r i n d u

4K 208 1
                                        

" Ra. Gue kangen. " - Nando

Setelah 2 bulan gue pindah ke Jakarta.  Nara benar-benar gak tau soal ini. Entah dia ga peduli atau ah entah lah...

Gue berpikir satu bulan setelah gue pindah,  Nara akan nyariin. Ternyata engga.

Yang pasti gue kangen sama Nara. Terakhir kami komunikasi ya saat bertengkar di mobil. Tidak ada pesan singkat atau pun telfon.

Setelah gue mendam rasa kangen 3 bulan kurang. Dan gue udah gak kuat. Akhirnya gue coba hubungin Nara duluan. Sekalian mau tau sebenarnya dia kenapa saat itu.

Cuma tiga kata itu yang gue kirim ke Nara. Tapi memang begitu adanya. Kangen.

Kebetulan Nara sedang online. Gak lama setelah gue ngirim pesan itu. Centang berubah menjadi warna biru menandakan Nara sudah membaca. Berubah menjadi "mengetik... "

Tapi tidak selesai-selesai. Karena sudah gak sabar akhirnya gue telfon.

" Hai,  Ra. "

" Halo,  Nan. "

" Apa kabar? "

" Sangat baik. Kenapa? "

" kok kenapa?"

" terus apa? "

Jujur gue agak bete setelah dia ngomong gitu. Ternyata dia sangat baik tanpa gue.  Apa itu cuma acting?

" Lo gak kangen gue? "

Tiba-tiba Nara diam. Hening seketika.

" Oh ya udah kalo eng... "

" kangen."

Akhirnya ngaku juga. Dia emang pinter nutupin perasaannya belakangan ini.

" Minggu depan gue ke Jogja."

" Loh emang sekarang di mana? "

" Gue ceritain aja kalo kita ketemu, ya. "

" oke. "

Karena bingung mau ngomong apa akhirnya gue tutup telfonnya sepihak.  Tanpa kalimat penutup. Sebenarnya itu efek dari kebahagiaan gue setelah Nara juga bilang kangen. Gue sengaja bikin Nara tersiksa dengan ke-kepo-annya. 

------------------
Satu minggu berlalu.
Gue menapati janji untuk ke Jogja nemuin Nara.

Tapi selama seminggu itu,  gue sengaja gak hubungin Nara biar dia semakin excited ketika ketemu gue.

13 jam menempuh perjalanan tanpa seseorang di dalam mobil rasanya sangat melelahkan. Ingin rasanya cepat-cepat sampai hotel biar bisa rehat.

Awalnya ketika sampai,  gue mau langsung ketemu Nara. Tapi ternyata tubuh gue gak sekuat itu. Kebetulan emang lagi kurang sehat,  tapi gue paksain berangkat ke Jogja sendirian.

Mami tau soal ini. Akhirnya dia ngizinin gue ke Jogja. Gue udah cerita semua soal Nara,  soal perasaan gue,  perubahan sikap gue. Yang pada akhirnya Mami ngerasa bersalah nyuruh gue pindah ke Jakarta. Tapi gue berusaha meyakinkan mami kalo gue baik-baik aja dan bukan masalah besar soal perpindahan itu. Karena rasa bersalahnya Mami ngizinin gue untuk satu minggu ke Jogja nemuin Nara. Mami juga sebenarnya sangat berterima kasih pada Nara,  karena bagaimana pun dia punya andil merubah kebiasaan dan sifat buruk gue.

Mami sempat minta nomor Nara. Tapi gue belum berani kasih,  karena hubungan kita juga belum jelas. Apa lagi kita udah gak tinggal di tempat yang sama.

How to Be Yours ✅(completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang