Taqabalallahu minna waminkum. Shiyamana wa shiyamakum.
Happy eid mubarak!
Merayakan lebaran di tengah pandemi gini, terasa sangat sedih. Harus bertahan di perantauan, lebaran sendirian. 😥
But, let's just say I'm fine. We're all fine. 😉
----------
Hari ke-1
"Ini akan sedikit sakit, Tommy," Newt mengingatkan. Di tangannya, terlihat sebuah pisau dan pinset.
"Yeah, aku tahu. Kauperlu menyuntikkan anastesi sekarang juga," Thomas menjawab sarkas. Dia duduk membelakangi Newt di sebuah laboratorium, di rumah sakit tempat Gally dan yang lainnya masih dirawat.
Newt mulai bekerja dengan pisau dan pinset. Dengan hati-hati, dia mencukil kulit bagian belakang leher Thomas untuk mendapatkan sampel yang mengandung material pembentuk tato yang digunakan kelompok Dalang. Peristiwa-perisiwa yang terjadi belakangan membuat mereka mengira kelompok Dalang mengamati mereka tidak sekadar lewat mata manusia, tatapi mereka memiliki alat pelacak yang tersembunyi di bagian tubuh mereka.
Tato itu menjadi kecurigaan pertama mereka. Meskipun Minho telah meyakinkan, berdasarkan penyidikan tim polisi, tidak ada yang aneh dari tato itu, Thomas tetap ingin membuktikannya sekali lagi. Beruntung, atas otoritas yang diberikan pemerintah setempat, melalui kepolisian, melalui Minho, mereka diperbolehkan meminjam laboratorium rumah sakit itu.
Newt mendapatkan sebuah sayatan kecil. Dia menaruh sayatan itu di sebuah mangkuk perak. Dia lalu segera membersihkan darah yang keluar dari luka sayatan itu, membalutnya dengan perban. Pekerjaan dilanjutkan oleh Thomas. Newt bertindak sebagai asisten sekaligus pengawas, kalau-kalau ada orang mencurigakan memasuki laboratorium itu, selain petugas medis rumah sakit.
Di tempat terpisah, Minho yang pulih paling cepat berada di aparetmen Gally bersama dengan tiga polisi berpangkat deputi, John, Miller, dan Robb, serta Sersan David. Selain menginvestigasi tempat itu dan berharap menemukan sesuatu yang berguna—sebuah petunjuk yang akan memudahkan pekerjaan mereka, Minho mendapat tugas khusus dari Harriet, membawakan sebuah benda berharga pada perempuan itu. Harriet tidak mau memberitahukan detail mengenai benda itu, kecuali wadahnya, yaitu sebuah amplop cokelat. Katanya, dia menyimpan benda itu di bawah sofa.
Akan tetapi, Minho sudah dua kali memindahkan sofa-sofa di ruang depan apartemen Gally, dia tidak menemukan satu benda pun di bawahnya. Dia bahkan perlu menggulingkan sofa-sofa itu, percaya pada kemungkinan amplop itu dilem di bawah sofa atau sejenisnya. Nihil. Tidak ingin kembali untuk melihat kekecewaan di wajah Harriet, Minho tetap berkeras menyisir setiap inchi bagian sofa-sofa itu, tidak peduli lima polisi itu sudah berpencar ke ruangan-ruangan lain.
"Apa yang sebenarnya sedang kaucari, Minho?" tanya Deputi John yang penasaran.
"Benda berharga milik temanku, Deputi."
"Dan, apa benda itu?"
"Sebuah amplop. Katanya, ada di bawah sofa." Minho menjawab sambil merobek bagian bawah sofa dengan sebuah pisau kecil.
"Kenapa tidak coba kaucari di bawah busa tempat duduk atau diselipan sandaran?"
Gerakan tangan Minho berhenti. Dia menatap deputi itu dengan wajah menggemaskan, seperti anak kecil yang tidak menyadari kebodohannya. Deputi John tersenyum demi melihat tingkah Minho. Sambil berlalu, dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Minho menjatuhkan pisaunya. Dia gulingkan kembali sofa itu, mulai mencari di lipatan sofa. Tidak lebih dari satu menit berikutnya, dia mendapatkan amplop itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Death Destiny
Misteri / ThrillerMereka memasuki sebuah era di mana kematian sebagian bukan lagi menjadi rahasia takdir. Adanya kepastian 'waktu' bagi sebagian orang membuat dunia menjadi tak terkendali bagi orang-orang yang menyadarinya. Membunuh untuk mendapatkan kehidupan lebih...
