Aku bukan perempuan yang lemah. Aku memang sakit hati. Tapi bukan berarti harus putus harapan. Aku tipe orang yang tak akan berhenti kalau belum sampai titik darah penghabisan. Aku selalu mengingat kata-kata Intan.
cinta itu ada karna terbiasa, Ra.
Mungkin aku perlu membuat Nando terbiasa dengan ketidakjelasan ku ini.
Mungkin aku bisa mencoba lagi. Kalau memang Nando tak berubah, aku harus mengalah.
Aku mencari kontak bernama NandoDS. Lalu aku mengetik sebuah pesan.
Nara : Hai, Nan.
20.08
NandoDS : Ya kenapa?
20. 13
Nara : Udah di rumah?
20.14
Bodoh. Kenapa tiba-tiba aku menanyakan hal itu. Sangat tidak penting. Tapi aku bingung saat ini ingin membahas apa.
NandoDS : Belom.
20. 20
Dalam detik yang sama, aku langsung membalasnya.
Nara : Kenapa belom? Udah malem loh besokkan harus sekolah.
20. 20
NandoDS : Urusan lo apa?
20. 21
Sebenarnya aku senang karna percakapan kita saat itu lumayan panjang. Tapi kalian bisa lihat sendiri jawaban Nando begitu ketus. Tadinya aku tak mau membalas lagi. Tapi tak ingin berhenti sampai situ saja.
Nara : Atau lo lagi jemput gebetan lo yang PHP itu ya?
20.23
Aku tahu aku lancang membahas hal yang sensitif mungkin bagi Nando. Tapi aku memancing saja agar dia membalas pesanku. Namun seperti biasa, pesanku hanya dibaca oleh Nando. Entah mungkin saking kesalnya hingga ia tak mau membalas pesanku. Lalu, Aku memutuskan untuk tidur karena besok jadwal piketku dan aku harus datang lebih awal.
Paginya di sekolah, setelah aku melaksanakan kewajiban piketku. Aku membuka ponsel untuk mengcek pukul berapa. Namun, saat aku lihat notifikasi ternyata ada pesan dari Nando. Memang sejak bangun sampai aku tiba di sekolah aku tak mengecek keadaan ponselku jadi aku tak tahu kalau ada pesan. Langsung saja ku buka pesan dari Nando.
NandoDS : Idam udah cerita apa aja sama lo?
23. 30
Dia sengaja mengangguri pesanku hingga jam setengah dua belas malam? Tidur jam berapa lelaki itu?
Tapi mengingat pesannya, aku bingung ingin balas apa. Sepertinya aku perlu konsultasi pada Idam. Aku takut salah ucap dan Nando akan marah.
Aku menunggu Idam datang. Tapi sepertinya hari ini Idam datang telat. Ya dia memang begitu. Langganan hukuman guru karena telat. Lima belas menit sebelum bel masuk, Idam sampai di depan pintu kelas, ah rupanya aku salah. Idam sudah bosan di hukum rupanya.
"Damm! "
Idam langsung menengok ke arahku. Tatapannya seperti malas padaku. Ada apa dengan Idam? Apakah aku berbuat salah? Atau dia sedang ada masalah? Atau ada hubungannya dengan pesan yang ku kirim pada Nando semalam?
Setelah meletakkan tasnya. Idam menghampiriku, ia mengambil posisi duduk di sampingku. Sepertinya Idam ingin membicarakan sesuatu. Aku sudah tebak pasti dia ingin membicarakan hal itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
How to Be Yours ✅(completed)
Teen Fiction" Biarkan aku mencari cara untuk mengetahui ketulusan seseorang." - Nara
