CH. 63 - Let Him Go

936 161 28
                                        

"No, it doesn't matter how far
'Cause your love is all that I know
Baby, you just stay where you are
And you know I won't be too long" - Way Back Home

-

-----

Pikiran dan perasaan Taehee masih gak bisa saling berkompromi, dan hal itu membuatnya benar-benar pusing. Di pikirannya saja bahkan ada pro-kontra, sedangkan batinnya terus merasa kontra. Kesimpulannya, dia gak mau Doyoung pergi dinas. Sebut saja Taehee kekanakan, terserah, tapi dia benar-benar tidak menginginkan Doyoung pergi.

Dua minggu, mungkin terbilang singkat, Taehee berusaha mengerti. Toh pernikahan mereka masih dua bulan lagi, tapi tetap saja, bukankah seharusnya Doyoung gak pergi kemana pun? Bahkan sejauh itu. Dia masih belum rela. Taehee berusaha berpikir positif, berusaha rela, tapi lagi-lagi dia gagal.

"Bisa gak, kalo gak pergi?" Tanya Taehee. Sabtu itu Doyoung datang ke rumahnya, sebelum hari senin dia berangkat.

"Gak bisa, aku emang harus kesana."

Taehee tertunduk lemas di sofa balkonnya. "Aku cuma... gak tau, aku gak mau kamu pergi. Kamu ngerti, kan?"

"Kalo aku bisa gak ikut, aku juga gak akan pergi."

"Mana ada Yuri lagi." Gumam Taehee.

"There's nothing to be worried about that. Don't you trust me?"

"Iya." Jawab Taehee singkat. "Tapi aku tuh masih gak tenang, gitu. Kali ini tuh kaya gak mau, gak bisa izinin kamu pergi."

"Gak akan ada apa-apa, jangan kaya gitu. Aku malah jadi kepikiran nanti disana."

"Apa aku ikut aja ya?"

"Ngapain? Kamu juga kan masih harus kerja disini."

Taehee mendesah keras, lalu menatap Doyoung dengan pasrah. "Ya udah, pergi aja. Aku gak apa-apa. Jaga diri kamu disana."

"Bener?"

"Dengan sangat terpaksa, bener."

Doyoung tersenyum simpul, seraya mengusak kepala cewek itu. Seandainya bisa, dia juga sebenarnya gak ingin pergi, tapi gak ada yang bisa dia lakukan. Dia masih punya rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya.

Sisa hari itu lantas mereka habiskan bersama. Bukan dengan berjalan-jalan atau bercerita seperti biasa, melainkan dengan pelukan dan sentuhan. Doyoung membawa Taehee ke kamar cewek itu, dengan bibir mereka yang bertautan. Dia membaringkan Taehee di atas tempat tidurnya, sebelum kembali mencium cewek itu.

Doyoung membiarkan kaosnya yang ditanggalkan oleh Taehee. Dia pun membiarkan ketika Taehee meninggalkan jejak kemerahan di tubuhnya, seperti yang dia lakukan pada cewek itu. Nafsu keduanya sudah hampir terbakar. Namun tepat saat Taehee memegang sabuk yang Doyoung kenakan, cowok itu menahannya. Terlebih ketika dia menyadari ada air mata yang berlinang dari mata cewek itu.

"We're not gonna do that, Taehee. We both know, not that far for now." Lirih Doyoung, lalu ikut berbaring di sebelah Taehee.

Taehee enggan melihat Doyoung, yang sedang memeluknya dan menepuk-nepuk pundaknya dengan pelan. Tenggorokannya terasa tercekat, satu kata saja keluar dari bibirnya, mungkin dia akan benar-benar menangis. Ya, kali ini sesulit itu untuk membiarkan Doyoung pergi.

-------

Hari senin, pukul enam pagi sebelum berangkat ke kantor, Taehee mengantar Doyoung ke bandara dari rumahnya. Cewek itu bersikeras mau mengantar Doyoung, setidaknya hanya sampai bandara. Akhirnya Doyoung pasrah, setelah beberapa kali meyakinkan dirinya kalau Taehee sudah lancar menyetir mobil sendiri untuk pulang kembali dari Incheon ke Seoul.

Good Guy or Stupid Guy? | END ✔Stories to obsess over. Discover now