Angkringan

3.8K 222 0
                                        

Dua bulan sudah aku menjalani hari-hari dengan status 'mahasiswa'.  Tidak ada yang berbeda selain suasana. Karena jam perkuliahan berbeda dengan sekolah,  aku sering mengisi waktu luang di perpustakaan.  Yang akhirnya mempertemukanku dengan seorang laki-laki bernama Mas Ilham.

Mas Ilham adalah mahasiswa semester lima di Fakultas Teknik.  Kami sering bertemu di perpustakaan.  Mas Ilham orang yang mudah terbuka dan pintar.  Banyak hal yang bisa kami bicarakan. 

Hubungan kami murni sebagai 'kakak  adik',  karena aku menganggap kak Ilham seperti kakaku dan begitu pula sebaliknya. 

Mas Ilham juga punya kekasih. Mengapa kami bisa dekat?  Salah satunya ya karena ternyata pacar Mas Ilham adalah kakak tingkat ku di satu jurusan yang sama.  Mba Rita namanya.  Namun,  mba Rita sedang pertukaran pelajar ke La Rochelle,  makanya mas Ilham kesepian. Hubunganku dan mba Rita juga sangat baik. 

Mba Rita dan Mas Ilham sudah ku anggap seperti keluarga,  karena aku tidak punya siapa siapa di Jogja.

Kalau bicara soal Mas Ilham,  aku jadi ingat kejadian beberapa hari yang lalu. 

Mas Ilham mengajakku makan di angkringan yang cukup terkenal di Jogja.  Dalam rangka dia baru mendapat gaji.  Berhubung pacarnya tidak ada di Jogja,  jadi dia minta aku menemaninya. 
Malam itu ketika aku dan Mas Ilham hendak pulang, aku melihat Nando yang sedang memarkirkan motornya.  Awalnya ku kira aku salah. Tapi benar itu Nando dan ninja hijaunya. 

Jujur aku bingung harus bersikap bagaimana. Kami sudah lama tidak bertemu. Bahkan terakhir bertemu saat di pos ronda.  Aku ingin memanggil tapi takut Nando bersikap cuek. 

" Nara! "

Wah apa aku tidak salah dengar.  Nando memanggil namaku. 

" Hai,  Nan. "

Dia menghampiriku. Mas Ilham sepertinya mengerti jadi dia menunggu di atas motornya. 

" Ngopi juga? " tanya Nando.

" Iya,  abis ditraktir. Eh lo lagi ngapain di Jogja? "

" emm..  Itu..  Liburan lah. " jawab Nando terbata. 

" sendirian? Bawa motor? "

" Iya. Lo sendirian? "

Tanpa menjawab,  aku mengarahkan wajahku ke Mas Ilham. Nando mengerti. 

Tapi yang aneh,  wajah Nando jadi berubah (?). Entahlah mungkin perasaanku saja. 

" Yauda, Nan.  Gue duluan,  ya.  Ga enak ditungguin. "

" Silahkan."

Tanpa menatapku lagi,  Nando langsung ambil posisi duduk di angkringan. 

Kenapa dia? 

Begitulah kira-kira kejadiannya. 

Jujur.  Aku sudah melupakan Nando. Jauh sebelum kejadian di Pos.  Tapi kalian paham bagaimana rasanya bertemu orang yang pernah kita sukai.  Masih ada sedikit rasa senang.  Tapi tidak seperti dulu. 

Aku menceritakan kejadian malam itu pada Intan. 

" Lah lo gatau Nando kuliah di Jogja,  Ra? "

Kalimat Intan cukup mengagetkan. Mengapa Nando harus berbohong malam itu? 

Apa dia takut kalau aku mengejarnya lagi kalau sampai aku tau dia kuliah di Jogja? Ternyata dia masih phobia terhadapku. 

"Kuliah di mana,  Tan? "

" Gue gatau, Ra. Gue cuma denger kalo dia kuliah di Jogja sekarang. "

Sebenarnya aku juga tidak terlalu memperdulikan soal itu.  Hanya aja masih bingung kenapa Nando harus bohong.






How to Be Yours ✅(completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang