HomeWork

3.5K 170 1
                                        

Aku percaya kalau Diva tidak akan menanggapi Nando, secara Nando jelas bukan selera-nya.

Saat aku sedang mengerjakan tugasku, notifikasi line di ponselku berdenting.

Nidya : Ra, kamu udah ngerangkum pengeluaran acara ?

Nidya adalah pathner ku di Osis. Ya kami sedang sibuk dengan acara hari Kartini yang akan dilaksanakan dua minggu ke depan.

Nidya adalah siswi kelas IPA 2. Ya benar. Nidya adalah teman satu kelas Nando.

Di tengah percakapan chat, aku basa basi menanyakan kepada Nidya.

To Nidya : Nid, kamu gaada PR ?  Kok jam segini belum tidur ? 

Sebenarnya aku enggan menanyakannya. Namun demi mencari informasi yang bersangkutan dengan Nando akan ku jalani.

Nidya : Ada sih, Ra. Matematika tapi dah selesai.

Me : tugasnya apa ? 

Nidya : emang kenapa, Ra ?

Me : nanya aja sih

Agar Nidya tidak curiga. Akhirnya aku memutuskan tak melanjutkan pertanyaanku. Setidaknya aku tahu kalau Nando ada tugas matematika.

Niatnya aku hanya ingin mengetahui saja tugas Nando. Tapi entah kenapa rasanya diri ini ingin mengirim pesan pada Nando agar mengerjakan tugas matematika-nya.

To Nando : Nan, jangan lupa ya tugas matematika buat besok dikerjakan. :)

Sent.

Setelah melewati pergolaka batin akhirnya pesan itu berani ku kirim pada Nando. Entah aku tak ingin pusing akan menjawab apa ia nanti. Siapa tahu usaha pertama ku ini membuat hatinya sedikit tergerak.

Setelah itu , aku melanjutkan mengerjakan tugasku sendiri.

Hampir 4 jam aku mengerjakan tugas dan saatnya istirahat untuk tidur. Aku lupa kalau tadi ponselku bermode getar jadi aku tak tahu kalau ada notifikasi.

Setelah merapikan buku untuk esok serta menyiapkan segala keperluan sekolag, aku menuju kamar untuk segera tidur. Namun aku hendak mengecek ponselku sebelum tidur.

Saat ku geser portal notifikasi.

NandoDS : Ya.

Pelit banget sih ngetik aja.
Batinku saat melihat jawaban Nando.

Ternyata sangat sulit untuk menggerakkan hatinya saja. Apalagi mendapatkannya.

Namun aku tak boleh lengah. Mungkin sekarang dia menyia-nyiakanku.
Suatu saat ku buatnya bertekuk lutut padaku.

Ah memang bisa ? Coba saja lah.

-------------

Keesokannya di sekolah, aku bertemu dengan Nidya di kantin.

"Hai, Nid." awalnya niat ku hanya menyapanya.

"Eh, Ra. Kenapa semalem nanyain tugas ? "

Wah benar saja Nidya curiga. Pasalnya memang kelasku dan kelasnya tak ada relasi apa pun. IPA dan Bahasa sangatlah kontras. Kalau ingin mencari alasan bahwa aku ada hubungan dengan matapelajaran IPA sangat terlihat aku sedang berbohong.

" nanya aja, sok perhatian gitu." jawabku asal sambil bercanda agar Nidya tak terlalu curiga.

" bohong !  Kenapa gak ?  Pasti ada apa apa nih ! "

Sejenak aku berpikir. Apakah aku jujur saja pada Nidya. Barang kali Nidya bisa ku jadikan informan pengganti Idam.

" eh, pulang sekolah ikut rapat kan, Nid ? "

"iya. Lu ikut kan ? "

"iya nih. Nanti deh gue cerita pas rapat ya. "

Kriiiinggggg
Bel menandakan bahwa jam pelajaran telah selesai dan berlanjut di esok hari.

Aku segera merapikan buku ke dalam tas. Setelah itu menuju ruang sekretariat Osis karena hari ini memang ada rapat untuk membahas hari kartini yang akan diadakan nanti.

Saat keluar kelas. Pemandangan yang membuat mataku tiba-tiba perih melitas.

Nando jalan berdampingan dengan Nadia.

Ya. Nadia. Nama yang waktu itu ku dengar di masjid. Nama yang dipasangkan oleh nama Nando.

Mereka terlihat seperti sedang membicarakan sesuatu yang asik sampai tertawa.
Pertama kali aku melihat senyum Nando secara langsung selain dari foto.

Sebahagia itu kah Nando dengan Nadia ?

Sakit. Tapi aku tak ada hak apa pun. Milikku pun bukan.

" Ra !!  " lamunanku dihentikan oleh suara nyaring Nidya.

" jajan dulu yuk sebelum mulai rapat ! "

"ah. Ayok." jawabku singkat.

Aku dan Nidya menuju gerbang depan sekolah. Karena di sana banyak pedagang. Seperti biasa Nidya membeli papeda makanan favoritnya. Sambil menunggu makannya jadi, aku sedikit menengok ke arah warung Bu Siti. Barangkali ada Nando sedang nongkrong sebelum pulang.

Saat mataku sibuk mencari sosok di warung bu Siti. Tiba-tiba Nidya memanggil nama seseorang.

" Nadia !  Cieee mau pulang bareng ya ? "

Langsung aku mengarah ke lawan bicara Nidya. Benar saja. Dua sosok yang membuat mataku perih tadi.

Nadia. Dibonceng oleh Nando. Sepertinya mereka pulang bersama.
Nando dan Nadia melihat ke arah kami berdua.

Saat aku fokus pada Nando, Nando menatap mataku. Dengan raut datar. Tak bisa aku artikan.

Aku tak bisa menutupi kekesalanku. Iya. Aku cemburu.

"Nid, aku masuk duluan ya sakit perut." pura-puraku.

"eh tunggu bentar. Eh Nan, Nad gue duluan ya. Hati-hati. Raaa tungguin."

Samar samar ku dengar suara Nidya meneriakkan namaku.
Sungguh hancur sekali melihat adegan boncengan tersebut.
Karena aku tak kuat menahannya sendiri. Langsung ku ceritakan semua pada Nidya.

"jadi lo suka sama Na-. Aw ! "

Sebelum Nidya dengan lengkap menyebutkan nama Nando, langsung ku injak kakinya. Pasalnya keadaan sekitar sedang ramai. Kami sedang duduk di gazebo taman belakang sekolah.

"tenang aja, Ra. Gue pasti bantuin lo kalo butuh bantuan."

"serius ? Tapi kan Nando udah ada cewek."

"mereka gak pacaran, cuma diledekin aja di kelas. Mungkin Nadianya kebaperan tapi sih Nando biasa aja di kelas."

Penjelasan Nidya sedikit banyaknya membuat semangat juangku bangkit sedikiz demi sedikit.

" Nid, besok gue mau ngasih sesuatu ke Nando. Lo bantuin ya ? "

To be continue.
-----_-------------

mau tau ulah apalagi yang akan dibuat oleh Nara ? 
Tunggu part selanjutnya ya !! 

Sorry baru update. Kemarin laptopku habis masuk klinik. Hehehe

Tanks for support you guys.

How to Be Yours ✅(completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang