Part 23

3.2K 180 7
                                    

Aisyah tiba di Lhokseumawe ba'da magrib. Setibanya dirumah Aisyah melihat pintu pagar terkunci. Ia mencoba memberi salam memanggil nama abang dan ibunya tapi tak ada jawaban.

"Lho, Aisyah!" terlihat seorang perempuan menghampiri Aisyah. Ia adalah tetangga Aisyah, Saudah.

"Kak Saudah." Aisyah bersalaman dengan Saudah.

"Bagaimana kabar kamu, Aisyah? Lama kamu gak pulang."

"Alhamdulillah baik kak."

"Kamu pulang sama siapa? Suami kamu mana?" Saudah heran melihat Aisyah seorang diri.

"Aisyah sendiri kak. Tgk lagi ada keperluan di Langsa. Mungkin besok lusa baru bisa nyusul." dusta Aisyah.

Saudah mangut-mangut mendengar penjelasan Aisyah.

"Ibu sama bang Yusuf mana ya, kak? Dari tadi gak ada yang jawab salam Aisyah." Ia melihat rumahnya dengan perasaan gelisah.

"Oya saya hampir lupa. Ibu sama abang kamu gak ada dirumah. Mereka ke Banda Aceh tadi pagi."

"Pantas saja gak ada yang jawab salam Aisyah dari tadi. Ke Banda Aceh  kak? Untuk apa?"

"Saya juga kurang tahu. Tapi sepertinya Yusuf bilang ibu kamu mau melihat kampung halamannya. Dia rindu lama gak berkunjung kesana. Memangnya kalian masih punya rumah disana?"

"Masih kak tapi disewakan."

"Oo, tunggu sebentar ya. Saya ambil kunci rumah kamu dulu. Ibu kamu menitipkannya sama saya tadi sebelum dia pergi. Hampir saja saya lupa." Saudah melangkah menuju rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Aisyah.

Tak lama kemudian Saudah kembali keluar menyerahkan kunci rumah pada Aisyah. Tanpa mengobrol lebih lama dengan Saudah, Aisyah pamit masuk untuk beristirahat.

Hilal duduk termenung seorang diri disudut mesjid. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Selama seminggu Hilal menetap disana.

"Nak," seorang laki-laki paruh baya memegang pundak Hilal. Ia tak lain adalah Ishak, marbot mesjid.

Hilal menoleh. Ishak duduk disamping Hilal.

"Bapak," penampilan Hilal tak terurus. Pakaiannya terlihat berantakan.

"Sudah seminggu kamu disini. Apa kamu tidak berencana untuk pulang? Bapak prihatin melihat kondisi kamu sekarang."

"Saya juga gak tahu pak. Apakah saya masih pantas untuk pulang kesana? Apakah istri saya mau memaafkan saya dan menerima saya kembali?"

Selama seminggu berada dimesjid Ishak lah yang menjadi teman Hilal. Hilal menceritakan semua kisah hidupnya kepada Ishak.

"Tidak ada orangtua yang membenci anaknya nak, pulang lah. Mereka pasti menunggumu dirumah. Apalagi istrimu. Dia pasti mau memaafkanmu."

Hilal terdiam, ia tak berkomentar.

"Pikirkan lah sekali lagi baik-baik, nak. Jangan sampai kamu menyesal untuk kedua kalinya. Buang jauh-jauh rasa egomu itu. Jangan biarkan setan berhasil menghasutmu. Dan saya yakin, kamu lebih mengerti tentang hal itu. Saya permisi dulu, assalamu'alaikum." Ishak menepuk-nepuk pundak Hilal sebelum beranjak pergi.

"Wa'alaikumsalam."

Hilal menatap kepergian Ishak seraya mencerna tiap-tiap kata yang dikatakan oleh Ishak padanya.

Hilal merogoh saku mengambil ponsel. Hilal kembali menyalakan ponselnya. Betapa terkejutnya ia saat membaca pesan dari Aisyah bahwa Daud masuk rumah sakit. Dengan terburu-buru Hilal berlari keluar mesjid mengambil sepeda motor menuju rumah.

Calon Imam Untuk Aisyah(COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang