Ayana menunggu Dimas namun tak kunjung datang. Ponsel yang semulanya aktif kini sudah tidak dapat di hubungi lagi. Kamarnya terasa kosong ditambah bi Ina yang tak tidur di sana membuat suasana semakin sepi.
Ayana menyalakan tv berusaha menghilangkan bosan namun tetap saja terasa kosong. Matanya sulit terpejam meskipun badannya sudah terasa lelah.
Sekitar pukul setengah 3 pagi Ayana mendengar pintu kamarnya terbuka, ia langsung membuka mata dan melihat Dimas di ambang pintu.
Dimas tersenyum sinis, "Aku membangunkanmu?" tanya Dimas.
Ayana menggeleng sembari menopang tubuhnya pada sandaran ranjang.
Sedetik kemudian raut wajah Dimas berubah jadi masam. Sorot matanya menatap Ayana tajam dengan langkah kaki tertuju pada Ayana. Dimas menghela napas dengan wajah kesal, "Kenapa kamu menelponku berkali-kali?!" tanya Dimas dengan nada tinggi yang baru pertama kali di dengar Ayana.
Dengan badan yang ditegakkan Ayana menatap takut Dimas, "Maaf" ucapnya dengan nada takut sekaligus bingung.
Dimas menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya kemudian mengibaskan tangannya, "Kamu menggangguku!"
Ayana mendengus tak terima, "Aku hanya khawatir kamu tak kunjung pulang!" teriaknya tak mau kalah.
Ayana bangkit dan berdiri tepat di hadapan Dimas, "Memangnya apa yang kamu lakukan? Kegiatanmu yang mana yang aku ganggu? Siapa yang merasa terusik?" cerca Ayana.
Dimas masih menatapnya kesal, "Sudah kubilang, aku pergi sebentar!" ucapnya, "Kamu menelpon diwaktu yang salah!" katanya lagi.
Ayana mengamati kerah baju Dimas yang tak serapih biasanya, "Apa yang kamu lakukan diluar?" tanya Ayana menurunkan nada bicaranya.
Dimas mendengus, "Kamu gak perlu tau. Lain kali jangan campuri urusanku!" Ancamnya membalikan badan.
Ayana berjalan menyusul Dimas dan berhenti di hadapannya, "Urusan yang mana yang aku campuri? Aku hanya menelponmu!"
"Dering ponsel yang dikeluarkan ponselku akibat ulahmu itu benar-benar menggangguku"
"Apa salahnya menjawab lalu katakan padaku untuk tidak meneleponmu dulu?"
"Itu bukan waktu yang tepat untuk menjawab panggilan"
Ayana benar-benar tak mengerti, kenapa Dimas tiba-tiba berubah total? Ayana tak melakukan kesalahan apapun selain menelponnya.
"Mulai hari ini aku tidak akan pernah menghubungimu lagi, apapun yang terjadi" tandasnya sambil lalu.
Ayana keluar kamar dan meneguk segelas air di dapur. Ia menaruh gelas itu dengan tenaga ekstra dan menghasilkan suara keras yang terdengar jelas di telinga Dimas. Ayana duduk di dapur dan berusaha meredam emosi, ia melihat suaminya berganti pakaian dari celah pintu yang sedikit terbuka.
*****
Dimas berusaha menyembunyikan kekesalannya namun tak bisa, pikirannya mengambang antara senang dan sedih. Ayana bisa menghubunginya kapan saja tapi dering telpon yang terus berbunyi semalam membuatnya terganggu. Ayana jelas beberapa kali menghambat kegiatannya.
Dimas duduk di sofa kamar sembari menyalakan tv. Ia merasa bersalah karena merasa terlalu berlebihan pada Ayana. Dimas merasa tak seharusnya ia melakukan itu. Dimas menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ia memejamkan mata dan membiarkan suara tv mengisi seluruh ruangan.
Ponsel Dimas bergetar tepat saat Ayana memasuki kamar. Dimas merabah-rabah tempat duduk sampingnya mencari ponsel dengan mata tertutup. Dimas melihat sebuah pesan masuk saat ponselnya berhasil ia raih. Bibirnya terangkat menyunggingkan senyum membaca pesan masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNFORGETTABLE WEDDING (DIPAKSA MENIKAH ganti Judul)
Romance#21+ (Wajar) Bagaimana jika aku mencintai kekasihku tapi aku harus menikah dengan kekasih orang lain? Bagaimana jika aku tak menyukai pernikahan ini? Menikah muda dan bahagia adalah dua kata berbeda. Pernikahanku justru merenggut segalanya, ia me...
