m a g i c

3.8K 223 8
                                        

Author point of view

Hari ini, Nara sudah janji untuk menemani Ilham mencari buku untuk referensi skripsinya. Selama empat bulan lebih Rita di Prancis,  Ilham memang selalu mengandalkan Nara untuk menemaninya karena Ilham adalah tipikal orang yang tidak bisa pergi sendirian. Dan Nara mengerti akan hal itu. 

Selain itu Ilham merasa Nara memiliki selera buku yang cukup bagus dan bisa diajak diskusi,  jadi tidak mungkin tidak mengajak Nara.

Di latar yang lain, Risa meminta Nando untuk menemaninya membeli oleh-oleh karena esok Risa akan pulang ke Jakarta.

Mau tidak mau Nando harus menemaninya karena Nando tau Risa memang tidak mengenal siapa pun di Jogja selain Nando. Toh juga Nando hanya menganggap Risa ini temannya jadi tidak ada salahnya. Nara juga mengatakan pada Nando bahwa malam ini dia ingin menemani Ilham membeli buku. 

Rencana Nando yang sudah di susun rapi untuk menyatakan perasaannya pada Nara justru berantakan. Nando berniat malam ini dia menyatakannya tapi ternyata Nara punya janji di malam hari dan tiba-tiba Risa minta ditemani membeli oleh-oleh.

------
Nara yang sedang asik menikmati hidangan yang ada di depannya harus menghentikan kegiatannya karena ada nomor tidak di kenal menghubunginya

" Halo,  ini Nara? "

" Ya. Siapa ya?"

"Gue Risa,  Clarissa. Lo tau gak kosnya Nando di mana? Soalnya dia bilang mau jemput tapi gak sampe-sampe. "

" Maaf, Sa.  Gatau. "

Setelah itu Risa memutuskan telfon. Setelah itu Risa mengirim screenshoot chatnya dengan Nando tanpa Nara minta.

Nando : Risayang. Kamu di mana?

Risa.     : Hotel. Knp?

Nando : Gak kangen?  Keluar yuk. Aku jemput. Otw sayang. 

Nara yang tadinya bersemangat memakan sushi,  langsung tidak nafsu makan. Kolom-kolom chat itu cukup membuat Nara semakin tidak mengerti dengan Nando.

Nara tidak membalas foto yang dikirim Risa tadi. Namun, Ilham mrnyadari bahwa ada sesuatu yang salah.

" Ra. Kenapa? "

" Gapapa, Mas. Tiba-tiba sakit perut. Abis ini langsung pulang ya? "

Ya. Nara berbohong. Nara tidak pernah bercerita pada siapa pun tentang perasaannya pada Nando saat ini. Dia hanya Menyimpannya rapat-rapat karena dia tau Nando memang sulit di gapai. Benar saja. Setalah manisnya sikap Nando belakangan ini, justru menjadi kelemahan dan boomerang untuk Nara. 

Ilham merasa Nara perlu istirahat dan mengabulkan keinginan Nara mengantarnya pulang. Padahal Ilham berencana mengajak Nara minum kopi atau susu di bukit bintang.

-------------------
Sementara di dalam mobil Nando

" Nan, Nara siapa sih? Gak mungkin kan pacar lo? " tanya Risa cukup sinis.

" kenapa gak mungkin? Dia kan perempuan. " jawab Nando tak kalah sinis.

" Ohiya, Sa.  Ini udah semua kan? Gue anter lo ke hotel ya. Sorry gue gabisa nganter besok ke stasiun. " lanjut Nando. Sebenarnya sebuah kalimat halus untuk tetap tidak bersama Risa.

" hmm. " hanya itu jawaban Risa karena dia tidak mood dengan sikap Nando saat ini.

----------------------

Sudah tiga hari setelah itu,  Nara tidak memberi kabar sama sekali. Berkali-kali Nando mencoba menghubungi Nara tapi tidak ada jawaban. Namun, hp Nara aktif. Hanya saja dia tidak ingin berbicara pada Nando. 

Setiap malam selama tiga hari tanpa kabar,  Nando mendatangi kos Nara. Namun, selalu saja teman kosnya mengatakan Nara tidak ada di kos.

Kalian pasti mengerti betapa kacaunya Nando saat ini. Di saat ia ingin menyatakan perasaannya pada Nara,  justru sang empu menghilang tanpa kabar.

Tak kalah dengan Nando. Nara pun juga sangat hancur. Di saat dia merasa Nando memiliki rasa yang sama, di saat itu pula ia ditampar oleh harapannya sendiri.

Akhirnya Nando meminta bantuan Sulis untuk mempertemukannya dengan Nara.

" Ra,  temenin gue makan yuk. Ada resto baru. Gue bayarin!"

" Gak deh, Lis. Lagi ga nafsu makan."

"Ayo lah! Ini enak banget lo gak bakal nyesel. "

" Oke. Pulang kuliah langsung aja ya. "

Ya begitulah rencannya. Klasik. Tapi Nando yakin dengan begitu dia bisa bertemu Nara dan menanyakan perubahan sikap Nara.

Salis sudah menghubungi Nando bahwa sore setelah pulang kuliah ia mengajak Nara makan di restauran jepang yang baru buka cabang.

Nara dan Salis sudah sampai di tempat makan. Mereka sudah memesan makanan dan tinggal menunggu hidangan masak.  Waktu menunggu ini justru yang dimanfaatka Salis untuk pergi.

" Ra.  Gue ambil uang dulu ya di ATM sebrang. "

Nara tak menjawab dia hanya mengangguk. Nara tidak mengetahui di sebrang sudah ada Nando menunggu Salis menghampirinya.

Dengan berlari kecil,  Nando dan Salis menghampiri Nara yang duduk sendiri. Nara terkejut dengan keberadaan Nando di hadapannya.

" Ra. Ikut gue ke mobil. Please kalo lo gamau restaurant ini rame. "

Nara berpikir benar juga. Dia tidak mau jadi tontonan gratis. Ia setuju menuju mobil Nando.

" Lis. Duluan, ya. "

Salis mengerti dan mengizinkan karena juga dia dalang dibalik pertemuan ini.

" Kenapa lo gak angkat telfon gue? "

" mau menjauh? Ngilang? Gitu? "

"lo gak ngerti perasaan gue gimana,  Ra?"

" Ra. Gue sayang banget sama lo. Jujur kemarin sebetulnya gue mau nyatain perasaan,  tapi lo ngilang gitu aja. Lo kenapa? Kenapa?  Salah gue apa? "

Tidak butuh waktu lama. Di mobil Nando langsung membombardir Nara dengan pertanyaannya. Nando emosi karena tidak mengerti dengan sikap Nara. 

Nara merasa terintimidasi. Seharusnya dia yang marah. Nara diam sambil menyusun kalimat yang akan dia katakan pada Nando. 

" Nan. Mau lo tuh apa sih? Gak cukup ya dulu 2 tahun lo nyakitin gue? Gue sangat menerima setiap penolakan lo,  Nan. Sekarang rencana apa lagi? Gue pernah ngelakuin apa sih sampe lo segitu bencinya sama gue? Kalo lo gak nyaman dengan keberadaan gue, tinggal minta gue pergi.  Gak usah pake drama-drama sinetron kayak gini, Nan. Tanpa lo nyusun skrip lo yang indah ini,  gue cukup sadar kalo cinta sama lo itu sebuah kesalahan besar. "

How to Be Yours ✅(completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang