Setelah kejadian roti bakar. Aku semakin yakin bahwa ada sesuatu di antara Nadia dan Nando. Aku semakin merasa tak berdaya dan tak semangat. Nandoku sudah punya pilihan.
Tidak kah Nando memikirkan ku walau hanya sedetik saja ? Setelah 2 bulan ini terhitung aku sudah masuk dalam kehidupannya ?
Di sekolah hari itu aku banyak melamun. Entah apa yang ku pikirkan. Mungkin karena masih memikirkan apa yang kemarin Nando sudah lakukan.
Siang ini jadwal mata pelajaran Bahasa Perancis. Namun sudah 20 menit Madame Kartika belum juga datang ke kelas. Sebagai ketua kelas, aku segera menghampiri meja Madame Kartika.
Saat aku masuk ruang Waka. Karena madame kartika adalah salah satu wakil kepala sekolah, oleh karena itu ruangannya berada di ruang Waka. Aku kaget melihat Nando dan satu temannya sedang berdiri di depan meja Pak Dendi yang berada di ruang Waka. Nando terlihat seperti di sidang.
Saat aku membuka pintu, semua mata tertuju padaku tak terkecuali Nando. Aku tahu betul kalau Nando melihat ke arahku, namun aku pura-pura menunduk dan langsung menghampiri madame kartika.
" Oh iya Nara. Tolong kerjakan exercise ini saja ya. Saya sedang ada urusan."
" siap, Madame."
Seperti peka, Madame langsung memberikan setumpuk kertas berisi tugas untuk dikerjakan. Tanpa basa-basi aku meninggalkan ruang waka.
Saat aku berjalan menuju kelas, aku memikirkan sebenarnya apa yang dilakukan Nando.
Saat jam pulang sekolah,tiba-tiba Nidya datang memberi kabar buruk.
"Ra, lo tau ga ? Nando dari tadi siang dipanggil waka dan belum balik."
Ruang Waka adalah ruangnya para wakil kepala sekolah. Dimana setiap anak yang di sana antara anak osis dan anak berprestasi yang memiliki urusan atau yang punya masalah.
Aku berusaha berpikir positif mungkin Nando diperintahkan mengikuti lomba atau dia ada keperluan di Waka.
" ya terus kenapa ? "
Sebenrnya aku tau Nando ada di sana, tapi untuk mengulik apa masalahnya. Aku pura-pura tidak tau dan membiarkan
Nidya menceritakan semua kejadiannya.
Ya seperti yang kalian sangka. Nando berbuat masalah. Dia mencoba melarikan diri dari sekolah saat solat jumat. Nando dan Arya teman sekelasnya memanjat tempok samping sekolah, namun na'as aksinya dilihat oleh pak Dendi guru sejarah sekaligus guru yang paling disegani di sekolah kami. Lalu Nando dan Arya diproses di ruang waka.
Rasa khawatir ada, namun rasanya sudah tidak asing lagi mendengar masalah Nando di sekolah.
Sebelum pulang, aku menuju ruang waka untuk meletakkan tugas bahasa perancis yang tadi diberikan oleh Madame Kartika.
Saat aku masuk, tak ada satu pun guru. Hanya ada Nando yang sepertinya sedang menjalankan hukumannya. Di ruangan itu hanya ada aku dan Nando.
Sebenarnya aku deg-degan. Tapi tetap stay cool agar tidak terlihat semakin menyebalkan di mata Nando. Nando tidak terganggu dengan keadaanku.
Aku melihat sesuatu yang menarik di papan kerja dinding Madame Kartika. Di sana tertulis nomor dari Nando. Langsung saja aku mengeluarkan handphone ku dan menyimpannya. Untuk koleksi saja, siapa tahu jadi mantu.
Setelah itu dengan terburu-buru aku keluar dari ruang Waka. Saat aku membuka pintu, seseorang mengatakan sesuatu.
" Ra, makasih ya Rotinya."
Aku tidak menyangka kalau Nando akan mengatakan itu. Pipiku memanas, aku tidak berani menengok kebelakang hanya untuk melihat ke arahnya. Aku sangat malu.
Namun, mengingat bahwa rotiku dimakan oleh gebetannya, rasa kesalku muncul. Lalu aku hanya berhenti sejenak, dan aku langsung keluar.
Semoga Nando sadar kalau aku tau apa yang dia lakukan. Tapi aku juga senang dia mau berbicara padaku. Setidaknya aku tidak benar-benar diabaikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
How to Be Yours ✅(completed)
Teen Fiction" Biarkan aku mencari cara untuk mengetahui ketulusan seseorang." - Nara
