Setelah aku mengetahui bahwa semua kebaikan Nando hanyalah settingan. Semakin jelas pula bahwa tidak ada 1% pun kesempatan aku untuk menjadi miliknya.
Bukan. Ini semua bukan salah Nando. Aku yang memulai dan aku harus terima apa pun resikonya. Tidak semua usaha mendapatkan hasil yang sesuai, bisa jadi usahaku ini tidak berhasil tapi setidaknya memberiku pelajaran bahwa harus menerima apa pun hasil sekali pun itu mengecewakan tapi bisa jadi itu yang terbaik untukku.
Aku memaafkan Intan, karena bagaimana pun dia tetap teman ku dan niatnya baik. Hanya saja aku kecewa atas ekspektasiku sendiri saat itu.
Berbagai Uji coba soal ujian nasional sudah kami lewati, hari-hariku disibukkan dengan persiapan masuk perguruan tinggi. Aku berusaha sebisa mungkin fokus dengan apa yang ku inginkan saat ini. Biarlah urusan cinta nanti berjalan sesuai alurnya saja.
Suatu hari, aku kerja kelompok di rumah salah satu temanku. Karena besok ada ujian praktik Bahasa Jepang. Kami menyiapkan bahan untuk besok ujian. Aku pulang larut hingga jam 11 malam.
Saat diperjalanan, ternyata hujan. Aku melipir sebentar untuk memakai jas hujan di sebuah pos ronda. Tak ada siapa-siapa karena memang sudah malam.
Ada suara motor mendekat, saat ku lihat sepertinya aku mengenal siapa yang membawa motor tersebut.
Nando. Dia tak sadar kalau aku di sini, aku memalingkan wajah. Awalnya aku bingung kenapa ada Nando, tapi setelah ku ingat ini tidak jauh dari rumah Nando. Satu lagi, dia tidak membawa motor ninja hijaunya. Kemana motornya ? Ah biarlah. Yang jelas aku merapikan tasku untuk diletakkan di dashboard setelah itu jalan. Semoga Nando tidak tahu bahwa ini aku.
"duh basah lagi." Nando bergumam sendiri.
Dia sedikit menengok ke arahku. Tapi sepertinya aku tidak jago menyembunyikan sesuatu, Nando tahu kalau ada aku. Awalnya ku pikir dia akan tidak perduli dan kami akan sunyi seperti orang asing. Tapi tidak, Nando mengajukan pertanyaan.
" Ra ? Ngapain malem malem masih di luar ? "
Jantungku sudah tak karuan. Tak sering aku melihat Nando bicara sebanyak ini dengan tenang. Terakhir ku dengan rancauannya marah padaku.
"abis kerkel buat besok uprak."
"sampe malem ? "
" ya inimalem, kan ? Bukan sore. Lo ngapain juga ? "
Tadinya mau menghentikan perbincangan dan melanjutkan perjalanan. Tapi entah sepertinya Nando butuh teman bicara. Aku juga tak akan membiarkannya kacau walau pun hobinya mengcawkan hatiku.
" Gue dikunciin, nyokap gue marah. Jadi malem ini gue tidur di sini."
" hah ? Lo serius ? Sering tidur di sini ? "
" udah kayak rumah kedua. Hahaha"
Perbincangan ini tak pernah aku bayangkan. Nando menceritakan tentang mengapa dia ada di pos ini. Orang tuanya menganggap dia adalah anak yang nakal, jadi sering diberi hukuman.
Seperti orang yang sudah mengenal lama, tanpa ragu Nando menceritakan semuanya. Mulai dari Mengapa orang tuanya selalu menghukummnya, alasan dia sering buat masalah di sekolah. Aku menyimpulkan bahwa Nando sebenarnya ini anak yang butuh perhatian orang tuanya, tapi mereka sibuk bekerja sehingga dari kecil Nando menyelesaikan semua masalahnya sendiri hingga dia remaja hobinya selalu buat masalah karena ingin melihat seberapa peduli orang tuanya.
" Ra, sorry ya kalo kemaren-kemaren sikap gue gak ngenakin lo. Tapi gue bukan tipe orang yang munafik, kalo gue gak suka ya gue bakal bilang gitu. Dan seharusnya lo sebagai perempuan gak pantes ngejar-ngejar cowok sampe segitunya. Soal ucapan ultah gue buat lo..."
" Iya, Nan. Gue ngerti sekarang. Lo tenang aja gue gak akan ganggu lagi. Dan soal ulang tahun, gue udah lupain kok. Kalo emang lo suka sama Intan, itu wajar."
" Oh iya lo mau gue anter ? "
" ga usah, gue udh sering pulang sendiri. Makasih ya. Berhubung ujannya juga udah reda, gue balik."
Malam itu rasanya benar-benar dekat dengan Nando. Mungkin karena dia butuh teman cerita. Aku maklumi. Paling besok juga dia di sekolah akan bersikap seperti biasanya. Angkuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
How to Be Yours ✅(completed)
Novela Juvenil" Biarkan aku mencari cara untuk mengetahui ketulusan seseorang." - Nara
