"Aisyah, kamu gak papa kan?"
Zainab memegang tangan Aisyah. Zainab cemas dengan apa yang akan terjadi pada Aisyah malam ini.
"Aku baik-baik saja Zainab. Aku ke toilet bentar ya!"
Aisyah beranjak dari duduknya.
"Mau aku temenin?"
Aisyah menggeleng sembari tersenyum.
"Gak usah, aku bisa sendiri."
Aisyah berlalu dari hadapan Zainab. Pulang dari toilet Aisyah menuju kantor Humas.
Hilal merebahkan tubuhnya diranjang.
"Hilal, kita keluar yuk!"
Hamdani duduk diranjang Hilal. Hilal membalikkan badan membelakangi Hamdani.
"Sepertinya malam ini aku gak bisa ikut kamu, Ham. Kepalaku sakit dari tadi,"
"Oo ya sudah. Kamu sudah minum obat?"
Hilal mengangguk.
"Istirahat lah. Aku tinggal dulu ya!"
Hamdani keluar dari bilek sedangkan Hilal masih memikirkan perkataan Zainab. Hilal bingung harus berbuat apa tiba-tiba ponselnya berdering.
"Siapa lagi yang nelpon aku!"
Saat melihat nomor baru, Hilal memilih untuk tidak menjawabnya. Namun ponsel Hilal kembali berbunyi dan masih dengan nomor yang sama.
"Assalamu'alaikum,"
Dengan rasa malas Hilal menjawab telepon dari orang tak dikenal.
"Wa'alaikumsalam tgk. Ini saya Zainab. Saya cuma mau bilang sebentar lagi Aisyah akan di ta'zir. Semua keputusan ada ditangan tgk. Tgk jangan egois. Saya mohon pikirkan perasaan Aisyah, assalamu'alaikum,"
Zainab segera mengakhiri panggilan tanpa membiarkan Hilal menjawab satu patah katapun.
Jama'ah isya berlangsung. Petugas haris mulai menyiapkan air got karena perintah dari Humas. Santriwati yang mamnu' mulai riuh. Mereka mempertanyakan siapa yang akan di ta'zir malam ini.
Di dalam kantor Humas Aisyah hanya terdiam. Tinggal dihitung menit dirinya akan dimandikan dengan air got. Air mata sedari tadi mengalir dipipi Aisyah tanpa bisa ia hentikan. Aisyah tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan merasakan bagaimana rasanya dimandikan dengan air got oleh wali kelasnya sendiri. Aisyah merasa sangat malu, lebih-lebih lagi pada teman kelas dan teman bileknya. Apalagi kesalahan yang dibuat Aisyah bertemu yang bukan mahram padahal selama ini Aisyah dikenal sebagai santri yang patuh.
"Tgk.Ruwaida, saya keluar sebentar ya!"
Maisarah membuka pintu hendak keluar. Namun kehadiran Hilal didepan pintu membuat Maisarah kaget.
"Assalamu'alaikum,"
Hilal memberi salam.
"Wa-wa'alaikumsalam. Tgk.Hilal? Kenapa anda disini?"
Mendengar nama Hilal, Aisyah berbalik kebelakang melihat arah pintu. Saat itu mata Hilal dan Aisyah saling beradu namun semua itu tidak berlangsung lama karena Aisyah segera melihat kebawah. Ruwaida dan Maisarah saling melihat satu sama lain. Mereka tidak tahu maksud kedatangan Hilal karena yang mereka tahu Hilal dan Aisyah tidak memiliki hubungan apa-apa.
"Maaf tgk, boleh saya masuk? Ada yang ingin saya jelaskan,"
"Iya tgk, boleh. Mari."
Maisarah mempersilahkan Hilal masuk. Hilal berdiri tepat disamping Aisyah duduk. Aisyah masih tidak berani melihat Hilal. Maisarah mengurungkan niatnya untuk keluar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Calon Imam Untuk Aisyah(COMPLETED)
RomanceRank #1 Hilal 23Nov2019 #1 Shalehah 31Jan2020 #1 Aceh 13Apr2020 #9 Cobaan Jan2020 #3 Cintaislami 16Apr2020 Sitina Aisyah Humaira, gadis yang biasa dipanggil Aisyah ini memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke pesantren salafi setelah lulus dari S...