gagal

8.2K 946 29
                                        

Jungkook sudah tersadar sejak semalam. Matanya tak berani menatap kearah taehyung yang memang sejak tadi menatapnya, duduk tenang di sofa single dekat jendela besar yang menampilkan pemandangam asing dimatanya. Mereka belum mengeluarkan sepatah katapun dan tak ada niat untuk memulai percakapan dari keduanya. Hati jungkook berdegup gelisah, tenggorokannya terasa kering karena tak terlewati apapun sejak ia siuman semalam. Ditambah lagi perutnya yang terkadang masih mual.

Dengan keberanian yang sedikit, jungkook memilih untuk bergerak sendiri dan menggapai sebuah gelas bening berisi air putih dengan tangan yang gemetar. Jarak antara almari kecil dengan ranjangnya tak terlalu jauh namun terlihat sulit sekali digapai. Jungkook sedikit mencondongkan lagi tubuhnya, sedikit lagi saja tangannya sampai menggapai gelas tersebut, taehyung sudah lebuh dulu mengambilnya dan memberikannya tanpa susah payah.

Gelas itu kini berada didepannya, jungkook menatapnya sebentar. Setelah itu mengambil sambil bergumam terimakasih dengan sangat pelan. Bahkan taehyung hampir saja tidak mendengarnya.

"jika kau butuh apapun, katakan padaku. Aku masih disini dan masih bisa membantumu,"

Jungkook mengangguk pelan, gelas masih saja berada dibelah bibir pink-nya. Dan taehyung kini berdiri disamping ranjang rumah sakit. Bersedekap dada dan menatapnya tambah intens.

"jungkook, mengapa kau menyembunyikan semua ini dariku?" suara taehyung terdengar sangat pelan dan lirih. Terselip nada kecewa disana, jungkook hanya bisa menunduk dalam dan meremat gelas yang ia genggam dipangkuanya.

Pemuda manis itu memilih tidak menjawab. Mengalihkan pandangannya pada luar jendela yang menampilkan suasana gelap akan turun hujan.

"apa kau tidak menginginkan anak dariku lagi? Kau sengaja tak memberitahuku?"

Jungkook tetap bungkam. Air matanya turun perlahan tanpa ia sadari.

"jungkook jawab aku, kau ingin membunuh darah dagingku?"










"aku sama sekali tidak berfikir untuk membunuhnya, tae" kini mata mereka beradu. Mata berair jungkook menatap mata sendu taehyung.

Taehyung mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar lemah melihat air mata jungkook. Ia ingin marah karena jungkook sudah membahayakan dirinya dan juga calon anak mereka.

"tapi kau menyembunyikan semuanya, kau membahayakan dirimu sendiri dan calon anakku! Apa aku salah jika berfikir bahwa kau tidak menginginkannya?"

Jungkook mengelap air matanya yang semakin deras menghias wajahnya yang masih pucat.

"aku hanya takut kau tidak akan menerimanya, aku takut semua ini hanya akan memperkeruh keadaan. Kita baru saja memulai semuanya, ditambah dengan Renjun yang membenciku. Aku takut, tae...hiks—"


Jungkook mendongak, menatap telak taehyung yang kini menunduk. Mengusap tengkuknya frustasi.

"aku belum bisa menjadi orangtua yang baik, aku begitu buruk..." jungkook melanjutkan dengan gumaman miris.

Taehyung terdiam. Menatap kebawah dimana sepatunya yang terlihat mengkilat memantulkan bayangan wajahnya buram. Benar, ia orangtua yang buruk.









Jungkook terus saja mengusap wajahnya yang basah dengan kasar. Ia belum bisa menjadi orangtua yang baik dan sekarang tuhan malah menitipkan buah hati lagi padanya. Bagaimana jika Renjun tak suka? Ia harus bagaimana?

Taehyung maju, memegang bahu sempit itu dan mengarahkan tubuh ringkih jungkook kehadapanya. Membawa mata mereka bertemu dan bertatapan, saling menyalurkan perasaan takut satu sama lain.

I wish•tk-endCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang