Peace

5.4K 707 35
                                        

Jisoo berlari dengan tergesa-gesa di koridor rumah sakit. Dengan keadaan tubuh yang masih lemas ia berlari menuju salah satu ruang. ICU, ruangan yang akan Jisoo tuju. Didalamnya sudah ada tubuh mungil yang tidak sadarkan diri.

"Eomma!" Panggil Jisoo.

Sang eomma yang melihat kedatangan anaknya segera membawa tubuh Jisoo kedalam pelukannya. Menopang tubuh lemah sang anak.

"Duduk dulu." Suruh Eomma Kim.

Jisoo lalu duduk disalah satu kursi tunggu. Eomma Kim segera memberikan anaknya satu botol air mineral. Mengelus lembut pundak sang anak.

"Jung Nam akan kembali sadar Ji, kau harus tenang."

Jisoo melepas jas putihnya lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding. Di rumah sakit tadi, tempatnya bekerja. Ia mendapatkan kabar jika keadaan Jung Nam tiba-tiba saja drop. Sesaat setelah mendengar kabar tersebut, pikirannya kalut. Sedangkan pasien yang menunggu giliran untuk diperiksa masih banyak. Ingin menghubungi Jennie agar menemui Jung Nam lebih dulu? Dia sadar jika Jennie masih di Amerika.

"Kau sudah menghubungi Jennie?"

Jisoo menggelengkan kepalanya.

"Coba hubungi." Pinta Eomma Kim.

Ia kemudian menggeser layar ponselnya. Mencari kontak sang kekasih. Setelah menemukannya, tanpa menunggu ia segera menghubungi Jennie.

"Halo, Sayang?"

"Hi, kapan kembali?"

"Tiga hari lagi, ada apa dengan suaramu?"

"Kondisi Jung Nam sedang drop."

"Sejak kapan? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"

"Masih di ICU. Cepatlah kembali."

"Akan ku usahakan sayang. Disini aku akan terus mendoakan Jung Nam. Kau juga jangan lupa mendoakannya."

"Iya, aku akan terus mendoakannya."

"Tunggu aku."

"Aku membutuhkanmu."

.......

Setelah menghubungi sang kekasih, kondisinya bisa lebih tenang dari sebelumnya. Mendengar suara Jennie adalah terapi terbaik pikirnya. Ia butuh wanita itu agar tetap disampingnya.

"Aku ke gereja dulu." Pinta Jisoo lalu pergi meninggalkan Eomma Kim.

Ia duduk disalah satu kursi jemaat. mengaitkan jari-jarinya satu sama lain. Menundukkan kepalanya lalu memanjatkan doa. Untuk Oh Jung Nam, pangeran kecilnya.

Menghabiskan waktu cukup lama didalam gereja, ia kemudian kembali menghampiri eommanya.

"Kau harus istirahat Ji. Biar Suster  Rae dulu yang menjaga Jung Nam."

"Apa Jung Nam akan baik-baik saja jika aku tinggalkan?"

Eomma Kim tersenyum lalu mengiyakan ucapan anak kesayangannya.

"Tentu sayang, Jung Nam juga mau kau selalu sehat."

Mendengar apa yang eommanya katakan, kemudian Jisoo pergi ke rumah mewahnya bersama Eomma Kim.

Sesampainya di bangunan besar itu, ia segera menaiki tangga dan merebahkan tubunya diatas kasur. Tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Sampai akhirnya suara deringan menyadarkannya. Sebuah pesan dari Jennie.

Pacar❤

"Berendam di bathtub lalu istirahat. Aku tidak mau kau sakit Ji."

Melihat betapa perhatiannya sang kekasih, ia dengan sendirinya mengeluarkan senyum dan jarinya mulai mengetik beberapa kata.

"Iya, tetapi yang membuatku sakit hanya merindukanmu:( jadi cepatlah kembali."

Seakan terhipnotis oleh ucapan Jennie, Jisoo segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Mengisi bath tub dengan air hangat lalu memasukkan bomb bubble bath beraroma lavender.

Dengan seperti ini setidaknya bisa menghilangkan stresnya sejenak. Pikir Jisoo.

30 minutes later...

Setelah istirahat didalam bathtub, Jisoo memilih untuk tidur. Berharap ketika bangun nanti ia mendapatkan kabar baik terkait keadaan Jung Nam.

08.00 KST

Jisoo dengan wajah kusutnya tengah membakar dupa didepan foto Oh Jung Nam. Membungkukkan tubuhnya yang mulai lemah.

Oh Jung Nam dikabarkan meninggal dunia pukul 04.00 pagi tadi. Jisoo yang saat itu masih larut dalam tidurnya, benar-benar merasa bersalah. Dengan segera ia memakai pakaian serba hitam dan pergi ke rumah duka.

Ia kemudian duduk didepan meja tamu, ditemani Chaeng serta eommanya disisi kanan dan kiri. Chaeng terus merengkuh pundak Jisoo. Berharap Jisoo bisa lebih tabah menghadapi segalanya.

"Eomma, kenapa Jung Nam lebih dulu pergi?"

"Karena Tuhan sayang Oh Jung Nam, Tuhan tidak mau Jung Nam merasakan sakit lagi."

Jisoo hanya mengangguk dengan tatapannya yang daritadi masih menatap lekat foto Oh Jung Nam yang berada ditengah-tengah kumpulan bunga.

Rasanya ia ingin mengabari Jennie sesegera mungkin, namun ia tahu pasti Jennie baru saja memasuki dunia mimpinya setelah menyelesaikan penampilan terakhirnya. Ia tidak mau membuat sang kekasih khawatir.

"Jung Nam-ah suatu saat kita akan bertemu lagi."

[END] COïNCIDENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang