Semenjak kejadian hari itu saat Nando membentakku, rasanya melihat wajahnya pun sudah tidak mau.
Aku sangat sakit hati dengan perkataan Nando. Tapi sebenci-bencinya aku pada Nando, tak sedikit pun aku berniat untuk membalasnya. Mungkin ini resiko memiliki porsi tubuh seperti aku.
Aku menceritakan semua pada Ale sahabatku. Bukannya menenangkan aku, justru seolah-olah dia memojokkan kebodohanku. Memang benar aku terlalu agresif mungkin. Ya sudah akhirnya ku putuskan mulai hari ini aku berjalan seperti Nara sebelum mengenal Nando.
Lagi pula tahun depan aku ujian nasional, mungkin ini sudah diatur bahwa aku memang harus tetap fokus.
Aku sengaja ke kantin untuk melihat keadaan Nando, tapi tampaknya aku ini hanya kotoran nemang seharusnya dimusnakan. Buktinya dia terlihat baik-baik saja. Memang aku saja yang terlalu kepedean. Betul kata Nando.
---------------------------------------------
Dua bulan berlalu, aku bisa melewati hari tanpa memikirkan Nando. Tapi aku tak memungkiri setiap berpapasan pasti jantungku tak bisa disunyikan.
Bulan desember adalah musim buku tahunan sekolah.
Kebetulan sekolahku mengusung tema Indoor dan kebetulan kelasku memiliki jadwal yang sama dengan kelas Nidya. Itu berarti ada Nando juga.
Karena dalam 2 bulan ini aku terbiasa, jadi ku pikir ini bukan masalah besar.
Saat sampai di studio foto, ternyata kelas Nando juga sudah datang duluan. Teman-temanku baru setengaj dari satu kelas yang sudah datang.
Aku menuju kamar ganti untuk berganti kostum. Ternyata di sana ada Nando yang sedang menunggu giliran. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Teruskan atau balik ke ruang kumpul. Tapi karena sudah setengah jalan dan tak sengaja Nando sudah melihatku, aku lanjutkan.
Kikuk. Aku bingung. Tapi kuusahakan seolah-olah aku tidak pernah mengenalnya. Aku pura-pura main handphone dan tidak memedulikannya padahal posisinya tepat disampingku.
Setelah keheningan yang entah sangat lama bagiku. Akhirnya orang dari balik ruang ganti keluar. Tapi ini bagianku.
Aku langsung masuk demi memecahkan kecanggungan yang luar biasa.
Ku pikir setelah sengaja aku mengulur waktu saat mengganti baju, Nando sudah keluar. Tapi ternyata dia masih di posisi yang sama.
Seperti biasa. Aku masih dalam sikap tenang tak menghiraukannya.
Tiba-tiba, saat aku henda meninggalkan ruang ganti..
" kemana aja ? "
Sepertinya orang itu menegurku namun aku tak mau kegeer-an. Sempat berhenti sejenak namun dia melanjutkan
"lo ga denger gue ngomong, Ra ? "
Saat nama "Ra" disebutnya baru aku yakin bahwa dia mengajakku berbicara.
Kalian benar. Itu Nando. Aku bergeming dan tak menjawab. Hanya menengok ke arahnya pun tidak.
" btw, makasih ya kado waktu itu."
Hanya bilang terimakasih. Ku kira dia akan minta maaf. Dasar manusia berhati beku.
Aku langsung meninggalkannya.
Sungguh aku tidak mengerti. Seharusnya dia tidak melakukan hal itu. Sudah untung aku tidak mengganggunya 2 bulan ini. Seharusnya dia tidak perlu memulai komunikasi lagi. Ya walau pun aku tahu itu hanya basa basi saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
How to Be Yours ✅(completed)
Teen Fiction" Biarkan aku mencari cara untuk mengetahui ketulusan seseorang." - Nara
