Part ini gak panjang, terhitung pendek malah. Jujur udah ngantuk banget smpe ketiduran trs, tapi aku usahain untuk update ini huhu. Semoga suka ya, maaf msh bnyk bgt kekurangan hehselamat membaca💜
Park Jimin
Pagi ini adalah pagi terburuk yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku bahkan seperti tidak bisa bernafas layaknya orang lain, sungguh menyesakkan, pagi ini adalah pagi yang sama sekali tidak pernah aku harapkan.
Aku disampingnya, Hera. Iya istri kesayanganku. Aku malu, karena aku satu satunya penyebab semua ini terjadi. Aku benar benar merasa tidak pantas hidup jika hanya membuat semua orang sedih dan kecewa karenaku.
Semua orang menggunakan pakaian serba hitam, mengucapkan belasungkawa saat pemakaman Ibu mertuaku yang baru saja menghembuskan nafas terakhir pada siang kemarin. Hera terus mengeluarkan air matanya begitupun aku, kau tahu bukan bagaimana rasanya ketika melihat orang yang kau sayang harus nangis karenamu?
Disaat aku sudah kembali membangun kepercayaan pada istriku sendiri, dan juga memulai untuk hidup sebagai keluarga kecil yang manis namun lagi lagi semesta seakan akan kembali mengujiku. Mungkin lebih tepatnya menguji kami berdua.
Hera sama sekali belum berbicara padaku sejak kemarin, hatiku sakit, ditambah ke gua orang tuaku membenciku. Hanya saja Hera masih berusaha tersenyum ketika aku tanya meskipun ia tidak memjawab sepatah katapun.
Ya Tuhan, kenapa aku baru menyadari jika ternyata aku mempunyai istri yang bahkan aku bisa bilang 'hampir sempurna' seperti dirinya? Hera memang sama sekali tidak berbicara padaku, tapi sejak tadi pagi lengan mungilnya itu terus setia menggandeng lenganku. Aku tahu maksudnya, ia hanya membutuhkanku di sisinya.
Tidak hanya dengan Hera dan orang tuaku. Aku bahkan benar benar malu dan menyesal kepada 1 orang yang sekarang bisa ku sebat 'teman', Kim Taehyung namanya. Orang yang sejak dulu selalu ku benci. Jujur saja, aku benar benar tidak tahu bagaimana caranya berterimakasih padanya dengan sangat pantas selain hanya mengucapkan kata 'terimakasih' ataupun memberinya imbalan berupa barang mewah.
Mungkin jika bukan karenanya, aku sudah benar benar tidak waras saat itu. Pria itu, yang bahkan awalnya ku tidak kenal kini menjadi sosok pria yang menjadi panutanku. Selama aku kehilangan Hera saat itu, ia sering sekali menjengukku meskipun hanya seorang diri. Menceritakan banyak hal juga memberi beberapa masukan yang saat itu aku sengaja acuhkan. Namun secara tak sadar, ucapan Taehyung diam diam dapat mengetuk pintu hatiku dan otakku secara bersamaan.
Karena Taehyung nyaris hampir kehilangan nyawanya sama sepertiku, maka dari itu Taehyung sangat paham dengan kondisiku saat itu. Aku memang membutuhkan konsultasi dari seorang psikolog yang seharusnya memeriksaku, mengontrolku dan memberikanku obat obat penenang. Tapi aku bersyukur pada diriku sendiri bahwa setidaknya aku bisa melawan itu semua sendiri dan hanya dengan bantuan Taehyung.
Namun bukan diriku lah yang saat ini aku fikirkan, aku sama sekali tidak peduli pada diriku sendiri. Yang aku ingin hanya melihat senyum Hera lagi tanpa adanya air mata yang membasahi pipinya. Aku tidak bisa melarangnya untuk menangis karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang disayang, sama sepertiku saat itu ketika Hera pergi meninggalkanku.
"Ra, makan ya? aku akan buatkan makanan untukmu. Kau mau makan apa hm?" tanyaku dengan lembut, sambil menatap matanya dengan intens. Sengaja rambut kecilnya aku selipkan di belakang telinganya.
Hera masih belum menjawab, bahkan sejak tadi Hera belum mengganti pakaiannya.
Aku tahu, Hera masih sangat terkejut. Bukan berarti aku tidak merasa kehilangan, Ibu Hera adalah mertuaku yang paling baik. Aku pun merasa bersalah karena aku pernah memperlakukan anak perempuan satu satunya dengan tidak baik, bahkan bisa dibilang keterlaluan. Aku tahu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
REGRET✅
FanfictionI still believe even though it's unbelievable: to lose your path is the way to find that path. --lost
