22.6.19
-----------
235
"Thomas?"
Thomas memutar wajahnya, menemukan Brenda menghampirinya. Dia mencoba tersenyum meskipun dia yakin sekali senyumnya akan terlihat sangat aneh. Tapi, Brenda membalas senyumnya dengan sedikit diliputi bingung dan tanda tanya.
"Seharusnya, aku membawa sisir untuk merapikan rambutmu," ujarnya seraya duduk di sebelah Thomas, di emperan belakang homestead laki-laki. "Kubilang, kamu harus belajar pada Minho untuk merawat rambutmu," tambahnya lagi.
Thomas mengulum senyum. Spontan, dia menyisir rambut berantakannya dengan jemarinya. Sebelum kedatangan Brenda, dia sibuk memikirkan suatu cara untuk menemukan Sonya dan belum mendapatkan solusi hingga kini. Malah, kepalanya berdenyut pening semakin dia berusaha memetakan segala kemungkinan yang dia tarik. Mungkin kedatangan Brenda adalah sinyal agar dia sejenak mengistirahatkan pikirannya.
"Tidak banyak yang merepotkanmu hari ini?"
"Aku senang pertanyaan itu dapat kujawab 'ya'." Dia menunduk menatap rerumputan di sela-sela kakinya dan kaki Thomas. Lalu, pandangannya menemukan sebelah tangan Thomas yang terjulur, dia merenggutnya. Thomas membiarkannya walaupun dia ingin menjauhkan tangan kotornya itu dari Brenda. Dia baru ingat belum membersihkan diri semenjak kembali dari hutan. Debu tentu saja menggumpal di tangan, pakaian, dan rambutnya. Semakin bertambah kotor karena debu dari rambutnya pastilah ikut melekat di telapak tangannya yang tengah dipegang Brenda.
Akan tetapi, Brenda tampaknya tidak peduli. Dia justru menarik syalnya, memakainya untuk membersihkan telapak tangan Thomas. Gerakannya begitu lembut, begitu berhati-hati. Thomas memerhatikan dengan saksama saat Brenda melap sela-sela jarinya. Debu yang menempel di tangannya dengan cepat berpindah, membuat syal berwarna merahnya menjadi kecoklatan. Dia mengakhiri kegiatan itu dengan menautkan jari-jarinya di antara milik Thomas.
"Aku sudah mendengarnya dari Minho," katanya tiba-tiba seraya memindahkan tatapannya pada Thomas.
Thomas yang kedapatan sedang memerhatikannya sedikit terkejut. Reaksinya menuai senyum dari Brenda. Dia tidak dapat menyatukan kata-kata untuk menanggapinya, selain berucap, "Kau tahu."
"Ya, dan aku tahu kamu masih menyalahkan dirimu sendiri, tidak peduli Minho dengan tegas meyakinkanmu bahwa itu bukan salahmu," balas Brenda tanpa sedetik pun memalingkan wajahnya. Mendapati Thomas bertingkah konyol, hanya bisa menatap dan dengan bodoh mengharapkan lawan bicaranya mengerti apa pun yang coba dia wakilkan melalui sorot matanya, dia meraih telapak tangan Thomas lainnya, menggenggam keduanya dengan erat. "Kau tahu, Thomas, laki-laki Asia itu sangat menyayangimu. Aku tidak tahu dia menganggapmu sebagai adik laki-laki yang tidak pernah dimilikinya atau seorang anak laki-laki yang diharapkannya—" Brenda berhenti sebab ujung kalimatnya membuat bibir Thomas melengkungkan sebuah senyuman.
"Ya, aku tahu ini konyol," Brenda segera melanjutkan. Tidak dapat dia cegah senyuman yang mendesak kedua sudut bibirnya. "Tapi, ketahuilah, Minho benar-benar mendatangiku, membicarakan segalanya, lantas meminta dengan sopan agar aku menemuimu. Dia tahu kamu tidak begitu saja mempercayai ucapannya. Kadang kamu terlalu egois untuk mempercayai orang lain, kamu tahu. Tapi, .. ya, intinya ... Minho sedih. Sangat sedih malah. Dia sangat terpukul atas menghilangnya Sonya. Dan kamu penyebab kesedihannya yang lain. Temanmu itu tidak mengatakannya. Walau bagaimanapun, aku berani taruhan, dia berpikir bahwa dirinya tidak sanggup melihat tampang burukmu, Thomas. Itulah alasan dia akhirnya repot-repot menemuiku, memintaku menggantikannya."
"Terima kasih, Minho." Gumaman pelan itu adalah balasan dari kalimat-kalimat panjang Brenda. Itu sama sekali bukan kata-kata gurauan karena dia tahu yang diucapkan Brenda tidak keliru, hanya sedikit dibuat dramatis. Atas kepedulian Minho dengan caranya yang kadang tak terpikirkan, dia sangat berterima kasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Death Destiny
Mystery / ThrillerMereka memasuki sebuah era di mana kematian sebagian bukan lagi menjadi rahasia takdir. Adanya kepastian 'waktu' bagi sebagian orang membuat dunia menjadi tak terkendali bagi orang-orang yang menyadarinya. Membunuh untuk mendapatkan kehidupan lebih...
