"Jadi, siapa saja yang pergi?" Brenda memastikan sekali lagi.
"Kita berlima. Kamu yakin tidak akan pergi?" Minho bertanya balik.
Brenda menggeleng. Tatapannya fokus pada monitor transparan, tak jauh dari layar keperakan yang akan mentransportasikan teman-temannya. Diam-diam, sebelah matanya melirik ke sebelahnya, tempat Thomas berdiri.
Markas Lucifer. Di sanalah mereka berkumpul, menghadapi alat transportasi modern yang terus dimodifikasi Aris berpuluh tahun lamanya. Rupa-rupanya, peregangan waktu yang Thomas alami pertama kali disebabkan oleh kerusakan flat trans. Kantor pusat flat trans saat itu telah ditinggalkan karena wabah Flare yang kian menggila. Kemudian, ketika Newt, Thomas, dan Minho melewatinya untuk menyusul Sonya, kerusakan flat trans semakin parah. Mereka bisa saja terjebak selamanya dalam ruang antarwaktu andai Aris menyerah dengan benda itu setelah bertahun-tahun usahanya tak membuahkan hasil. Berterima-kasihlah pada kegigihan Aris yang rela menghabiskan masa muda hingga tuanya bekerja dengan benda itu.
Flat trans, alat transportasi yang dirancang untuk berteleportasi itu karena sistemnya yang rusak berubah menjadi mesin waktu. Di tangan Aris, akhirnya alat itu bisa dikendalikan walau belum sepenuhnya. Paling tidak, Aris yang telah berumur 65 tahun dengan bantuan putra dan cucunya berhasil menyelamatkan teman-temannya dari menghilang di ruang antarwaktu kendati dia tidak dapat mengembalikan mereka ke dalam selang waktu yang lebih pendek.
Ya, Aris bekerja di masa depan untuk kejadian di masa lalu. Ia lebih dulu menemukan Brenda. Selang setahun berikutnya, Sonya. Terakhir, lewat beberapa bulan kemudian Thomas, Newt, Minho, Hazza, dan Clarisse ditemukan dalam sela waktu satu dengan yang lainnya beberapa menit saja. Itulah yang menjelaskan perbedaan usia mereka. Semakin lama mereka tertahan di ruang antarwaktu, semakin besar peregangan waktu yang mereka alami.
Beberapa bulan yang lalu, kerja keras Aris, putra sulungnya, dan Lucifer membuahkan hasil yang lebih menggembirakan. Flat trans mengalami kemajuan yang penting. Aris bisa mengembalikan mereka ke masa mereka yang sebenarnya. Namun, karena masih adanya keterbatasan fungsi alat itu, serta ketersediaan bahan bakar untuk membuat alat itu tetap bekerja, Aris memiliki batas waktu. Itulah sejatinya yang tertulis di belakang leher Thomas, orang yang terakhir kali ia temukan keberadaannya.
Lucifer, katakanlah dia di sana sebagai pengawas sekaligus pemberi pesan. Dia sendirian setelah Aris meninggal di tempat tidurnya, di Pulau, lalu kedua orang tuanya yang merupakan putra tunggal Aris menjadi korban kelompok Dalang menyusul beberapa minggu kemudian. Dia ingin sekali memberitahukan semuanya tatkala Thomas, Hazza, dan Stephanie mendatanginya. Tetapi, mengetahui Thomas dan yang lain tengah dalam misi menghentikan kelompok Dalang yang dia sadari betul betapa bahayanya mereka, Lucifer menunda membahas soal itu.
Sayangnya, takdir berkata lain. Lucifer wafat sebelum dia sempat menyampaikan soal itu. Untuk menghadapi kondisi begitulah tiruan Jupiter, kucing milik Lucifer diciptakan. Jupiter yang sekarang tak lebih dari sebuah mesin yang aktif dengan kata sandi tertentu. Pemberitahuan bahwa Lucifer telah tiada, itulah kata sandi yang mengaktivasi Jupiter.
"Siapa pun yang berhasil membuka ini, kutebak kau atau kalian sangat merindukanku!" kalimat itulah yang pertama kali terdengar begitu hologram Lucifer mundul dari Jupiter yang telah berubah bentuk menjadi sebuah kubus. "Jika kalian melihat ini, dipastikan aku tak lagi bersama kalian. Well, aku ingin menyampaikan ini secara langsung. Tapi, takdir tak dapat kutentang, bukan? Maksudku, bukan takdir yang didefinisikan kelompok Dalang, melainkan takdir yang sesungguhnya."
Stephanie yang berjumpa kembali dengan sahabatnya tak berkedip menatap hologram itu. Hatinya berdesir oleh karena rindu yang meluncur turun ke dadanya. Dan, di antara rasa ingin tahu yang membuncah atas apa yang hendak disampaikan oleh Lucifer, Stephanie lebih peduli pada rindu yang rasanya mendadak asing itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Death Destiny
Misteri / ThrillerMereka memasuki sebuah era di mana kematian sebagian bukan lagi menjadi rahasia takdir. Adanya kepastian 'waktu' bagi sebagian orang membuat dunia menjadi tak terkendali bagi orang-orang yang menyadarinya. Membunuh untuk mendapatkan kehidupan lebih...
