Rehat (2)

3.4K 208 2
                                        

"kakak.. Nia mau sama Mamah."

Melihat adik bungsuku menangis, aku tak mengerti sebenarnya ada apa. Nenekku terlihat tegar seperti tidak ada apa-apa. Tante ku juga tak mengatakan apa-apa.

Aku mengajak adikku ke kamarku. Aku suruh dia jelaskan sebenarnya ada apa.

"Nia, kenapa nangis?"

"Mamah pergi, Kak. Nia ga mau tinggal di sini maunya sama Mamah."

Langsung saja aku mengecek ponselku. Ternyata ada pesan dari Ayahku.

Kak. Kamu jaga adik-adikmu, ya. Jangan galak sama mereka. Ayah sama mamah mau pergi ke luar kota. Ayah percaya kamu anak yang kuat.

Sungguh aku tidak mengerti. Kenapa keluar kota sampai seheboh ini. Ayahku juga sampai mengatakan seperti itu. Pasti ada yang tidak beres.

Sehari setelah mamah dan ayahku pergi, banyak orang berdatangan ke rumahku. Mereka marah-marah seolah olah ada masalah yang harus diselesaikan. Aku tahu ini ada yang tidak benar. Namun, aku mencoba positif thinking.

Ketika aku ingin menguhungi Mamahku, nomornya pun tak aktif. Sekarang kedua adikku tinggal bersama aku dan nenek. Adikku lelaki menunjukkah reaksi yang biasa saja, mungkin karena dia anak laki-laki jadi tidak peka denga keadaan.

Untuk menghibur diriku. Aku mencoba mengirim pesan lagi pada Nando.

Nando :) 20.30

Ternyata, Nando membacanya setelah lima menit ku kirim pesan itu. Namun, sepertinya dia sudah enggan menanggapiku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Siapa tahu seperti kemarin tiba-tiba saat bangun tidur aku mendapat pesan darinya.

----- ----- ----- ----

Kebetulan hari ini adalah hari libur, aku hendak membuat sarapan bersama nenek. Aku melihat di dapur nenek menagis. Sebenarnya ada apa?

Aku menghampiri wanita tua yang ku sayangi itu,

"nek? Kenapa nangis? Nenek sakit? "

Tanyaku khawatir.

"sebenarnya nenek tidak tega mengatakan ini sama kamu, Nar. Tapi bagaimana pun kamu harus tahu. Kamu sudah besar pasti akan mengerti."

"bagaimana aku mengerti kalau aku saja tidak tahu."

"Mamah kamu masuk penjara. "

Seketika lututku lemas. Air mata mengalir begitu deras dari kelopak mataku. Benar saja dugaanku. Feeling seorang anak pada ibu tak pernah salah. Entah aku bingung apa yang harus ku lakukan. Pikiranku kosong. Baru kemarin aku sedih karena perkataan Nando yang diucapkan pada Idam, sikap tidak menyenangkan Nando dan kabar kedekatan Nando dengan Nadia. Dan sekarang. Aku tiba0tiba mendapat kabar kalau ibuku masuk ke dalam sel dan Ayahku pergi meninggalkan kami ke Surabaya untuk menemui kakaknya di sana mencari pekerjaan katanya.

Setelah itu aku memeluk nenekku untuk menenangkan beliau. Aku tahu beliau juga kaget. Aku teringat pada pesan ayahku. Pantas saja beliau mengirim pesan seperti itu.

Aku langsung masuk ke kamar, melihat wajah adik-adikku. Tak tega. Mereka tidak boleh tahu. Terlalu berat untuk mereka. Apalagi adik bungsu ku. Aku harus bisa menjadi sosok Mamah utuk mereka berdua. Aku kuat.

Malam hari, aku melamun di balkon. Memikirkan apa yang akan aku lakukan. Mungkin benar, aku harus rehat dari Nando. Nando juga tak peduli akan kehadiranku. Apalah aku ini, hanya perempuan yang tak indah di pandang. Lagi pula ia juga sedang dekat dengan seseorang. Aku harus melakukan hal yang lebih penting yauitu membantu nenek mengurus adik-adikku. Mereka butuh aku. Aku akan tetap melanjutkan sekolahku dan mengurus adik-adikku serta mengajar anak anak tetanggaku seperti biasa. Aku kembali menjadi Nara yang belum tertarik pada Nando, Nara yang tak terobsesi pada Nando. Nara yang tak kenal Nando.

Aku rehat, Nando. Tapi mungkin aku akan kembali lagi. Entah kapan.

How to Be Yours ✅(completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang