Happy reading semua.
Pada nungguin ya.
Terima kasih teruntuk kalian yang masih baca cerita abal-abal Dedel ini sampai part ini.
🍁🍁🍁🍁
Impian itu tidak bisa dihentikan. Makanya itu harus dikejar sampai tercapainya sebuah keberhasilan.
🍁🍁🍁🍁
~~°~~
"Gue yakin banget. Bahwa ini semua disengaja."
Gitar telah menceritakan semuanya kepada teman-temannya tentang hal yang dialaminya. Mobil bocor di tengah jalan karena tertancap paku memang tak masuk akal. Pasti semua ini disengaja oleh seseorang. Mereka mengetahui, bahwa Gitar datang tidak dengan rombongan Axellez yang lain.
"Sabar ya, Gi. Kita gak tahu kalau kejadiannya kaya gini. Harusnya tadi kita samperin ke rumah lo. Gak datang duluan ke sini." Marvel menyesal.
Gitar menangkap raut kekecewaan dari wajah sahabatnya. "Jangan sesali apa yang terjadi, Vel. Gue gak kenapa-napa kok. Nama baik Axellez dan sekolah kita juga gak jadi tercemar."
"Ini semua berkat Melody. Kalo aja, dia gak naik di atas panggung, uh... gue gak bisa mikirin betapa malunya kita. Mau tampil apa kita di sana." Tristan mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. "Apalagi di sana ada Yasa dan band-nya. Bisa kalah telak."
"Eh tapi... gue bingung deh. Tuh cewek kok bisa hafal lagu kita ya? Itu ciptaan yang rahasia loh, cuma Axellez dan kak Kaiden yang tau. Kenapa dia fasih banget nyanyinya?" tanya Derby bingung. Dia masih curiga terhadap gadis itu.
"Iya sih. Gue juga lagi mikirin itu," sahut Milo.
"Oh iya, Gitar. Waktu itu lo bilang lirik lagu yang ada di elo ilang, kan?" Tristan mengingatkan. "Itu udah ketemu belum?"
"Iya gue ingat. Dan sampai sekarang kertasnya belum ketemu. Gue curiga, jangan-jangan... Melody yang ngambil lagi." Pikiran Gitar tertuju pada arah itu. "Atau dia ikut campur dalam rencana itu? Dia ikut tim Yasa."
"Gak mungkin!" sangah Marvel. "Melody itu gadis baik. Dia gak mungkin ikut andil dalam rencananya Yasa untuk menghancurkan Axellez. Lagipula... jika dia tim Yasa, mana mungkin dia membantu Axellez dengan menyumbangkan suara merdunya di panggung."
"Kenapa lo seyakin itu sama dia, Vel?" tanya Derby. "Oh gue tau... jangan-jangan lo suka ya sama cewek itu? Gue pernah liat, lo beberapa kali deket sama dia."
"Bisa gak sih, lo jadi orang jangan nething? Gue suka sama Melody atau enggak itu bukan urusan lo." Marvel menghardik. "Emangnya si Melody kenal sama Yasa? Enggak mungkin juga, kan? Orang dia sama vokalis band sekolah sendiri aja acuh tak acuh. Apalagi vokalis band sekolah lain?"
Pernyataan Marvel itu ada benarnya juga. Melody saja pada Gitar sikapnya seperti itu. Mana mungkin dia dengan senang hati membantu vokalis band sekolah lain dan ingin membawa nama baik sekolahnya tercemar? Sepertinya Melody cukup waras untuk hal itu.
Gitar membatin. Wait? Berarti itu sama aja Marvel mengata-ngatai gue dong? Gara-gara Melody nih.
"Udah. Jangan berdebat." Milo melerai perselisihan yang ada. "Mendingan setelah acara selesai, kita tanya Melody apa yang sebenarnya terjadi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Is Music
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Gitar Exel Julian, merupakan vokalis dari Axellez, band terkenal di sekolahnya. prestasi-prestasinya telah diketahui orang-orang sekitar. Bahkan band yang dia bangun melalui ekstrakulikuler sekolahnya kini telah terkenal di...
