"Aisyah, kamu gak boleh cengeng. Jangan berprasangka buruk dulu. Mungkin tgk Hilal punya alasan sendiri melakukan semua ini," Aisyah berdebat dengan perasaannya sendiri.
"Ayo, Aisyah. Kamu gadis yang kuat. Kamu pasti bisa." Aisyah menghela nafas sebelum bertanya.
"T-tgk, apa boleh Aisyah tahu apa alasan tgk?"
"Maaf, Aisyah saya gak bisa menceritakannya sekarang. Ingat, apapun yang terjadi kamu tetap harus menjaga rahasia ini dan usahakan gak ada yang tahu. Saya percaya sama kamu Aisyah."
Aisyah tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa pasrah dengan permintaan Hilal.
Hilal kembali menelpon Yusuf.
Tak lama kemudian Yusuf pun tiba. Awalnya Yusuf juga bingung kenapa mereka tidak bisa berangkat bersama namun Aisyah menjelaskannya sehingga Yusuf paham. Akan tetapi Aisyah tidak menceritakan tentang permintaan Hilal padanya.
"Aisyah, apa gak apa-apa abang yang nganterin kamu? Kamu kan sudah punya mahram baru, Tgk.Hilal suami kamu!" tanya Yusuf saat sepeda motor Yusuf mulai melaju.
"Kenapa emangnya? Abang kan juga mahram Aisyah."
"Tapikan sekarang beda Aisyah, Tgk.Hilal lebih afdhal, iya kan?"
"Sama aja bang. Gak ada yang lebih-lebih afdhal. Abang ini yang gak-gak aja!" Seperti biasa Aisyah membalas ucapan Yusuf dengan tersenyum.
"Tapi alhamdulillah juga ya sekarang kamu sudah punya mahram, nanti kalau abang perlu sama kamu, abang bisa telepon Tgk.Hilal."
Mendengar ucapan Yusuf, Aisyah bertambah sedih. Bertemu saja Hilal tidak mau apalagi berbicara dengan Yusuf diponselnya. Itu adalah hal yang mustahil.
"Iya bang," Aisyah tidak tega mematahkan harapan Yusuf. Sebisa mungkin Aisyah menutupi kesedihannya.
********
Jam 23.00 wib Hilal tiba di Samalanga. Hilal nampak begitu lelah, ia merebahkan tubuh diranjang. Hamdani yang melihat kedatangan Hilal bangkit dari tidur. Hamdani menghampiri Hilal.
"Katanya cuma sebentar tapi kok seminggu lebih," Hamdani mengajak Hilal berbicara.
"Biasa, kalau udah dirumah pasti ibu ngelarang aku balik cepat hehee,"
"Pasti seru bisa kumpul-kumpul sama keluarga,"
Hamdani nampak tak bersemangat.
"Kamu kenapa Ham? Kok lesu begitu?"
"Nyesal aku gak ikut kamu Lal. Selama kamu dirumah, Aisyah juga gak disini. Zainab bilang dia juga pulang kampung, malang benar nasibku."
Hamdani menompang dagu. Hilal diam, ia tidak berkata apa-apa.
"Kenapa kamu diam? Biasanya kamu pasti komentar, kamu kan suka ngeledekin aku,"
"Aku cape, mau istirahat dulu. Biar besok aku ngeledekin kamu Ham,"
Hilal berbalik membelakangi Hamdani dan ia memejamkan matanya.
Seminggu telah berlalu. Aisyah benar-benar tidak menceritakan kepada siapapun tentang dirinya dan Hilal.
**********
Meskipun bukan hari jum'at, hari ini Hilal kembali memasuki komplek santriwati bersama Hamdani karena ada yang harus diperbaiki.
"Aisyah, kawanin aku ke toilet yuk!" ajak Zainab, Aisyah mengangguk.
Setelah minta izin permisi mereka turun dari bale.
Aisyah dan Zainab bergegas menuju toilet. Saat dalam perjalanan tak sengaja mereka melihat Hilal dan Hamdani yang sedang duduk disalah satu bale kosong yang akan mereka lewati. Hamdani melihat kearah Aisyah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Calon Imam Untuk Aisyah(COMPLETED)
RomanceRank #1 Hilal 23Nov2019 #1 Shalehah 31Jan2020 #1 Aceh 13Apr2020 #9 Cobaan Jan2020 #3 Cintaislami 16Apr2020 Sitina Aisyah Humaira, gadis yang biasa dipanggil Aisyah ini memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke pesantren salafi setelah lulus dari S...