" Nan, lo masih sayang gak sih sama gue? " Ucap perempuan yang saat ini singgah di bangku samping Nando.
Aku masih tidak mengerti sebenarnya Nando ini mau apa. Tiba-tiba mengajakku keluar, padahal sudah ada seseorang yang menemaninya. Kalau aku tau dari awal perempuan ini ikut, lebih baik aku tidak menyetujui ajakan Nando.
Apa Nando sengaja mengajakku untuk menjadi nyamuk dan aku harus sadar bahwa memang tidak ada kesempatan. Baiklah, kalau begitu maunya.
perempuan itu yang ada di foto kiriman Idam malam itu. Dugaanku semakin kuat bahwa ada hubungan spesial antara mereka berdua.
Nando tidak menjawab pertanyaan itu. Sedangkan aku semakin merasa asing di dalam mobil ini. Aku mencari cara agar dapat keluar dari sini.
Aku mencari pengaturan nada dering, lalu ku nyalakan biar seolah-olah ada yang menelfonku berkali-kali.
" Kenapa Sal? Yaampun.. Ohiya iya oke gue ke sana sekarang! "
Ya aku berbicara sendiri. Padahal Salis tidak menelfonku.
Dua orang di depan sepertinya mengerti aku dalam keadaan genting.
Syukurlah mereka tidak curiga.
" Nan, turunin gue di depan aja. Temen gue sakit. "
" Gue anter aja Nar abis ngedrop Risa ke hotelnya. "
"mm gak usah Nan, sorry ya."
" yakin sendiri? "
" iya."
Nando mengela napas berat. Akhirnya dia menurunkan ku di pinggir jalan. Setidaknya itu lebih baik dari pada membiarkan melihat mereka berdua di dalam mobil.
Karena bingung mau ke mana. Akhirnya aku memesan ojek online ke arah kosku.
Huft. Lebih baik di kos tapi pikiranku tenang sambil mengerjakan tugas.
Sampai di kos, aku mencuci muka untuk bersiap tidur lebih awal. Namun saat aku mencuci muka, tetangga kosku memanggil.
" Ra ada tamu. " teriaknya dari luar kamarku.
" Siapa mba? "
" Mbuh katane de'e pacarmu. "
Sejak kapan aku punya pacar. Apa itu Mas Ilham? Biasanya dia suka jahil.
Saat aku membuka pintu, dia sudah duduk di sofa tamu.
" Hai,Ra. Udah jenguk Salisnya? "
Aku hanya tersenyum. Semoga dia gak tau kalo aku bohong. Aku tak berniat membalas pertanyaannya.
" Kok di sini, Nan?"
" Kenapa? Gak suka ya gue di sini? "
" Gak kok. "
" yauda ganti baju Ra, kita makan. Cepet! "
Nadanya sedikit meninggi. Aku takut sebenarnya. Dari pada Nando mangamuk, mau tidak mau aku ikuti keinginannya.
Selesai mengganti baju. Aku turun dan menuju mobil Nando. Entah kemana Nando akan membawaku pergi.
" Gue tau kok Salis gak sakit. "
Deg. Aku mempasrahkan saja diriku yang bodoh ini. Dari mana dia tau Salis tidak sakit. Apa jangan-jangan dia punya mata-mata?
" perempuan yang tadi ke mana? "
Dari pada membahas kebohonganku lebih baik ku bahas perempuan yang sejak malam itu memang sudah ingin ku tanyakan.
" Ga usah mengalihkan pembicaraan, Ra. "
" Ya gue gak mau aja ganggu kalian berdua. "
See? Nando diam dan tidak menjawab. Seakan-akan menyetujui keputusanku melipir. Dia diam sepanjang jalan. Aku juga tidak mood untuk berdebat.
Mobil Nando berhenti di angkringan saat kami pertama bertemu di Jogja.
Aku mencari tempat dan Nando memesan makanan.
Saat kami menunggu makanan. Akhirnya Nando membuka suara.
" Sorry ya gue gak bilang soal Risa. Dia lagi liburan dan minta anterin ke hotel. Itu aja. Kebetulan hotelnya searah sama kos lo. Kami cuma teman. Dan.. Lo gak ganggu sama sekali. Justru dia yang ganggu."
Nando menjelaskan seolah-olah dia tau setiap pertanyaan yang berkumun di kepalaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
How to Be Yours ✅(completed)
Novela Juvenil" Biarkan aku mencari cara untuk mengetahui ketulusan seseorang." - Nara
