down?

3.5K 194 6
                                        

kegiatanku normal seperti biasanya. kedua adik-ku pindah ke rumah orang tuaku. mereka mengontrak rumah yang jauh jaraknya dari rumah nenekku. karena kebetulan juga ayahku mendapatkan proyek di sana. aku merasa senang karena perlahan-lahan semua bisa kembali seperti semula dan menerima keadaan dengan ikhlas.

terkadang aku rindu pada keramaian yang diciptakan kedua adikku. terkadang kami bertengkar, saling bercerita tentang hari sekolah. ku harap kalian bisa merasakan apa yang aku rasakan.

hari ini tepat malam menuju minggu. aku merasa sepi. karena jarak rumahku jauh dari sekolah, jadi aku tidak begitu sering menghabiskan waktu dengan teman-teman sekolahku. aku menghabiskan malam mingguku dengan laptop dan buku.

Line! suara notifikasi dari line yang menyerupai suara anak kecil berdering.

Diva : Ra, gue ke rumah lo ya sama Nisa?

aku : iya, sini saja.

Diva adalah teman baikku sejak SMP. sejak SMP kami masih sering baik bersama walau hanya seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali. kami selalu bertukar cerita. Diva adalah sosok perempuan yang diidam-idamkan lelaki. tubuhnya yang ramping dan tinggi serta wajah yang enak dilihat membuatnya selalu mejadi magsa para lelaki mulai dari yang biasa saja hingga yang tampan sekali pun. Diva tak pernah minder bersahabat denganku, namun terkadang aku yang selalu merasa insec-ure. kami beda sekolah, itulah yang membuat kami jarang bertemu. tapi komunikasi via chat masih terus dilakukan. terkadang kami pun suka bertukar cerita dan pikiran.

Nisa. dia teman yang paling dekat denganku. Nisa satu sekolah dengan Diva, jadi mereka lebih sering bertemu dan main bersama. bisa dibilang aku lebih dekat dengan Nisa dibanding dengan Diva. Aku lebih sering membagikan cerita dengan Nisa. Nisa tau soal ceritaku tentang apa pun kecuali tentang masalah keluargaku.

10 menit setelah mengirim pesan, mereka sudah tibs di depan rumahku.

" nenekk......nenekk." teriak Diva dari luar rumah.

begitulah mereka, sudang menganggap nenekku seperti nenek mereka. mereka sudah tak canggung di rumahku. saking dekatnya.

" Nara, ada Diva sama Nisa ini."

aku yang sedang berada di balkon atas, segera turun menghampiri mereka. tak lama setelah mereka masuk ke pintu rumah, mulut Diva sudah tak tahan ingin menceritakan sesuatu.

" EH RA TAU GAK SIH. KAK DHUHA NGECHAT GUE DONG." ucapnya menggebu-gebu.

" brisik bukannya salam." kesal Nisa.

Kak Dhuha adalah salah satu kakak kelasku di sekolah SMA yang bisa dibilang most-wanted. tubuhnya yang bisa dibilang mendekati sempurna, wajahnya yang imut dan akademik yang bisa dibilang baik membuat para siswi di sekolahku atau disekolah lain menyorotinya. dulu waktu awal masuk sekolah, aku pernah menceritakan soal Kak Dhuha pada Diva. mulai saat itu dia tertarik pada kak Dhuha. Setelah Diva menceritakan panjang lebar tentang kronologi chattingannya dengan Ka Dhuha akhirnya Diva memberikan ponselnya pada ku.

"itu baca saja coba." perintahnya memintaku untuk membaca percakapannya dengan kak Dhuha.

saat aku membuka aplikasi Line di ponsel Diva. aku melihat sesuatu yang aneh. di sana banyak sekali lelaki yang mengirim pesan pada Diva hanya untuk ingin berkenalan lebih dekat dengannya. Namun hampir semua yang tidak Diva kenal, tak dibalas olehnya.

NandoDS : Hai, Div. Boleh kenalan?

sungguh. aku kaget melihat ada nama Nando di sana. Nando dapat kontak Diva dari mana?

ternyata selera Nando yang seperti Diva.

langsung saja ku tanyakan pada Diva.

" Div, lo kenal Nando?"

" Gatau anjir siapa sih? sok kenal. lo kenal, Ra?"

Nisa yang mengetahui ceritaku tentang Nando. hanya diam sambil berpura-pura memainkan ponselnya. aku memang ingin menceritakan pada Diva soal Nando, namun aku selalu lupa karena Diva selalu memotongnya dengan ceritanya sendiri.

Mungkin lebih baik aku tak memberitahu Diva soal Nando. aku takut Diva merasa tak enak hati denganku, dan aku masih ingin melihat apa yang dilakukan Nando selanjutnya pada Diva. aku segera mengirim pesan ke Nisa walau pun jarak kita sangat dekat agar Diva tidak curiga.

aku : diem saja ya, pura-pura gak tau.

nisa : siap, bos.

saat mereka hendak pulang. aku kembali ke kamar. kenapa rasanya begitu sakit saat melihat pesantadi. aku tidak lagi fokus pada persoalan chat Diva dan Dhuha. namun, aku terpaku pada pesan yang dikirim Nando padanya. aku tak menyangka. ternyata sainganku adalah sahabatku sendiri dan sudah dipastikan jika Diva menanggapi Nando, aku hanya kan menjadi butiran debu yang tak lagi ada artinya di mata Nando ( walau pun sekarang juga begitu ).

How to Be Yours ✅(completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang