Kehidupan pernikahan memang tidaklah semudah yang ku bayangkan. Bahkan bisa dibilang lebih sulit dari saat-saat aku berjuang mendapatkan Nando.
Rasanya campur aduk. Namun aku bersyukur. Lelaki yang dulu sangat aku inginkan, dia lah yang menjadi pendamping hidupku.
Yang sudah ku bilang, Nando adalah orang yang tidak mudah ku prediksi. Awal ketika aku menyukainya, aku pikir dia orang yang mudah didapatkan. Tidak. Namun ketika aku melepaskannya, dia muncul dengan kegigihannya. Saat aku tidak yakin akan keseriusannya, dia justru meresmikannya. Hingga kini, aku selalu terkejut dengan segala perbuatannya.
Pagi ini aku bangun telat karena hari ini aku libur bekerja.
Aku mengintip, orang yang tidur di sebelahku sudah berangkat kerja. Sedikit merasa bersalah karena tidak mengurusnya tadi pagi. Tapi Nando bukanlah suami yang banyak menuntut.
Aku bergegas ke dapur untuk mencuci piring kotor bekas dinner kami semalam.
Ketika aku mengambil sabun pencuci piring, seseorang merengkuhku dari belakang.
"Eh?"
"kamu curang. Perut kamu tambah kecil, aku makin besar."
Ucapnya manja sambil menciumiku dari belakang.
"kirain aku kamu udah berangkat."
"Nanti dulu, aku gak bisa berangkat kalo belum liat senyum kamu."
"Nan..."
Ucapku sambil berbalik ke arahnya. Setelah menatapnya, aku memberikan senyumku di pagi ini agar dia segera berangkat.
Nando tersenyum balik lalu mencium keningku.
"Aku berangkat ya, Assalamualaikum"
Berhayal perlakuan itu aku dapatkan darinya adalah ketidakmungkinan yang ku harapkan dahulu. Kini, semuanya nyata.
Tidak jarang pula kami bertengkar. Walaupun pada akhirnya kami hanya bisa marah tidak lebih dari 10 menit.
Biasanya kami meributkan hal-hal kecil seperti Nando yang terlalu fokus kalau sudah berurusan dengan motor kesayangannya atau aku yang lupa menyiapkan handuk kalau dia hendak mandi. Namun, satu tahun pernikahan aku mulai mengerti watak Nando dan mulai mengimbanginya.
Sebelum pernikahan, aku mulai membenahi penampilanku. Aku tidak ingin Nando mendapat cemoohan lagi, aku ingin menjadi istri yang dia banggakan lahir dan batin. Walaupun Nando bersikeras melarang, tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan.
Malam ini ada undangan Reuni SMA. Aku meminta Nando untuk pulang lebih cepat dari biasanya.
Aku sudah menyiapkan baju yang akan kami kenakan. Sambil menunggu Nando pulang, bersiap diri.
Nando pulang ketika aku sedang berhias wajah. Dari balik kaca aku melihat Nando. Wajahnya kesal saat melihatku sedang berias.
Aku berbalik
"Mandi dulu, ya. Bajunya udah aku siapin. Makannya di sana aja, ya? Atau kamu udah laper?" tanyaku sedikit takut melihat wajahnya. Aku tidak tahu apa kesalahanku kali ini.
"Ini yang aku gak suka kalo kamu langsing."
"Hah? Aku kenapa?"
"Kamu terlalu cantik malam ini untuk orang lain. Kalo aku gak suka, kamu bakal gimana?"
Aku melotot mendengar perkataannya. Benarkah ini Nando?
Aku tahu dia lelah, lebih baik aku mengalah. Aku mengerti dia tidak menyukai pakaianku yang tidak tertutup penuh dan make up dengan bibir merah yang mencolok.
"ya, aku ganti. Kamu mandi dulu, ya? 15 menit lagi mulai."
Nando meletakkan tasnya dan menuju kamar mandi.
Aku sudah siap di ruang tamu, tidak lama Nando keluar dengan pakaian yang sudah aku persiapkan. Kami berangkat menuju lokasi.
Sesampainya di sana banyak yang tidak mengenaliku, tidak sedikit pula yang tidak menyangka kalau Nando menikah muda dan sudah memiliki istri.
Entah mengapa malam itu Nando terlihat gelisah. Dia selalu merengek meminta pulang awal. Hingga kami benar-benar tidak mengikuti acara sampai selesai bahkan aku tidak sempat berbincang dengan teman sekelasku dulu.
Di mobil, aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu sakit, Nan?"
"Aku gak suka, Ra."
"Biasanya juga aku kayak gini kok, Nan. Kamu yang gak biasa hari ini."
Di perjalanan, Nando hanya diam seribu bahasa. Sepertinya dia memang benar marah. Kupikir sedang banyak pekerjaan yang membuatnya jenuh. Kalau sedang seperti ini, aku juga mengambil langkah untuk diam dan tidak mencampuri apapun yang dia lakukan.
Semenjak aku sakit minggu kemarin, Nando seperti membenci tekatku untuk menurunkan berat badan. Apapun yang berkaitan dengan perubahan berat badanku, Nando menjadi emosi. Padahal rasa sakitku hanya karena masuk angin.
Pagi hari setelah pergesekan kecil, Nando masih belum mau berbicara padaku. Dia bangun lebih pagi dan langsung mengurusi motor kesayangannya.
Saat aku melihat tanggal, ternyata hari ini adalah anniversary pertama kami. Namun aku menginat sesuatu. Aku telat menstruasi satu minggu. Sebenarnya aku tidak mau berspekulasi hingga berharap lebih. Mengingat beberapa waktu lalu aku mencoba dan hasilnya negatif, itu hanya membuatku terpuruk.
Akhirnya aku mencobanya. Lagi. Namun aku tidak siap melihat hasilnya.
"Nan, boleh minta tolong?"
Tanpa menjawab, Nando langsung menuju kamar mandi menghampiriku.
"Tolong liat hasilnya apa. Aku gak kuat liatnya kalo sampe negatif."
Ucapku sambil menutup mata.
Sepertinya Nando sudah mengerti instruksiku.
Aku penasaran menunggu reaksi Nando.
"Kamu positif kamu bilang, kalo negatif kamu diam aja ya." pintaku pada Nando.
1
2
3
Tidak ada jawaban.
Sudah ku duga, negatif. Air mataku tak terasa sudah menetes. Lututku menjadi lemas.
Tiba-tiba seseorang memelukku.
Dia menangkanku dan berbisik
"Terima kasih ya, Mama."
Aku membuka mata, Nando sudah tepat di hadapanku.
"Terima Kasih hadiah Anniversarynya." kata Nando sambil menunjukkan hasil testpack padaku.
Tangis bahagiaku pecah pagi itu. Rasanya sangat haru.
Betapa bahagianya aku menjadi Nyonya Nando. Selain menjadi suami yang baik untukku, aku percaya bahwa anakku akan memiliki ayah yang baik.
--------------------TAMAT---------------------------
KAMU SEDANG MEMBACA
How to Be Yours ✅(completed)
Novela Juvenil" Biarkan aku mencari cara untuk mengetahui ketulusan seseorang." - Nara
