Jujur. Semenjak keberangkatan Nando ke Jakarta, aku sangat cemas. Mengingat Nando sangat lemas dan masih tidak percaya bahwa sang ayah sudah tiada. Ingin rasanya mendampingi Nando sampai Jakarta, tapi karena esok masih ada jadwal ujian dan aku harus tetap di Jogja.
Sebenarnya sudah dari pagi aku ingin menghubunginya hanya untuk sekedar menanyakan apakah dia sudah tiba, apa dia sudah makan. Tapi tidak bisa. Egoku mengatakan untuk tidak menjadi Nara yang dulu.
Perkataan Nando dulu juga yang membuat aku berubah. Aku mulai berpikir, fisikku memang tidak menjual, tapi setidaknya jangan menjadi murahan.
Aku juga bingung akan perasaan ini. Entah hanya karena peduli atau memang ternyata aku masih mengharapkan Nando, apalagi sikapnya yang berubah 180 derajat dibandingkan Nando saat SMA.
Malam hari kupikir adalah waktu yang tepat untuk menghubungi Nando. Karena acara pemakaman pasti sudah selesai. Aku memberanikan diri untuk menelfonnya.
Suaranya sudah lebih baik dan terdengar memang dia sudah baik-baik saja.
Setelah menghubungi Nando, aku merapikan tempat tidur.
Terdengar notifikasi dari Handphone ku
Idam sent a photo
Tumben sekali dia. Terakhir kami berhubungan setelah lulus SMA.
Cukup mengejutkan. Entah apa maksud Idam mengirimkan foto itu.
" Ada apa Dam? Tumben ngechat? Ngirim foto lagi. "
" Gue tadinya mau ke Nando, soalnya siang tadi belum sempet nyelawat Ra. Eh pas mau samperin ada tamu spesial lagi ngobrol kayaknya. "
" yauda Dam, kan udah gak ada urusan lg gue sama Nando. "
" Ya siapa tau lo kangen dia Ra. Iseng aja gue foto. "
Sepertinya Idam belum mengetahui aku dan Nando saat ini. Tapi,
Mendengar kata ' Tamu Spesial ' cukup membuatku gelisah. Kalau Idam sampai mengatakan itu, artinya dia tau ada hubungan apa antara Nando dan perempuan itu. Aku sedikit berbohong untuk tidak memperdulikan foto itu. Tapi nyatanya masih sakit.
Mungkin memang Nando hanya butuh teman di Jogja dan cukup mulai malam ini aku harus bersikap layaknya teman biasa.
-------------------------
Dugaanku semakin menguat karena setelah Nando mengirimkan foto itu, Nando berubah menjadi 'cuek'. Dia tidak membalas pesanku dan hanya dibaca. Persis seperti Nando yang dulu.
Mungkin setelah bertemu perempuan itu, dia berubah pikiran dan menyesal telah berbuat baik padaku beberapa hari ini.
Tapi ya sudahlah, memang sedari awal aku harus yakin bahwa Nando tidak akan pernah tertarik dengan Nara.
Aku mejalani hariku normal seperti biasa. Tidak terlalu kecewa atas kecuekan Nando karena itu hal yang biasa.
Malam ini, aku menemani Mas Ilham membeli buku di pusat perbelanjaan.
" Mas."
" Apa Ra? "
" Kamu ga punya teman selain aku? "
" kamu pikir aku ini anti sosial. "
" Aku cuma ga enak aja sama Mba Rita, nanti dia pikir kita ada apa-apa."
" Rita selingkuh Ra. "
Mas Ilham menceritakan semuanya. Pantas saja belakangan ini Mba Rita sudah tidak menanyakan kegiatan Mas Ilham lagi.
Cukup mengejutkan. Aku tau betul gimana Mas Ilham sangat sayang sama Mba Rita dan sebaliknya. Ku pikir hubungan mereka akan berakhir di pelaminan. Aku merasa kasian dengan Mas Ilham, karena bagaimana pun aku menganggapnya seperti kakakku sendiri.
Sudah pukul 10 malam, Mas Ilham mengantarku pulang.
" HP lo mati? "
Aku kaget ternyata Nando sedang duduk di teras kosku. Dari mana dia tau alamat kosku?
"Eh Nan. Kok bisa di sini?"
"HP lo kemana?"
Nando terlihat sedang marah. Apa karna aku? Tapi aku salah apa?
Aku mencari Handphone di tas. Ternyata benar ada 15 panggilan tidak terjawab. Aku lupa mematikan mode sunyi karena tadi ujian. Ku pikir juga tidak ada yang mencariku.
" Maaf, Nan. Lupa matiin mode sunyi."
" Temenin gue makan! "
KAMU SEDANG MEMBACA
How to Be Yours ✅(completed)
Novela Juvenil" Biarkan aku mencari cara untuk mengetahui ketulusan seseorang." - Nara
