Awkward.

3.6K 223 4
                                        

Di perjalanan kami tidak membicarakan apa pun. Nando diam tanpa kata,  aku pun juga.

Sebetulnya banyak hal yang ingin ku tanyakan. Seperti ,
kapan dia pulang? Mobil siapa yang dia bawa saat ini?  Bagaimana keadaan dia sekarang? Bagaimana dia bisa tau alamat kosku?
Kenapa dia menelfonku berkali-kali?
Kita akan pergi ke mana?
Dan masih banyak lagi.
Tapi melihat sikap Nando yang dingin,  membuatku enggan menanyakan pertanyaan pertanyaan itu.

Dia memberhentikan mobil di parkiran rumah makan yang tidak jauh dari kosku.

" Mau makan apa? "

" ha? "
Aku tidak fokus karena sedang membalas pesan Mas Ilham yang sedang curhat soal Mba Rita.

" yauda kalo gak mau. "

Sepertinya Nando benar-benar sedang tidak mood malam ini. Lagi pula aku juga sudah makan tadi. Toh juga dia hanya minta di temani. 

Setelah Nando balik ke kursi, aku meletakkan handphone ke tas. Takut Nando tambah marah. 

Kami benar-benar diam. Akhirnya aku berusaha mencairkan suasana. 

" Lo marah ya gara-gara nunggu gue lama? "

" pikir aja sendiri !"

Sumpah sangat kesal. Aku mencoba bertanya baik-baik tapi jawabannya sangat ketus. 

" Yauda gue balik aja deh."
Aku mengeluarkan handphone untuk memesan ojek online,  namun dengan cepat Nando merebutnya.

"Tadi abis dari mana?"

Aku diam sebentar. Sejak kapan Nando jadi sekepo ini? Yasudah ku jawab dari pada dia tambah emosi.

" Nemenin Mas Ilham beli buku. "

" Pacar lo? "

Sekali lagi. Nando posesif. Ah tidak Nara.  Dia hanya kesal karena menunggumu lama tadi.

" Bukan. Temen. "

Tak lama pelayan datang membawa pesanan. 

" Permisi, satu nasi goreng pedas dan satu lagi tidak pedas. Minumnya teh hangat ya, Mas? "

" iya."

Dasar.  Ku kira dia hanya memesan satu.  Diam-diam memesankan makanan untukku. 

" Makan! "
Perintah Nando.

Saat makan, kami tidak melanjutkan perbincangan. Dia fokus makan dan aku fokus memikirkan sebenarnya Nando ini kenapa. 

Selesai makan,  ku kira dia langsung mengantarku pulang. Dia sengaja memutar arah.

" Gue dari jam 8 di kos lo. "

" Siapa suruh mau balik gak bilang. Chat gue juga gak lo bales."

Aku mulai agak kesal karena Nando seakan-akan memojokkan aku.  Padahal salah dia juga tidak memberi tau.

Nando diam. Sepertinya aku salah bicara.

" Yauda maaf ya Nando,  gue gatau kalo lo mau ke kos.  Maaf juga gak angkat telfon."

Aku berusaha menahan emosi dan mengalah. Mengingat Nando juga masih dalam masa duka. 

" Mas Ilham. Yakin cuma temen? "

Tidak ada sangkut paut.  Tau tau dia menanyakan Mas Ilham.

" Iya.  Udah kayak kakak. Kenapa? "

" soalnya gue sering liat lo sama dia. "

" pacarnya..eh mantannya,  kakak tingkat gue. "

Selanjutnya aku menceritakan bagaimana hubunganku dengan Mas Ilham. Bagaimana saat kami bertemu dan akhirnya dekat seperti adik-kakak. Kebetulan Mas Ilham ini juga fat boy, jadi sedikit banyak kami memiliki pengalaman yang tidak jauh berbeda. 

Sebenarnya aku ingin menanyakan pe rempuan yang ada di foto itu. Tapi sudahlah, saat ini aku anggap Nando teman dan dia hanya butuh teman seperti aku saja. Aku tidak akan menganggapnya lebih supaya aku tidak sakit hati. 

Nando mulai tenang dan tidak semarah tadi. Tapi dia belum mau pulang.

" Nan,  lo gak capek? "

" Engga. Kan udah istirahat duduk dua jam tadi. "
Ups ku pikir dia sudah lupa. Dia menekan kata dua jam untuk menyindir.  Salah aku bertanya.

" Pulang ya? Udah jam 11. Besok gue harus kuliah. "

" oke."

Dia putar arah menuju kos ku.
Di jalan Nando menceritakan soal hal-hal yang dia alami saat menuju jogja karena ini pertama kalinya dia pergi jauh menggunakan mobil tanpa teman. Aku hanya mendengarkan saja dan sesekali bertanya. Aku rasa, Nando salah satu teman bicara yang asik. Aku tidak suka bercerita,  hanya senang mendengarkan.  Tapi Nando sebaliknya. 
Cukup melengkapi bukan? Hehe

" Makasih ya,  Nan. Hati-hati! "

Dia hanya mengulas senyum setelah itu aku langsung masuk.

Kalau dipikir.  Lucu juga Nando saat marah.

How to Be Yours ✅(completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang