Bonchap 2 | Baby Issue

958 118 25
                                        

Taehee menatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi. Helaan napas berat berhembus dari celah bibirnya. Sekali lagi, ia membasuh wajahnya dengan air dan mengeringkannya dengan handuk kecilnya. Perempuan itu melangkah menuju dapur, untuk menyiapkan sarapan.

Sampai saat ini, Taehee hanya masih disibukan dengan aktifitasnya sebagai ibu rumah tangga. Ia bukannya tidak diizinkan bekerja oleh Doyoung, atau tidak berminat untuk mencari kerja lagi, ia hanya memang menunda keinginannya untuk kembali bekerja.

Aroma masakan, yang sekalipun menggugah selera Doyoung, tidak lantas membuat laki-laki itu langsung duduk manis di kursi makan. Lelaki itu berdiri di belakang Taehee, tampak kebingungan.

"Sayang, kamu liat dasi aku gak? Yang biru dongker, yang ada bordir di bawahnya." Tanya Doyoung, sedikit tergesa-gesa.

"Di laci lemari baju, udah aku lipet kok." Jawab Taehee tanpa melirik Doyoung dan masih sibuk memasak.

"Gak ada, tadi udah aku cari di laci, di lemari gantungnya, gak ada." Jelas Doyoung. "Taehee-ya, tolong bantu aku cari dulu." Pinta Doyoung, mulai mendesak.

Taehee mematikan kompornya, lalu berputar menghadap Doyoung. "Ada, kamu pasti nyarinya gak teliti."

Taehee lantas langsung menuju kamar mereka, sementara Doyoung mengekorinya di belakang. Perempuan itu membuka lemari pakaian, lalu laci yang ada di dalamnya, dimana ia meletakan semua dasi dan kaos kaki bersih lelaki itu. Hanya sekejap mata, Taehee menemukan dasi yang Doyoung cari.

"Nih, aku bilangin ada juga." Ujar perempuan itu sambil menunjukan dasi di tangannya.

Mulut Doyoung sedikit terbuka, ia hampir menjatuhkan rahangnya karena ia tidak percaya. "Tadi aku cari-cari disitu kok, gak ada." Bela Doyoung. Ia benar-benar tidak melihat benda itu tadi.

Taehee hanya memutar bola matanya. Kemudian ia mendekati Doyoung, lalu memasangkan dasi suaminya itu. Doyoung mengamati Taehee, dengan senyum kecil di bibirnya. Perempuan itu tampak fokus menyimpulkan dasi, namun pemandangan itu tidak berlangsung lama karena Taehee dapat menyimpulkannya dengan mudah dan cepat.

"Ada lagi yang belum kamu siapin?" Tanya Taehee sambil lalu, ia mengambil jam tangan yang biasa Doyoung gunakan, kemudian memakaikannya di tangan lelaki itu.

"Gak ada. Udah semuanya. Makasih ya, sayang." Doyoung mengecup kening Taehee, sebagai ucapan terimakasihnya.

Taehee mengangguk.

"Oh iya, nanti sore kamu aku jemput ke rumah aja ya, biar bareng ke rumah ibunya." Ujar Doyoung, mengalihkan pembicaraan.

"Gak usah, ketemuan aja disana. Nanti kamu capek kalo bolak-balik." Tolak Taehee.

"Ya enggak lah, deket kok. Mau ya?"

Taehee menyentuh bahu Doyoung, lalu mendongak untuk menatap lelaki itu. "Enggak, ketemu disana aja ya? Lagian aku bakal dateng sebelum kamu pulang, mungkin?"

Akhirnya Doyoung mengangguk setuju. Orang lain sering berkata bahwa mungkin ada sifat pasanganmu yang akan berubah setelah menikah, karena sebelumnya ia menyembunyikan sifat aslinya dari pasangannya. Namun ternyata sifat Taehee yang masih tidak mau merepotkan orang lain ini memang sifat lahiriahnya, perempuan ini bahkan masih tidak ingin merepotkan Doyoung.

------

Sore harinya, Doyoung pulang ke rumah orang tuanya. Lebih tepatnya, hari ini memang ada kumpul keluarga. Karena sejak ia menikah pun, ia belum mengunjungi orang tuanya lagi.

Doyoung menemukan Taehee yang memang sudah ada disana. Perempuan itu sedang mengobrol dengan kakak iparnya. Sementara diantara mereka, ada Booyoung yang duduk diam sambil mendengarkan pembicaraan ibu dan bibinya.

Good Guy or Stupid Guy? | END ✔Stories to obsess over. Discover now