis, "Tentu saja agar kita bisa tidur di kamar masing-masing" lanjutnya.
"Aku punya Apartemen" tukas Dimas datar.
"Bagus" Ayana tersenyum kecut.
Ia kemudian berdiri dan mengambil kasur di bawah kolong ranjangnya yang biasa digunakan jika ada teman dekat menginap dan menariknya agak jauh dari Ranjangnya. "Jangan dekat-dekat" ujar Ayana.
Dimas kemudian mengangguk dan berpindah tempat ke bawah ranjang Ayana. Ia duduk dan kemudian merasa sedikit lengket pada tubuhnya. "Boleh aku mandi?" tanya Dimas.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNFORGETTABLE WEDDING (DIPAKSA MENIKAH ganti Judul)
عاطفية#21+ (Wajar) Bagaimana jika aku mencintai kekasihku tapi aku harus menikah dengan kekasih orang lain? Bagaimana jika aku tak menyukai pernikahan ini? Menikah muda dan bahagia adalah dua kata berbeda. Pernikahanku justru merenggut segalanya, ia me...
