Sudah kurang lebih satu minggu aku menjadi manajer kak Yunoh. Satu minggu itu aku tahu karakter kak Yunoh. Dia tidak seperti komentar fansnya yang cool, kalem, dan ya berwibawa. Iya sih dia berwibawa tapi ternyata dia juga kadang gesrek juga. Bener, aku gak bohong.
Contoh aja nih, di ruang make up saat aku sedang mencarinya waktu di Semarang tiga hari yang lalu. Aku mencarinya di setiap sudut. Tapi tak terlihat batang hidungnya yang mancung seperti prosotan TK. Ku teriaki namanya, ku panggil bahkan aku mengancam akan kembali ke Jogja saat itu. Dua menit setelahnya dia memanggilku, dengan nada anehnya. Geli kalo aku dengar dia panggil aku kayak gitu. Kemudian yang terjadi dia bersembunyi di mantel panjang milik artis lain dan masih lengkap tergantung di gantungan baju beserta hangernya. Aku tanya, jawabnya, "Bosen aku pengen main petak umpet."
Iya main petak umpet, tapi bukan saat mau tampil juga kali.
Di sebuah cafe, aku dan kak Yunoh kesini untuk melakukan MOU dengan pihak organisasi.
"Oke kak. Makasih ya udah mau kerja sama. Di tunggu nanti penampilannya." Ucap rekan kami.
Aku mengangguk, "Terimakasih juga sudah mempercayakan kami."
Setelah itu mereka pamit.
Aku langsung memberi note di hpku tanggal yang akan di hadiri nanti.
"Ehem, mau pesan apa mbak mas?"
Aku menoleh kearah kiri.
"Loh. Hendery. Ngapain kamu?" Tanyaku.
Hendery tersenyum lebar lalu menggerakkan daftar menu yang ada di tangannya.
"Kamu kerja?" Tanyaku lagi ia mengangguk.
"Abis aku bosen. Kamu sebulan ini bakal sama Si dia terus. Jadi daripada nganggur mending kerja. Ya kan?"
Aku setuju mengiyakan.
"Lagipula, masa ceweknya kerja cowoknya rebahan. Ntar aku jadi kepala keluarga gak bertanggungjawab." Tambahnya.
Aduh, mampus aku malu. Aku melirik kak Yunoh dia menahan tawa sambil menatapku.
Oh ya, Hendery dan kak Yunoh udah baikan. Dulu pernah aku kunciin mereka di ruang latihan kak Yunoh berdua selama 2 jam.
Abis itu muka mereka ada yang bonyok. Ya gitu. Katanya, "berantemnya lelaki ya saling tonjok abis itu lega." Dengar itu aku langsung mukul Hendery.
Iya tahu lelaki kebanyakan kalo marah ke sesama lelaki pasti berantem. Tapi tau kan, kalo berantem itu sia-sia. Menang jadi arang kalah jadi abu. Gak ada untungnya, semuanya luka.
Tapi untungnya setelah itu, mereka baikan sering telfonan juga sih. Gak tahu apa yang mereka omongin. Bahkan nggak jarang mereka video call . Aku tahu saat melihat hp Hendery. Gak paham emang sama mereka.
"Biasa deh." Ujarku ke Hendery, dia mengangguk udah hafal sama Milkshake Coklat topping marsmallow.
"Yunoh!" Seorang perempuan cantik datang menghampiri kami setelah memanggil kak Yunoh.
Aku menatap kak Yunoh yang berubah masam pada raut wajahnya.
Perempuan tadi berdiri di samping kak Yunoh, lalu aku juga ikut berdiri menyapanya.
"Siapa lo?" Tanyanya padaku dengan nada jutek.
Buset, cantik tapi jutek.
"Saya, Rara manajer kak Yunoh."
"Kak Yunoh?" Ia terheran-heran.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Oh, manajer kamu yang galak gak ketulungan itu udah kamu pecat? Ya bagus deh, kamu bisa sedikit bebas. Tapi dia keliatan masih remaja." Ujarnya.
"Bukan urusan lo ya. Sana lo cabut dari sini!" Ucap kak Yunoh membuatku bingung.
Perempuan tadi akhirnya duduk di samping kak Yunoh.
"Yunoh. Kamu tahukan aku gimana ke kamu? Aku tuh gak bisa lepasin kamu."
Kak Yunoh udah masa bodoh gak peduli.
Aku hanya diam, sedikit menguping. Ya dengarlah aku kan dekat dengan mereka duduknya.
Perempuan tadi menarik tangan kak Yunoh.
"Bisa kasih aku kesempatan lagi? Aku akan jadi yang lebih baik lagi." Ujarnya lagi.
Kenapa aku ngerasa canggung banget gitu.
Kak Yunoh menarik tangannya dengan kasar.
"Sorry. Gue udah ada Rara. So, gue gak bisa terima lo."
Aku melihat sulutan api amarah dari tatapan perempuan tadi padaku.
Salahku apa coba?
"Aku yakin, kamu gak akan bisa bertahan sama bocah kayak dia. Kamu butuh yang lebih segar dan juga ya kamu tahulah." Ucapnya sambil masih menatapku.
"Pesanan." Ujar Hendery kemudian berdiri disampingku. Aku menatapnya lalu tersenyum.
Baru saja Hendery akan meletakkan milkshake milikku sudah di saut sama perempuan tadi.
BYUR!
Kenapa aku disiram pake milkshake? Kan sayang.
"Apa apaan sih lo?" Ujar Hendery.
"Lihatkan Yunoh, manajer kayak dia tuh gak cocok sama kamu. Gak punya mental. Lembek."
Hendery menarik lenganku tapi aku menahannya.
"Gue udah liat, Serli. Dengan begini gue tambah yakin kalo lo benar-benar gak cocok buat gue kasih kesempatan lagi." Sahut kak Yunoh, kemudian ia berlalu dari sana.
Tunggu. Serli? Kayak pernah dengar nama itu.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
(END) Hay Hendery
Фанфикшн"Baby take my hand." "...." "Kok diem?" "Emang kenapa?" "Ya lanjutinlah." "Apanya?" "Baby take my hand." "Kok malah megang tangan?" "Katanya suruh take my hand." "Nyanyinya lanjutin." "Gak tahu, aku gak tahu lagunya." "Yaudah, gak jadi nyanyi. Gak m...
