it is not hurt.

3.7K 213 4
                                        

" jadi gini, Ra. Kemarin kan gue—"

" permisi ini pesanannya, selamat menikmati." ucap pelayan cafe dengan ramah.

cantik mbak nya, jadi betah. kata Idam sambil tak berhenti matanya menatap pelayan cafe tersebut.

ish udah. Kembali ke topik. Kemarin lo nagapain? aku cukup kesal karena dari tadi Idam menundanya terus.

"kemarin gue nongkrong sama Nando. "

"Oh yang malem malem itu bukan? Kok gue ga liat ada lo ya di SG nya Nando?"

" ya, pas dia lagi buat SG gue lagi ke toilet. "

"hmm gitu. Jadi gimana? "

Akhirnya Idam meceritakan dan menjelaskan dengan rinci apa saja yang ia bicarakan dengan Nando. Kata Idam, Nando membicarakan aku saat keadaan sepi, tinggal mereka berdua. Nando tidak bercerita saat teman-temannya masih ada.

Dam. Lo kenal yang namanya Nara? tanya Nando pada Idam.

temen sekelas gue, kenapa?

dia gimana orangnya?

oh, baik kok dia pinter banget.

bukan itu maksud gue. Gue gatau orangnya yang mana.

Memang semenjak aku mengirim pesan dengan Nando, aku tidak memasang potoku sebagai poto profil hanya gambar kucing. Di instagram pun aku tidak pernah memposting poto wajahku. Karena aku bukan tipe perempuan yang suka selfie dan memposting soal diriku. Mungkin karena aku tidak percaya diri.

"yauda tuh, Nar. Waktu Nando nanya lo yang mana langsung gue buka hp buat nyari poto lu."

"emang lu punya poto gue? Sejak kapan lu jadi penggemar gue, Dam? HAHAHA. "

Saat aku tertawa. Idam melemparkan gulungan kertas. Tanda bahwa ia kesal ku bilang bahwa dia penggemarku.

"kan ada poto anak kelas. Lo kan suka poto sm temen-temen lo terus ada guenya, ya gue simpen."

"terus terus reaksinya dia gimana? tanyaku penasaran pada Idam."

"tapi lo jangan down ya?"

Saat Idam memastikan hal itu. Sebenarnya perasaanku sudah tidak enak. Sudah pasti reaksi Nando bukan hal yang positif bagiku. Mungkin bukan Nando saja, lelaki lain juga melakukan hal yang sama jika ada di posisi Nando. Pikiranku sudah entah kemana-mana.

"Nar? Nara? Tuh kan gue belom ngomong lo udah gini."

"IH iya iya cepet apa ?"

Dan benar. Reaksi Nando begitu menyakitkan bagiku. Sebelumnya jika aku menyukai seseorang, maka aku pendam dan simpan perasaan itu sedalam mungkin sampai siapa pun tidak tahu. Sehingga yang menyakitiku hanya diriku sendiri. Tapi baru kali ini, perkataan seseorang begitu menyakitkan walau pun aku sudah kenyang dengan kalimat-kalimat seperti itu.

Selesai Idam menceritakan semua yang Nando katakan padanya, moodku sudah berantakan. Tapi aku harus tetap profesional. Urusan hati dan tugas bukan hal yang bisa dipadupadankan. Aku tetap menyelesaikan tugas kelompokku bersama Idam. Sebenarnya Idam tidak ingin melanjutkan kerja kelompok kami, karena dia tahu aku sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Namun, aku akan lebih tidak baik-baik saja jika hatiku hancur dan tugas pun tidak selesai. Jadi , aku lebih memilih tetap menyelesaikan tugas. Setidaknya bebanku tidak berlipat ganda.

Setelah tugas kami selesai. Aku segera pamit pada Idam untuk pulang lebih dulu.

"Dam, gue balik ya? Tinggal di edit aja kok. Materinya udah clear semua tadi gue kerjain."

Memang begitulah diriku. Aku bukan anak yang pandai dalam bidang perkomputeran. Jadi setiap ada tugas, aku selalu mengerjakan bagian mentah, bagian otaknya. Dan parthner ku bagian mengedit atau design. Dan aku nyaman akan hal itu karena aku tahu kemampuanku.

"mau gue anter ga, Ra?"

Mungkin Idam merasa bersalah karena memberi tahu hal itu pada ku. Tapi semua salahku juga, aku terlalu penasaran. Seharusnya aku tak perlu tau.

"ga usah, Dam. Gue bawa motor juga kok."

"beneran? Lo gapapa kan? Hati-hati deh, Ra."

Idam memang bukan tipe siswa lelaki yang taat peraturan, rajin sekolah dan pintar. Ya sifatnya tidak jauh dari Nando. Tapi, Idam sosok lelaki yang bertanggung jawab. Dia juga perduli pada teman.

"iya, santai aja. Bye. aku menepuk pundak Idam sambil tersenyum."

Diperjalanan tak ada yang ku pikirkan. Kosong. Aku bingung. Dibilang menyedihkan juga terlalu berlebihan. Aku mencoba menerima penilaian Nando tentangku. Apa yang Nando katakan pada Idam ada benarnya dan aku harus terima itu.

Sampai di depan gerbang rumah, aku segera memasukkan motor karena cuaca menandakan sebentar lagi akan hujan.

"kok baru pulang ? kemana aja ?" tanya nenek begitu mengkhawatirkanku.

Setiap aku pulang telat, beliau pasti mengkhawatirkan ku. Lantaran ia tak punya ponsel jadi aku pun sulit mengabarinya jika pulang telat. Lagi pula aku jarang sekali pulang telat kalau tidak ada tugas atau pun rapat aku langsung pulang.

habis kerja kelompok, Nek.

"yasudah sekarang kamu mandi habis itu makan sudah nenek siapkan."

"siap nenek cantik ! "

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

hayoo siapa yang penasaran sama apa yang dikatakan Nando?

sorry ya kalau ceritanya kurang greget. i hope you supporting me !!

Nanti akan aku buat POV dari Nando. berisap yaaa

How to Be Yours ✅(completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang