"Kamu kenapa Gibran? Sudah tahu kopinya panas tapi langsung diminum. Tidak sabar ya ingin mencicipi kopi buatan Aisyah?" suara Siti membuat Hilal sadar.
"Gak. Ibu ini ada-ada saja. Gibran gak kenapa-napa kok." Hilal mengambil tisu dari tangan Aisyah.
Aisyah membantu Hilal membersihkan bajunya.
"Biar aku sendiri saja." Hilal bangkit dari duduk. Aisyah memerhatikan tumpahan kopi dibaju Hilal.
"Sepertinya gak akan bersih tgk. Biar Aisyah ambil baju ganti saja." Aisyah bergegas menuju kamar.
"Tidak salah ayah Aisyah berwasiat agar kalian menikah. Aisyah memang perempuan yang cocok untuk kamu Gibran." Siti tersenyum melihat ke arah Aisyah.
Hilal tak berkomentar ia masih sibuk membersihkan bajunya.
Tak lama kemudian Aisyah kembali.
"Ayo, di buka dulu bajunya, Gibran." Hilal menuruti perintah Siti.
"Hati-hati tgk jangan sampai kopinya kena diwajah tgk."
Hilal meletakan kaos itu diatas meja.
"Ini tgk."
"Terimakasih." Hilal mengambil kaos berwarna maroon di tangan Aisyah.
Siti tersenyum melihat Hilal dan Aisyah.
"Kenapa ibu senyum-senyum?" tanya Hilal.
"Melihat kamu dan Aisyah ibu jadi ingat masa-masa muda ibu dulu sama ayah." mendengar jawaban Siti Hilal dan Aisyah saling berpandangan. Siti benar-benar bahagia melihat keharmonisan anak menantunya.
********
Selama di Langsa Aisyah melayani Hilal seperti suaminya sendiri. Aisyah selalu menyiapkan makanan untuk Hilal. Saat Hilal terlambat pulang ke rumah dengan setia Aisyah menunggunya. Aisyah tahu bahwa kini ia mulai mencintai laki-laki itu. Hari demi hari nama Hamdani mulai memudar dari hatinya. Ditambah lagi perlakuan dan sikap Hilal terhadap dirinya saat ini.
Hilal pun mulai simpatik dengan perlakuan Aisyah terhadap dirinya. Hilal juga mulai jatuh hati pada gadis itu tapi ia membuang perasaannya jauh-jauh. Hilal teringat Hamdani dan Munawarah, ia tidak mungkin mengingkari janji yang sudah ia buat sendiri. Setengah hatinya pun masih mencintai Munawarah.
Tak terasa sebulan sudah Aisyah berada di Langsa. Mereka belum kembali ke pesantren begitu pun dengan Munawarah. Munawarah berencana kembali kesana saat Hilal telah kembali.
Malam ini Aisyah menunggu Hilal. Jam menunjukkan pukul 23.20 wib namun Hilal tak menampakkan batang hidungya dirumah. Aisyah bermondar-mandir diruang tamu. Sesekali Aisyah menyibak gorden melihat keluar jendela.
"Aisyah kamu belum tidur? Sedang apa disana?" suara Daud mengagetkan Aisyah.
"Eem a-ayah. Belum. Aisyah lagi nungguin tgk. Tgk belum pulang."
"Memangnya Gibran tidak bilang sama kamu kalau dia pergi kemana?" Aisyah menggeleng.
"Tgk cuma bilang keluar sebentar tapi sudah jam segini tgk belum pulang."
"Gibran memang begitu kalau keluar pasti lupa waktu. Mungkin dia bertemu teman-teman sekolahnya dulu. Dia lupa kalau sekarang sudah punya istri. Masuk saja ke kamar Aisyah. Nanti Gibran juga pulang dengan sendirinya. Jangan menunggunya."
"Iya ayah. Biar Aisyah tunggu sebentar lagi."
"Jika jam 12 pas dia belum pulang juga masuk lah ke kamar. Nanti kamu bisa sakit gara-gara telat tidur." Aisyah mengangguk. Daud melangkah meninggalkan Aisyah.
"Tgk mana ya? Gak biasanya tgk pulang selarut ini. Biasanya jam 11 tgk sudah dirumah." Aisyah nampak cemas.
Hilal berada dikafe tempat biasanya ia bertemu dengan Munawarah akan tetapi malam ini ia hanya seorang diri. Hilal melihat jam ditangannya menunjukkan pukul 00.25 wib. Hilal bangkit keluar kafe.
Hilal melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Setibanya dirumah Hilal heran melihat lampu ruang tamu menyala.
"Tumben jam segini lampunya masih hidup!" Hilal membuka pintu dengan kunci cadangan yang ia bawa.
Hilal melangkah menuju stop kontak untuk mematikan lampu tapi langkah Hilal terhenti saat ia melihat Aisyah tertidur disofa. Hilal menghampiri Aisyah. Ketika tiba didepan Aisyah Hilal berjongkok menatap Aisyah sangat lama.
