"When it gets cold
And it feels like the end
There's no place to go
You know I won't give in" - Keep Holding On
------
Sebelumnya, Taehee tidak benar-benar memahami arti kehilangan. Perasaan kehilangan yang ia rasakan terakhir kali, saat ia mengetahui bahwa neneknya telah meninggalkan dunia dan Taehee untuk selama-lamanya. Kejadian itu sudah lama sekali, saat Taehee masih SD, dan dia tidak bisa mengingat perasaan semacam itu dengan jelas.
Taehee memahami konsep kematian, namun tidak dengan kehilangan, dan untuk membayangkannya saja, Taehee merasa dirinya jauh dari kata sanggup. Seandainya dia bisa, dia ingin memohon pada Tuhan untuk tidak mengambil Doyoung darinya. Bukan sekarang, jangan dulu.
Lorong rumah sakit terasa sangat mencekam, menakuti Taehee yang duduk dalam keresahan. Tubuhnya masih gemetar. Dia ketakutan setengah mati pada pikiran negatifnya. Seandainya Yoora tidak merangkul kuat tubuh Taehee, cewek itu pasti sudah terkulai jatuh dari kursi. Taehee hanya diam, sambil merapalkan doa, berharap bahwa operasi Doyoung berjalan dengan lancar.
"Doyoung akan baik-baik aja, kamu jangan terlalu khawatir." Gumam Yoora. Cewek itu terus mengatakan hal yang sama atau serupa, agar Taehee merasa lebih tenang.
Tidak jauh berbeda dengan Taehee, nyonya Kim juga terlihat menjadi yang paling cemas. Bahkan kalau Taehee gak salah dengar, calon mertuanya itu sempat pingsan.
"Seandainya aku yang nyebrang..." Gumam Taehee lemah. "Seandainya aku cegah dia buat pergi. Seandainya aku gak pernah titipin kalungku..." Taehee terus bergumam frustasi, suaranya semakin jelas terdengar, dan memilukan. "Seandainya..."
"Taehee stop!" Yoora mengguncang bahu Taehee, lalu menarik cewek itu untuk pergi ke tempat lain yang lebih sepi. Taehee hanya diam mengikuti.
Yoora lantas melepaskan tangan Taehee setelah mereka berada di lorong tangga darurat. Dia melihat Taehee yang terus menunduk sambil memainkan jarinya yang bertautan. Yoora menangkup wajah Taehee, dan menatap wajah cewek itu yang tampak kacau.
"Bukan salahmu." Tegas Yoora.
Taehee gak menjawab. Bibirnya yang terkatup rapat bergertar, lalu dia menggeleng kencang.
"Salahku." Lirih Taehee, tenggorokannya terasa tercekat. "Dia celaka pasti gara-gara aku. Waktu aku digangguin berandalan, waktu kita ke festival, waktu aku kabur dari rumah, dan sekarang dia ditabrak depan mata aku, semuanya gara-gara aku. Seandainya aku..."
"TAEHEE, AKU BILANG STOP! Jangan salahin diri kamu, ini bukan salah kamu. Ini takdir, Taehee. Gak perlu kamu pertanyakan. Kamu cuma perlu berdoa."
Taehee akhirnya menangis lagi setelah sebelumnya dia sudah berhenti menangis, atau lebih tepatnya menahan diri untuk tidak menangis. Dia harus paham, bahwa bukan cuma dirinya yang cemas dan ketakutan. Semuanya menahan diri, berusaha terlihat tegar meskipun sebenarnya tidak.
Setelah pikiran terasa lebih tenang, Yoora dan Taehee kembali ke ruang tunggu. Operasi Doyoung masih berlangsung. Taehee gak menangis lagi, dia mulai lelah, kepalanya mulai terasa pening, namun perasaan takut membuat dirinya tetap terjaga.
"Gimana operasinya?" Tanya Gongmyung pada Yoora, yang baru datang setelah memantau pemeriksaan pelaku yang menabrak Doyoung.
"Masih belum selesai. Gimana pelakunya?"
"Agak rumit. Dia masih dibawah umur, dan sedang depresi. Vonisnya belum bisa ditentukan, harus ada pembicaraan dengan pihak keluarga tersangka dan psikiaternya."
"Astaga." Gumam Yoora.
"Ya Tuhan, Doyoung... anakku." Isak nyonya Kim, yang langsung ditenangkan oleh Gongmyung.
YOU ARE READING
Good Guy or Stupid Guy? | END ✔
RomanceSemua cerita cinta itu indah, tapi gak ada satupun cerita cinta yang sempurna. Contohnya, ceritaku denganmu. Main casts: Kim Doyoung (NCT) : Jung Taehee (OC) ⚠️ bahasa cenderung baku. ⚠️ rated 17+ Start: 121118 End: 220619 Meskip...
