Jungkook memijat pelipisnya tak tenang. Jam menunjukan pukul 10 malam dan ia masih berada di ruang tamu penginapan. Matanya terus menatap kearah pintu penginapan berharap taehyung muncul disana dengan membawa kabar baik.
Wajahnya mengerut cemas dan khawatir, ia tak bisa memikirkan kemungkinan buruk lagi yang terjadi. Renjun sudah tertidur lebih awal, sampai telinga sensitifnya mendengar suara derap langkah taehyung yang berjalan lesu dengan wajah gelap dan datar.
Dengan sigap jungkook langsung menghampiri taehyung, lelaki itu hanya melengos dan mengabaikan wajah khawatir jungkook. Taehyung lebih memilih untuk mendudukan tubuh lelahnya pada sofa disana. Memijat dahinya lelah, menghela nafas berulang kali.
"Bagaimana keadaan ibu rose?" suara jungkook bergetar takut-takut. Ia masih berdiri mematung disamping taehyung.
"Bangkai pesawat belum ditemukan, semua masih dalam pencarian"
Jungkook menutup mulutnya yang terbuka lebar akibat shock. Dia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan rose sekarang mendengar kabar ini. Membayangkannya saja membuat matanya kini berkaca-kaca sedih.
"Lebih baik kau buatkan aku teh hijau"
Jungkook menatap wajah lelah taehyung yang kini terpejam. Menyandarkan kepalanya total pada sandaran sofa. Tanpa pikir panjang lagi, jungkook bergegas untuk membuatkan teh hijau untuk lelaki tan itu.
Meletakkan cangkir dengan ukiran bunga yang rumit, jungkook juga mendudukan tubuhnya di sofa samping taehyung. Menatap taehyung lagi yang kini sudah menyeruput teh hijau buatanya. Terdengar suara helaan lega yang dikeluarkan dari bibir tebal lelaki taehyung.
"M-mengapa tuan tidak menemani nyonya rose saja?"
"Sudah kubilang jangan memanggilnya nyonya"
"Tapi nyonya rose akan menjadi ibu dari R-renjun"
Taehyung menatap cepat manik mata jungkook. Perkataan jungkook barusan dirasanya sangat tidak benar, dia bahkan tidak ada niatan secuil pun untuk menjadikan rose sebagai ibu dari Renjun.
"Siapa yang memberitahumu?" taehyung berkata dengan suara dalam. Begitu menyeramkan dan jungkook total ciut sekarang.
"A-aku, b-bukankah kalian memiliki hubungan?" setelah mengatakan kata-katanya dengan ragu, jungkook menunduk dalam. Meremas sweeter kuning setengah pahanya cemas. Menajamkan kupingnya mendengarkan kalimat selanjutnya yang akan taehyung katakan.
"Kau terlalu mencampuri urusanku"
Jungkook total bungkam sekarang.
Kemudian keadaan hening, sedikit sakit hati mendengar perkataan taehyung tadi namun membenarkannya juga.
Taehyung menyadari perubahan wajah jungkook yang kini terlihat muram setelah perkataannya tadi, kemudian ia mencondongkan tubuhnya dan menatap lebih dekat pemuda yang berada disampingnya itu.
"Dengar, tidak ada yang bisa menjadi atau menggantikan ibu renjun kecuali memang dirimu sendiri"
••••
Lelaki bergigi kelinci itu menunduk dalam, sesekali mencuri pandang kearah taehyung yang kini sangat tampan saat menyetir. Mereka memutuskan mencari makan karena didalam penginapan tidak ada persediaan bahan makanan. Wajahnya masih sesekali memerah saat otaknya mengulang kembali perkataan taehyung tadi.
Taehyung berkata tak ada yang bisa menggantikan dirinya sebagai ibu dari Renjun. Bukankah berarti taehyung mengakui bahwa dirinyalah ibu dari Renjun?
Wajahnya memerah lagi, astaga jungkook belum pernah mendapatkan perlakuan semanis ini dari taehyung. Baginya ini sangat manis dan berkesan. Sepertinya perlahan taehyung mulai melihat keberadaanya dihidup lelaki itu. Bolehkan jungkook berharap lebih?

KAMU SEDANG MEMBACA
I wish•tk-end
Teen Fictionhubungan mereka itu rumit. ◾️ berdoa saja, semoga taehyung diberi kesadaran akan perasaanya pada jungkook sebelum terlambat. ◾️