"Aisyah maafkan aku. Kamu terlalu baik untukku. Tapi aku tahu, hati dan cintamu bukanlah untukku. Begitu pun denganku. Perlakuanmu, perhatianmu, caramu melayaniku selama ini gak akan aku lupakan. Kamu adalah istri sholehah, Aisyah dan kamu berhak mendapatkan imam yang sholeh seperti Hamdani. Terimakasih untuk semuanya." Batin Hilal. Ia menggendong Aisyah membawanya ke kamar. Hilal tidak tahu bahwa Aisyah terjaga karena Aisyah tidak membuka mata. Aisyah tersenyum ketika Hilal mulai berjalan.
"Andai saja Aisyah bisa menghentikan waktu, Aisyah ingin selalu seperti ini bersama tgk. Tgk, Aisyah ingin seperti pasangan-pasangan suami istri lainnya romantis dengan suami sendiri, bermanja-manja tapi hanya didepan orangtua kita tgk bersikap ramah pada Aisyah. Selebihnya tgk masih dingin sama Aisyah. Dua minggu belakangan ini sifat tgk banyak yang berubah. Aisyah semakin gak ngerti, Aisyah bingung sebenarnya apa yang ada dipikiran tgk? Saat tgk memberikan perhatian lebih untuk Aisyah, Aisyah pikir tgk sudah bisa menerima Aisyah sebagai istri tgk, sama seperti Aisyah yang sudah bisa menerima tgk sebagai imam Aisyah sendiri. Perasaan Aisyah dulu kepada tgk.Hamdani benar-benar sudah sirna. Sekarang hanya tgk yang ada didalam hati Aisyah. Imamku dunia akhirat hanya kamu Tgk.Gibran Hilal."batin Aisyah.
Hilal merebehkan tubuh Aisyah ditempat tidur dengan sangat hati-hati agar Aisyah tak terbangun. Hilal melepaskan kerudung yang masih menutupi kepala Aisyah, ia merapikan rambut Aisyah yang berantakan. Hilal kembali menatap Aisyah yang masih terpejam.
"Kenapa rasanya sulit untuk melepaskanmu sekarang? Apa aku benar-benar telah jatuh cinta padamu Aisyah? Semoga semua ini adalah jalan terbaik antara kamu dan aku." batin Hilal.
Hilal mendaratkan ciuman dikening Aisyah cukup lama.
"Selamat tidur Aisyah."
Hilal merebahkan tubuhnya disamping Aisyah. Ketika lampu dimatikan Aisyah tersenyum melihat perlakuan Hilal terhadap dirinya.
"Aisyah, Aisyah, bangun. Ayo kita shalat tahajud." suara Hilal membuat Aisyah terjaga.
Aisyah bangkit dari tidur ia merasa heran tidak biasanya Hilal membangunkannya untuk shalat tahajud. Biasanya Aisyahlah yang membangunkan Hilal terlebih dulu.
"Cepatlah berwudhu. Kita shalat bersama." Hilal mengambil sajadah dan melentangkannya.
Aisyah beranjak menuju kamar mandi. Merekapun melaksanakan shalat tahajud bersama.
Selesai shalat dan bermunajah kepada Sang Khalik, Aisyah mengambil muzhab membaca surat Ar-Rahman sedangkan Hilal merapikan sajadah meletakkan ditempat semula.
Aisyah kaget saat Hilal duduk disampingnya. Hilal merebahkan kepalanya dipangkuan Aisyah. Sontak Aisyah menghentikan bacaannya.
"Jangan berhenti. Biarkan aku tidur dipangkuanmu sebentar saja." Hilal melepas peci dan mulai memejamkan mata.
Aisyah kembali melanjutkan bacaan. Sepi yang terdengar hanyalah lantunan merdu dari mulut Aisyah.
"Sadakallahul'azim." Aisyah menutup muzhab menciuminya.
Aisyah melihat Hilal sudah terlelap. Aisyah tidak tega membangunkannya.
"Ada apa dengan tgk? Sikap tgk semakin hari semakin aneh. Apa ada sesuatu yang tgk sembunyikan dari Aisyah?" batin Aisyah ia menatap Hilal tak berkedip. Aisyah membelai lembut kepala Hilal.
Jam menunjukkan pukul 03.
30 wib Aisyah masih terjaga. Kakinya mulai kesemutan tapi Aisyah tetap tidak membangunkan Hilal. Aisyah menyandarkan kepala dilemari yang berada tepat dibelakanya. Aisyah mulai mengantuk ia pun memejamkan mata.Tak lama setelah Aisyah terlelap Hilal terbangun. Hilal melihat Aisyah tertidur. Hilal bangkit duduk disamping Aisyah. Perlahan Hilal merebahkan kepala Aisyah dibahunya. Hilal pun kembali memejamkan mata dengan kedua tangan dilipat didada.

KAMU SEDANG MEMBACA
Calon Imam Untuk Aisyah(COMPLETED)
RomanceRank #1 Hilal 23Nov2019 #1 Shalehah 31Jan2020 #1 Aceh 13Apr2020 #9 Cobaan Jan2020 #3 Cintaislami 16Apr2020 Sitina Aisyah Humaira, gadis yang biasa dipanggil Aisyah ini memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke pesantren salafi setelah lulus dari S...