Part 17 - Dia berbeda

1.1K 121 60
                                        

Happy reading readers ku.
Part ini lanjutan part kemaren yang ngegantung.

                   ~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Nyatanya, kita ini adalah orang asing yang bertemu, untuk saling membantu.

                    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~

                           🍁🍁🍁


Daripada menganggur ketika sedang free, kelima anggota Axellez itu memilih bermain basket di lapangan. Mereka melawan anak IPS seangkatan mereka.

Axellez sudah tiga kali memasukkan bola ke dalam ring lawan. Senyum kemenangan tercetak jelas di wajah mereka. Namun pertandingan masih belum usai. Masih ada dua babak lagi. Di babak kedua ini, Axellez dibuat sedikit kecewa. Rupanya tim lawan berhasil mencetak gol ke ring miliknya. Tapi itu tak masalah, selisih skor mereka masih dua.

Gitar menerima bola yang di lempar Marvel secara chess pas. Kini cowok itu memantul-mantulkan bola ke lantai sembari berjalan terus menghindari lawan yang mengalanginya. Cowok itu melempar bola secara over hand pass. Namun sialnya bola tersebut malah keluar lapangan.

Sial. Gitar mengupat dalam hati.

"Aw."

Mendengar suara pekikan itu, Gitar maupun orang yang berada di lapangan lainnya menoleh ke sumber suara. Dilihatnya seorang gadis berambut sepunggung memegangi kepalanya yang baru saja terkena lemparan bola.

"Eh, itu bolanya kena ke orang tuh," ucap Milo sembari menunjuk gadis yang masih mengelus-elus kepalanya sendiri menggunakan telapak tangan.

"Bukan gue yang ngelempar lho?" ucap salah satu anggota tim lawan Axellez. Kalimat tersebut ditunjukkan seolah dia menyalahkan Gitar dalam hal ini.

Gitar merasa tak enak hati atas kesalahannya baru saja. Sepertinya bola yang ia lempar terlalu keras sehingga membuat gadis itu memekik kesakitan. Cowok berseragam basket nomor punggung sepuluh itu menghampiri gadis yang masih memegangi kepalanya.

"Lo gapapa?"

Gadis yang memegangi kepalanya itu reflek mendongak, mendengar suara Gitar yang khawatir padanya.

"Elo?!"

Keduanya berteriak bersama. Rupanya gadis yang terkena lemparan bola basket oleh Gitar adalah Melody.

"Oh jadi lo ya yang nglempar gue pakek bola? Jahat banget sih." Melody sungguh kesal.

"Gak sengaja." Cowok itu mengambil bola yang berada di samping tubuh Melody. Jemarinya mengelus-ngelus lembut bola tersebut. "Untung aja bolanya gak papa."

"Heh! Yang kena bola tuh kepala gue. Kenapa lo malah khawatir sama bolanya?"

Dari pertanyaan yang tercetus dari mulut Melody, Gitar menyimpulkan bahwa seharusnya dia khawatir terhadap gadis itu. "Emang lo siapa gue sampai gue harus khawatir sama lo?"

Melody diam membisu. Mereka memang tidak punya hubungan apa-apa. Kawan tidak. Dibilang musuh juga tidak. Hubungan mereka tak lebih dari adik kelas dan kakak kelas.

"Tapi yang kena itu kepala gue yang baru sembuh dari luka jatuh di toilet." Gadis itu memberi jawaban lain. Daripada dia harus menjawab pertanyaan tidak penting dari Gitar, mendingan mengatakan apa yang menjadi masalahnya sekarang.

"Dasar lemah."

"Apa lo bilang?!" Gumaman Gitar mungkin memang lirih. Namun Melody mempunyai indra pendengaran yang cukup tajam. Sehingga dia dapat mendengar sindiran Gitar untuknya. Sungguh dia tidak terima ketika Gitar menyebutnya lemah.

Love Is Music Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang