Parasit 2

12.6K 262 20
                                        

Sekitar pukul 5 sore Dimas baru selesai meeting dengan Manda beserta rekan kerja lainnya. Schedule hari ini tidak sepadat kemarin karena penundaan meeting kantor saat Ayana datang.

Dimas, Ayu, Atikah, Dion dan Bayu sedang bersantai di ruang rapat devisi. Mereka berbincang ringan sembari sesekali melempar candaan.

"Yu, ke guardian yuk? Lipstik gue habis." Ajak Atikah disela obrolan mereka.

Ayu tak menjawab. Matanya tertuju pada pintu yang terbuka di iringi suara kaki perempuan.

Reina memasuki ruangan dengan riasan wajah yang masih menempel sempurna. rok span sebawah lutut memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan tambahan blazer abu-abu  dan inner putih. Suara high heels nya memenuhi ruang rapat nyaris berdengung. Mereka bisa mendengar jelas setiap ketukan kaki Reina.

Dimas tak menoleh sama sekali, ia sibuk dengan ponselnya.

"Pak." Sapa Reina.

Mata Dimas langsung menangkap sumber suara. "Ada apa?"

Reina tersenyum simpul sembari menyelipkan rambutnya ditelinga. "Hari ini jadi nganterin saya pulang?" Tanya Reina menggemparkan seluruh penjuru ruangan.

Atikah yang berada paling dekat dengan Dimas langsung melotot, keningnya berkerut nyaris  menyerupai keriput. "Rein?" Ucap Atikah.

Reina menoleh, "Iya, mba?"

Atikah mengatupkan rahang sebelum memulai berbicara, "Dimas sudah beristri."

Reina tersenyum, "Mbak Ayana kan?"

Atikah hanya mengangguk.

"Jadi gimana pak?" Reina kembali mengarahkan pandangan ke arah Dimas.

Ayu langsung melongo menatap Reina yang posisinya badannya saling beriring, "wow!" Ucapnya dengan penuh penekanan. "Reina, Are you kidding?"

Dimas memincingkan sebelah matanya tanpa menjawab.

"Have you ever asking for help with someone?" Jawab Reina pada Ayu yang berada di sebelahnya.

"Dimas udah ada bininya. Paham kagak lu?" Bayu tiba-tiba menyambar.

Dimas langsung menaruh ponselnya, dilihatnya Reina dengan rasa percaya diri tinggi, "Reina, saya gak pernah bilang mau ajak kamu pulang bareng. Kalau mau pulang bareng kamu bisa pulang bareng Dion atau Bayu." Jelas Dimas begitu menyadari situasi semakin panas.

Seolah tak suka, Atikah tersenyum sinis. "Can you heard that?" Tanya Atikah.

Dion berdecak, "Ck, udah sih jangan ribut. Lu mau nebeng kan? Sama gue aja." Ajak Dion tiba - tiba.

Reina langsung menoleh ke arah Dion.

"Tuh Rein sana sama Dion." Celetuk Atikah.

Reina tersenyum ramah ke arah Dion. "Saya pulang sendiri saja. Terimakasih" ucapnya kemudian keluar ruangan.

Seisi ruangan langsung heboh begitu Reina keluar.

"What the fuck!" Ujar Atikah.

"Dim, lu harusnya lebih tegas jadi cowok!" Ucap Bayu serius.

"Tegas gimana? Kan emang gak direspon." Jawab Dimas santai.

Ayu langsung menarik napas panjang lalu ia hembuskan perlahan. "Darah tinggi kalau nemuin model begini." Kata Ayu.

Bayu yang tadinya agak jauh langsung mendekat di sebelah Atikah. "Lu gak kayak gitu kan diluaran?" Tanya  Bayu.

Atikah langsung meliriknya sinis, " Apaan sih." Jawab Atikah.

"Gue jelek?" Tanya Dion dengan wajah serius, " Bisa-bisanya dia nolak tawaran gue." Keluhnya.

Ayu dan yang lain terkekeh.

"Butuh cermin?" Tanya Ayu.

Atikah langsung melempar pulpen ke arah Dion. "Sana kejar."

*****

Dimas pulang sedikit telat. Meeting dengan Manda masih berlanjut. Kali ini ia harus bertemu petinggi perusahaan guna membahas kerja sama antar perusahaan.

Manda sempat menghalang-halangi kepulangan Dimas dengan dalih ingin membereskan semuanya saat itu juga. Sekitar pukul delapan malam Dimas baru bisa lolos dari jeratan Manda. Lokasinya sekarang sekitar 30 menit dari apartemen.

Tepat jam 20.30 wib Dimas tiba di apartemen. Dilihatnya Ayana sedang  melamun di depan meja rias.

"Sedang apa?" Tanya Dimas.

Ayana menoleh tanpa menjawab. Wajahnya tampak murung.

Dimas menaruh tas lalu mendekati Ayana, "Sudah makan?" Tanya Dimas sembari membelai lembut pipi Ayana.

Ayana mengangguk. " Mandi dulu." Katanya pelan.

Dimas hanya tersenyum lalu menuju kamar mandi. Apa aku terlalu sering berinteraksi dengan Reina? Apa aku mengecewakannya? Pikirannya melambung memikirkan kemungkinan yang mungkin terjadi pada Ayana saat ini.

Selesai mandi ia melihat istrinya sedang membereskan tempat tidur. Diliriknya ponsel milik Ayana yang bergetar tak jauh dari tempatnya berdiri. Matanya menyipit melihat sebuah pesan masuk.

Gilang
Hai, apa kabar?

Tak bermaksud membuka seluruh pesan itu Dimas langsung mengambil ponsel Ayana.

"Gilang siapa?" Tanya Dimas mengacungkan ponsel Ayana.

Ayana mengerutkan dahi. Dimas mendekat dan meberikan ponsel itu pada Ayana.

Ayana melihat ponselnya lalu tersenyum. "Oh, temen." Katanya.

Dengan handuk yang masih melilit ditubuhnya Dimas menatap Ayana tajam, "Kenal di mana?" Selidik Dimas.

"Lupa." Jawab Ayana enteng.

Diliriknya foto profil Gilang saat Ayana membuka pesannya. Ia ingat betul siapa lelaki itu. Lelaki yang pernah duduk di samping Ayana saat Ayana tertidur usai lari pagi.

"Kalian pernah deket?" Tanya Dimas lagi.

Ayana menaruh ponselnya tanpa melihat raut wajah Dimas. "Cuman temen biasa." Katanya kembali membereskan tempat tidur.

******

Mau berapa kata dalam setiap part?
Mau happy ending atau sad ending?
Kalau suka vote ya. Kalau mau lanjut tulis di komentar. Mau kritik  langsung utarakan lewat komentar. Terimakasih sudah membaca ceritaku.

UNFORGETTABLE WEDDING (DIPAKSA MENIKAH ganti Judul) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang