Hari terus berlalu Hilal dan Aisyah telah kembali ke pesantren. Begitu pun dengan Munawarah. Kini saat bertemu Aisyah Munawarah mencoba menghindar, ia takut sesuatu yang tidak ia inginkan bisa saja terjadi jika ia bertemu langsung dengan Aisyah. Sedangkan Hamdani juga sama, ia menghindar saat bertemu Hilal. Mereka tak pernah lagi bertutur sapa.
Hilal memasuki bilek. Terlihat Hamdani merebahkan tubuhnya diranjang. Hilal duduk di ranjang Anwar.
"Lal, kalau boleh tahu gimana ceritanya kamu bisa nikah sama gadis itu?" pertanyaan Anwar membuat Hilal melirik Hamdani.
"Tapi bukannya kamu punya pacar sendiri?" Lanjut Anwar.
"Ceritanya panjang, Nwar."
"Kamu kan bisa menceritakan kronologisnya saja padaku."
Hilal menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Anwar.
"Semuanya karena wasiat."
Hamdani terkejut mendengar jawaban Hilal namun ia bersikap biasa saja seolah ia tak mendengar percakapan Anwar dan Hilal.
"Wasiat? Wasiat siapa?"
"Wasiat bapak Abdurrahman. Ayah Aisyah."
"Kenapa bisa begitu? Memangnya kamu kenal sama ayahnya Aisyah?"
"Orangtuaku berteman baik dengan ayahnya Aisyah. Tiap kali mereka besuk Aisyah disini mereka pasti menemuiku. Ayah mengenalkanku pada ayah Aisyah."
"Berarti kamu sudah lama mengenalnya?" Hilal menggeleng.
"Bapak Abdurrahman gak pernah ngenalin aku sama anaknya. Dia cuma bilang punya seorang putri yang juga mondok disini tapi dia gak pernah bilang kalau anaknya itu Aisyah."
"Jadi kalian gak saling kenal?"
"Iya, Nwar begitu lah ceritanya. Oya aku keluar sebentar ya." Hilal bergegas keluar bilek. Hamdani berbalik melihat kepergian Hilal.
"Yang mana sih Aisyah itu? Aku jadi penasaran. Kamu kenal gak Ham?" Hamdani pura-pura tidak mendengar pertanyaan Anwar.
"Ham!" Anwar mengejutkan Hamdani.
"I- iya Anwar. Barusan kamu bilang apa?"
"Gak. Gak ada apa-apa." Anwar bangkit melangkah keluar bilek.
"Untuk apa aku mengajak orang baru bangun tidur bicara!" gumam Anwar.
Seperti biasa hari ini Hamdani kembali memasuki komplek santriwati untuk melaksanakan tugasnya. Hamdani memasuki bilek lantai 2 tepatnya disebelah bilek Aisyah.
Aisyah buru-buru keluar dari bilek karena Zainab sedari tadi menunggunya dibawah. Aisyah hampir menabrak Hamdani.
"Maaf tgk,csaya gak sengaja." Aisyah gugup ia tidak berani untuk melihat Hamdani.
"Iya gak apa-apa. Sepertinya kamu sedang buru-buru. Memangnya mau kemana?"
Aisyah tak menyangka Hamdani menyapanya. Aisyah berpikir Hamdani tidak mau lagi berbicara dengannya setelah tahu semuanya ternyata dugaan Aisyah salah.
"Iya tgk. Saya lagi buru-buru. Zainab sedang menunggu saya dibawah." Aisyah tersenyum. Hamdani menggeser memberi jalan untuk Aisyah.
"Lain kali hati-hati. Jangan sampai menabrak orang." Aisyah merasa lega melihat Hamdani membalas senyumannya.
"Iya tgk. Sekali lagi saya minta maaf. Saya duluan." Aisyah berlalu dari hadapan Hamdani. Hamdani kembali melangkah. Aisyah mencoba melihat Hamdani sekali lagi sebelum ia masuk bilek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Calon Imam Untuk Aisyah(COMPLETED)
RomanceRank #1 Hilal 23Nov2019 #1 Shalehah 31Jan2020 #1 Aceh 13Apr2020 #9 Cobaan Jan2020 #3 Cintaislami 16Apr2020 Sitina Aisyah Humaira, gadis yang biasa dipanggil Aisyah ini memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke pesantren salafi setelah lulus dari S...
