Jungkook menatap suasana sore hari dari apartemenya. Duduk manis dengan buku bacaanya yang terbuka diatas pangkuanya. Ia baru saja mempelajari tentang ilmu ekonomi, namun kini pikiranya malah melayang pada kejadian 3hari lalu. Dimana taehyung langsung pergi setelah ia mengatakan emosinya saat itu. Apa ia begitu keterlaluan?
Dan Renjun, ia sangat merindukan bocah polos itu. Jungkook menunduk, menatap buku tebal berisi ribuan kata itu dengan minat berkurang. Akhir-akhir ini ia memang jadi lebih sering memakai waktu luangnya untuk membaca dan belajar secara otodidak serta instingnya sendiri. Bagaimana ia bisa membaca? Berterima kasihlah pada ibu taehyung yang pernah mengajarkanya bagaimana cara mengeja kata dan merangkainya.
Tentang ibu taehyung, wanita yang tegas dan mandiri. Jungkook tau bahwa taehyung tidak memiliki seorang ayah. Ibunya adalah orang tua tunggal. Ia tak tau pasti kemana ayah taehyung berada, tapi ia yakin bahwa ayah taehyung lah yang menjadi alasan mengapa lelaki itu sangat membenci sebuah pernikahan.
Terdengar suara rintihan kencang dari luar kamarnya, kepalanya menoleh cepat kearah pintu kamar yang sedikit terbuka. Ada seseorang yang masuk ke apartemenya. Dengan cepat, kaki yang berbalut kaus kaki bergaris ungu itu melangkah menghampiri suara rintihan tadi dan menemukan taehyung terduduk dengan wajah yang sangat berantakan dan babak belur.
Menatap kearahnya dengan ekspresi kesakitan yang ditahan, tangan besar itu berusaha memegang dadanya yang terkena sayatan pisau tajam memanjang. Jungkook berani bersumpah bahwa sekarang tubuhnya bergetar hebat melihat pemandangan itu. Air mata yang tidak siap tertampung itu akhirnya lolos. Berteriak panik dan mencoba membawa kepala tampan taehyung pada pangkuanya.
"tuan, astaga apa yang terjadi-hiks,"
Jungkook gelagapan. Taehyung terlihat ingin mengatakan sesuatu namun tertahan oleh rasa perih yang dirasakan didaerah luka sayatan. Kemeja hijau terang itu terlihat bernoda pekat oleh darah. Bahkan tangan putih jungkook juga terkotori sekarang.
"dokter, ya dokter"
Gumaman panik itu terdengar, jungkook menaruh kembali kepala taehyung pada karpet dibawah sofa lalu berlari kecil menuju nakas samping televisi. Menelpon seorang dokter atau apapun yang bisa menolongnya untuk membantu taehyung.
Jungkook mengelap air matanya kasar, lantas bibir pink nya itu berucap dengan bergetar,
"tolong, datang-hiks kesini secepatnya. Ada seseorang yang butuh pertolonganmu, kumohon"
'tenanglah, dimana alamat nya? Kami akan segera kesana'
"sebuah apartemen. Dijalan..... "
Jungkook tertidur sesaat setelah sang dokter pergi memeriksa keadaan taehyung. Dengan posisi yang sangat tidak enak, ia manaruh kepalanya diatas kasur sementara tubuhnya terduduk diatas karpet kamar taehyung. Menjaga taehyung yang terbaring dengan banyak lilitan perban menghiasi dada bidang dan lengan kirinya.
Sejak ia sadar, ia hanya memandang wajah lugu jungkook yang berada dibawahnya. Wajah manis lelaki yang sedang tertidur itu membuatnya sedikit tercubit, ada sebuah perasaan asing yang ia rasakan dihatinya. Perasaan rumit yang tanpa sadar sudah hinggap sangat lama pada jungkook. Namun ia selalu saja mengacuhkan dan bersikap tidak perduli akan hal itu.
Jungkook melenguh tak nyaman. Lehernya pegal sekali, ia berniat akan merenggangkan tubuhnya, saat matanya sedikit melirik kearah taehyung ia menemukan lelaki itu sedang menatapnya tajam seperti biasa. Mata bulat itu melebar sepenuhnya, ia kaget melihat taehyung yang kini sudah dalam posisi setengah duduk itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
I wish•tk-end
Dla nastolatkówhubungan mereka itu rumit. ◾️ berdoa saja, semoga taehyung diberi kesadaran akan perasaanya pada jungkook sebelum terlambat. ◾️
