Hera mengetuk ngetuk meja dengan jemarinya, rasa gelisah kembali menghampirinya. Bukan, bukan karena Hera hari ini menjatuhkan ponsel seseorang. Itu tidak masalah bagi Hera, Hera bisa dengan mudah menggantinya. Lagi pula uang yang diberikan Jimin itu terlalu banyak, padahal Hera sudah minta untuk dikurangkan namun jimin memaksa.
Kedua maniknya berpindah fokus dari arah jarum jam yang berdetak di dinding serta melihat handphone yang berada di genggaman tangannya. Benar benar gatal ingin membuka layar kunci lalu mencari nomor Jimin dan bertanya dimana ia berada sekarang.
Hera juga sebenarnya tidak terlalu mengerti, maksudnya bukannya mereka hanya menikah karena kehendak kedua orang tua mereka? Bahkan mereka pun tau bahwa mereka tidak mencintai satu sama lain. Jimin hanya memperlakukan Hera dengan baik, selebihnya tidak ada maksud apa apa. Bahkan dalam keadaan 1 ranjang pun tidak ada sedikitpun skinship yang terjadi diantara mereka.
Tidak bisa menebak bagaimana sosok Jimin, jimin itu bisa dengan mudah memberi perhatian perhatian kecil layaknya mereka memang mengharuskan peduli satu sama lain. Padahal yang kita tahu, hati Jimin sama sekali tidak ada untuk Hera, rasanya membeku. Tak bisa Dicairkan, yang ia rasakan hanya perasaan kesal namun juga bersalah. Belom lagi berfikir bagaimana caranya agar Kim Hana bisa kembali lagi kedalam dekapannya. Hana seperti meracuni sel sel otak Jimin, atau bahkan jimin yang membuatnya seakan akan Hana yang membuatnya seperti ini?
Kim Hana,perempuan yang bisa memberi kehangatan bagi sosok Park Jimin, jika diibaratkan dengan kertas seperti layaknya Hana mengisi dengan menulis berbagai ribu kenangan dan juga kasih sayang yang diberikan, namun Kim Hana lah yang juga menghancurkan hati Jimin layaknya kertas yang sudah tak terpakai. Tidak dihapus,namun seperti dirusak paksa meskipun disitu masih tertera jelas kenangan kenangan manis yang mengisi hari hari Jimin.
Bodoh memang jika Jimin beranggap bahwa dengan ia memegang kendali sebuah perusahaan agar jatuh ke tangannya, Hana kembali lagi kepadanya. Padahal jelas saja itu salah. Hana sama sekali tidak gila dengan uang ataupun kekuasaan. Jimin tidak pernah tahu alasan Hana meninggalkan Jimin,mungkin terdengar klise atau bahkan Hana terlihat begitu murah jika memang Jimin berfikir seperti itu. Nyatanya Hana tidak pernah meninggalkan Jimin selama ia menjadi actress meskipun itu hanya di awal, mungkin pemikiran Jimin memang sebodoh dan sekonyol itu. Maka dari itu kenapa ia menerima perjodohan ini, Jimin ingat jelas bahwa jika ingin memegang kendali penuh perusahaan Ayahnya salah satu syaratnya ialah Jimin harus menikah.
Tak tahu jelas, yang Jimin tahu Ayahnya tidak hanya ingin Jimin menjadi serakah ataupun lalai dalam mengurus perusahaannya. Setidaknya jika Jimin menikah, Jimin mempunyai tanggung jawab untuk keluarganya kelak atau bahkan anak anaknya. Di sisi lain memang kedua orang tua Jimin memang sudah mengenal kedua orang tau Hera. Dan merencanakan perjodohan ini sebelum Ayah dari Hera meninggal dunia.
Apa yang terjadi sebenarnya? Apa Hera secara tak sadar sudah benar benar tertarik oleh Jimin? Hera itu wanita yang bahkan sulit untuk jatuh cinta, tapi Hera itu tidak pandai berbohong. Hera mengakui bahwa Jimin itu mempunyai ciri khasnya sendiri, terkesan tampan namun juga terlihat sexy secara bersamaan.
Hera mengingat detail bagaimana mereka saling melontarkan keinginan dan masing masing keuntungan yang mereka dapat. Hera tidak lupa, mungkin jika dibilang salah memang Hera merasa bersalah karena tentu saja Hera secara tak langsung ingin merubah sedikit kesepakatan dari yang mereka buat.
Mendengar suara mobil yang tak asing lagi membuat Hera berlari kecil sambil mengintip dibalik jendela besar yang tertutup oleh hordeng, Berharap yang ia tunggu akan segera datang dan benar saja itu Jimin. Pulang dengan masih berpakaian kantor kemarin, dengan wajah yang terbilang kusut. Layaknya orang yang mempunyai banyak beban.
KAMU SEDANG MEMBACA
REGRET✅
FanfictionI still believe even though it's unbelievable: to lose your path is the way to find that path. --lost
